Bagaimana Gus Dur Mengenalkan Gus Mus kepada Kaum Seniman?

Rijal Mumazziq Z

Rumah Almarhum Kiai Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh dan rumah Gus Mus tidak bisa dibilang jauh. Daerahnya bersebalahan. Kiai Sahal di Pati. Sementara Gus Mus di Rembang. Tapi yang membuat dua kiai hebat ini bertemu, berkenalan lalu menjadi karibnya, adalah Gus Dur, seorang yang tinggalnya lumayan jauh dari Pantura. Bagaimana Gus Dur mengenalkan Kiai Sahal dan Gus Mus?

Lewat sebuah “proyek” terjemahan: Ensiklopedia Ijma karya Sa’di Abu Habib. Ya, Gus Dur mempertemukan kedua lewat proyek ilmu, bukan proyek membuat jembatan. Nah, Gus Dur sendiri mengenalkan Kiai Sahal ke khalayak luas dengan mengulas lewat tulisan perspektif fikih, bagaimana Gus Dur mengenalkan Gus Mus?

Di antara salah satu kelebihan Gus Dur adalah bisa melihat talenta tersembunyi kawan-kawannya. Gus Mus alias KH. Mustofa Bisri merasakannya. Gus Dur tahu jika sahabat karibnya tersebut punya bakat di bidang sastra. Maka ketika menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta di era 1980-an, dan saat itu konflik Palestina-Israel membara, Gus Dur menyelenggarakan acara “Malam Solidaritas untuk Palestina” 1982.

“Saya diminta Gus Dur untuk membaca puisi di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Padahal saya hanya orang desa dan santri sarungan yang tak mengerti sastra dan puisi kok diminta tampil di Ibu Kota,” kata Gus Mus dikutip dari buku Gus Dur Dalam Obrolan Gus Mus karya KH. Husein Muhammad (2015).

“Rakyat Palestina sedang berjuang mati-matian untuk merebut kembali tanah air mereka yang dicaplok Israel. Mereka adalah bangsa yang tertindas dan terusir dari tempat kelahiran mereka sendiri. Para pengurus sepakat atas gagasan ini. Lalu, Gus Dur mengusulkan agar acara itu diisi dengan pembacaan puisi-puisi karya penyair Palestina. Beberapa di antaranya adalah Nizar Qabbani, Mahmud Darwisy, dan lain-lain,” kenang Gus Mus.

Baca Juga:  Kiai Wahab Chasbullah, Negosiator Penuh Humor

Akhirnya, acara tersebut digelar. Isinya antara lain parade pembacaan puisi karya penyair masyhur Palestina. Banyak penyair terkemuka yang ikut ambil bagian dalam acara itu seperti Taufik Ismail, Subagyo Sastrowardoyo, WS Rendra, hingga D. Zamawi Imroan. Sayang sekali, dari berbagai penyair, tak ada satu pun yang bisa membacakan puisi dalam bahasa Arab.

Tak kehilangan akal, Gus Dur menelepon Gus Mus, memintanya hadir. “Gus Dur menelepon dan meminta saya membaca puisi dalam bahasa Arab di arena bergengsi itu. Eh, saya malah bingung lagi. Apa yang akan saya bacakan?” kata Gus Mus.

Meski grogi, namun penampilan Gus Mus dalam acara tersebut mendapatkan apresiasi. Dengan cepat, Gus Mus juga banyak belajar dari para penyair lain. Semenjak itulah kiai asal Rembang semakin moncer berkarya. Puisi-puisinya, yang menyentil dan mengkritik sana-sini, kondang dengan istilah “Puisi Balsem”. Seperti balsem, terasa panas, tapi menyembuhkan.

Dalam Puisi Balsem ini, Gus Mus tak hanya mengkritik kepongahan kekuasaan, melainkan juga mencerca egoisme manusia, termasuk pula dengan jenaka mengajak pendengar puisinya menertawakan diri sendiri.

Baca juga:

Baca Juga

Ketika eskalasi konflik Palestina-Israel kembali membara beberapa tahun terakhir, Gus Mus menggelat acara “Doa untuk Palestina” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Agustus 2017. Sebuah pagelaran yang mengingatkan pada kiprahnya sebagai penyair “pemula” di lokasi yang sama, 35 tahun sebelumnya.

Bagi saya, cara Gus Dur melambungkan nama Gus Mus, sekaligus melemparkan beliau dalam jagat sastra cukup unik. Sebagai seorang cendekiawan yang mulai naik daun, salah seorang petinggi PBNU sekaligus menjabat sebagai Ketua DKJ, Gus Dur mendapatkan protes para kiai NU. “Kiai kok merangkap ketua ludruk,” demikian di antara ledekan yang terdengar.

Baca Juga:  Soekarno di Sukamiskin, dari Rajin Baca Alquran hingga Tahajud

Toh, sebagaimana biasa, Gus Dur tak peduli. Dia memilih menggerakkan para sastrawan menyuarakan kebenaran dan memberi ruang berekspresi. Malam Solidaritas Palestina itulah di antara idenya sebagai Ketua DKJ. Pada malam itu pula, Gus Dur memaksa sahabat karibnya berposes sebagai seorang penyair.

Kita pantas bersyukur dengan “pemaksaan” yang dilakukan Gus Dur kepada Gus Mus. Inilah cara Gus Dur mendorong pemilik talenta mengekspresikan bakatnya. Dan, kita tahu, itu berhasil!

Lihat Komentar (0)

Komentari