Sedang Membaca
Nasihat Umar Bin Khaththab untuk Para Jomblo
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Nasihat Umar Bin Khaththab untuk Para Jomblo

Nur Hasan

Malam berganti siang, siang berganti malam. Hari demi hari silih berganti, waktu terus berputar, umur semakin bertambah namun para jomblo masih setia dalam penantian jodoh yang tak kunjung datang. Mungkin saja karena terlalu lama dalam sebuah penantian, banyak orang menjadi lebih nyaman dengan status kejombloannya.

Khalifah Umar bin Khaththab mempunyai nasihat untuk para jomblo yang tak kunjung menikah, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hazm dalam kitab Al-Muhalla, beliau mengatakan:

Tidak ada yang menghalangimu menikah, kecuali kelemahan dan kemaksiatan”.

Khalifah Umar bin Khaththab melalui perkataan tersebut memaparkan bagaimana beratnya ujian orang yang lama menyendiri (menjomblo), karena di situ akan muncul berbagai godaan kemaksiatan dan sebagainya.

Begitu juga dengan hakikat diciptakannya manusia adalah berpasang-pasangan. Karena itulah, terlalu lama menyendiri bagi sebagian orang menjadi ujian yang berat,  mereka hakikatnya makhluk yang berpasang-pasang yang butuh sandaran untuk berbagi pengalaman dan menjalani kehidupan.

Khalifah Umar juga menjelaskan, ketika terdapat banyak kesempatan menikah yang menghampiri dan menyapa melalui kode-kode yang dikirim oleh sang Ilahi lewat diri manusia. Akan tetapi seseorang tidak menyambutnya dengan segera, sesungguhnya ada bahaya besar yang sedang menunggu di kemudian hari.

Karena ketika seseorang enggan menikah, padahal mampu secara fisik, pikiran, dan rohani, maka ia sedang berada dalam bahaya. Dalam Islam, mencegah bahaya lebih utama daripada menarik kemanfaatan, sebagaimana kaidah Ushul Fiqh “Dar’ul Mafasid Muqoddamun ala Jalbul Masholih”.

Baca juga:  Nasihat Imam Abu Hanifah untuk Para Jomblo yang Ingin Menikah

Menikah merupakan bagian dari tujuan disyariatkannya Islam (Maqasid Syariah), di mana inti utama dalam Maqasid Syariah adalah membawa atau memunculkan maslahah. Menikah masuk dalam cakupan menjaga keturunan (hifdzun nasl).

Ketika seorang jomblo berkualitas menikah, maka dia akan turut andil dalam menjaga dan melaksanakan tujuan Syariat Islam yaitu menjaga keturunan.

Ketika manusia-manusia berkualitas menjalankan perintah agama yaitu menikah, maka akan melahirkan sebuah maslahah yaitu banyaknya manusia-manusia yang akan menjadi cikal bakal manusia yang berkualitas, karena lahir dari sosok yang berkualitas. Walaupun teori ini tidak 100% benar.

Cukup ulama-ulama di zaman dahulu yang tidak menikah, karena sibuk mendedikasikan diri untuk belajar, berkarya dan mengabdi untuk agama. Kita manusia-manusia yang hidup di era modern, dengan kecanggihan tekhnologi dan sebagainya, seharusnya menjalankan apa yang ada dalam tujuan syariat (Maqasid Syariah) sebagai bentuk kontekstualisasi dalam beragama.

Jika ulama dulu tidak menikah karena sibuk berkarya, maka kita harus lebih keren dari itu, yaitu tetap berkarya tanpa lupa urusan nikah dan cinta.

Baca Juga

Oleh karena itulah jangan terlalu lama menyendiri. Status kejombloan atau kesendirian yang sangat lama tidak dianjurkan dalam Islam, apalagi sampai memutuskan untuk tidak menikah. Nabi saja menikah, masak umatnya tidak menikah.

Ketika kita telah berhasil melaksanakan nasihat dari Imam Abu Hanifah (baca Artikel; Nasihat Imam Abu Hanifah Untuk Para Jomblo Yang Ingin Menikah), maka sudah selayaknya kita mempraktikkan apa yang ada dalam nasihat tersebut, dengan menyempurnakan separuh dari agama yaitu itu menikah. Hal ini selaras dengan nasihat Khalifah Umar bin Khaththab, bahwa terlalu lama menyendiri (menjomblo) itu sangat berbahaya dan tidak baik.

Baca juga:  Hidup Tanpa RT/RW

Socrates yang seorang filsuf saja menganjurkan orang untuk menikah, walaupun banyak orang-orang yang mendalami filsafat lebih suka lama menyendiri (menjomblo). Justru Socrates yang seorang filsuf menganjurkan orang untuk menikah.

Di mana Socrates pernah mengatakan “Menikahlah, kalau anda mendapatkan istri yang baik anda akan bahagia. Kalau anda mendapatkan istri yang buruk anda akan menjadi filusuf”.

Menikah bukanlah mencari pasangan yang sempurna untuk kita, akan tetapi menikah adalah mencari pasangan yang bisa menyempurnakan kehidupan kita. Jika yang kita cari adalah pasangan yang sempurna, maka tidak akan pernah kita menemukannya.

 

Lihat Komentar (2)

Komentari