Sedang Membaca
Kisah Abu Hasan Al-Asy’ari Keluar dari Muktazilah
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Kisah Abu Hasan Al-Asy’ari Keluar dari Muktazilah

Nur Hasan

Tokoh sentral kelompok Asy’ariyah yaitu Abu Hasan al-Asy’ari dulunya adalah pengikut paham muktazilah. nama lengkapnya adalah Abu Al-Hasan Ali bin Ismail bin Ishaq bin salim bin Ismail bin Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abu Burdah bin Abu Musa al-Asy’ari.

Dia lahir di Bashrah pada tahun 260 H/ 873 M.  Selama 40 tahun, Abu Hasan mengabdikan dirinya untuk kelompok Muktazilah. Bahkan al-Juba’i, guru Abu Hasan al-Asy’ari sekaligus tokoh besar Muktazilah, menggadang-gadang Abu Hasan Al-Asy’ari seebagai pemimpin masa depan kelompok Muktazilah. Mengapa?

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Tak lain karena kapasitas dan kapabilitas intelektualnya dalam mengemban misi pemikiran Muktazilah.

Namun dalam perkembangannya, Abu Hasan al-Asy’ari keluar dari Muktazilah dan mendirikan mazhab teologi baru. Tahun 912, beliau keluar dari kelompok Muktazilah yang sudah diikuti selama 40 tahun.

Di antara faktor yang menyebabkan Abu Hasan Al-Asy’ari keluar dari Muktazilah didasari ketidakpuasaanya terhadap jawaban gurunya al-Juba’i dalam menjawab pertanyaannya tentang keadilan Tuhan yang hanya dijawab hanya dengan menggunakan batas-batas rasional akal.

Salah satu dialog yang menjadikan Abu Hasan al-Asy’ari kecewa, adalah dialog tentang nasib seorang anak dan seorang dewasa yang sama-sama masuk surga karena imannya ketika meninggal.

Dalam pandangan kelompok Muktazilah, bahwa sesuai dengan keadilan Tuhan. Orang dewasa akan menempati surga yang lebih tinggi dibanding dengan anak kecil, hal ini didasari karena yang dewasa sudah melakukan amal kebaikan.

Baca juga:  Arafah dan Perjuangan Para Nabi

Namun Abu Hasan al-Asy’ari tidak puas dengan jawaban gurunya al-Juba’i, kemudian menimpalinya sebuah pertanyaan lagi: Kenapa si anak tidak diberi umur panjang supaya bisa melakukan amal baik?

Al-Juba’i kemudian menjawabnya: Tuhan tahu jika si anak dibiarkan tumbuh dewasa, dia akan menjadi anak durhaka, padahal Tuhan harus berbuat terbaik untuk ciptaannya.

Lalu Abu Hasan al-Asy’ari menimpali al-Juba’i dengan pertanyaan; Bagaimana jika orang-orang yang telah dijebloskan di neraka berteriak dan menuntut, mengapa mereka tidak dimatikan saja sejak kecil, sehingga tidak menjadi orang yang durhaka dan masuk neraka?

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Al-Juba’i terdiam dan tidak bisa menjawabnya.

Faktor lain yang melatarbelakangi Abu Hasan al-Asy’ari keluar dari kelompok Muktazilah adalah mendapat petunjuk dari Rasulullah saw, supaya meninggalkan teologi rasionalistik dan kembali kepada Paham Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Setelah mimpi ketemu Rasulullah, Abu Hasan al-Asy’ari berdiam diri selama 15 hari di dalam rumah. Kemudian keluar menuju masjid di Bashrah untuk mengumumkan bahwa dirinya telah keluar dari kelompok Muktazilah. Di depan publik dia menyatakan:

“Saya tidak lagi memegangi pendapat-pendapat Muktazilah bahwa Alquran itu makhluk dan pendapat rasional lainnya. Saya harus menolak paham-paham kelompok Muktazilah dan menunjukkan keburukan-keburukannya dan kelemahannya.”

Namun banyak yang meyakini, bahwa keluarnya Abu Hasan al-Asy’ari dari Muktazilah dan memformulasikan aliran teologi baru juga dikarenakan kekecewaannya kepada Muktazilah, yang tidak bisa menyesuaikan dengan situasi baru saat itu. Itu terjadi pasca dibatalkannya keputusan khalifahal-Ma’mun (813-833 M) oleh khalifah Al-Mutawakkil (847-861 M) tentang Muktazilah sebagai  mazhab negara.

Baca juga:  Zaid bin Amr, Non-Muslim yang Dijanjikan Surga

Kelompok Muktazilah mulai menurun kekuatannya, apalagi ditambah dengan diberikannya penghargaan kepada Imam Ibnu Hanbal, yang merupakan adalah rival Muktazilah pada waktu itu dalam kontestasi teologi.

Pasca melemahnya paham Muktazilah dan pecah menjadi kebeberapa aliran. Asy’ariyah, sebuah kelompok baru yang menisbatkan dirinya kepada Abu Hasan al-Asy’ari, mulai memformulasikan gagasan teologinya agar lebih metodologis dan sistematis. Karena pada waktu itu, belum ada aliran teologi yang terstruktur dan menjadi pegangan masyarakat. Muktazilah yang sebelumnya menjadi mazhab negara, pemikiran-pemikirannya kebanyakan hanya bisa dicerna oleh kalangan yang terdidik saja, dan sulit dipahami oleh kalangan masyarakat awam, karena keterbatasan kemampuan dalam berpikir yang filosofis.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Dari sinilah Abu Hasan al-Asy’ari mengambil jalan tengah di antara dua kutub, yaitu kutub aql (akal) dan naql (teks), atau berdiri antara kaum Salaf dan Muktazilah.

Asy’ariyah juga dianggap sebagai paham teologi tradisional, yang mengambil posisi ekstrim rasionalis yang menggunakan metafor dengan ekstrim tekstualis yang harafiyah. Penalaran yang digunakan Abu Hasan al-Asy’ari dianggap ortodoks, karena lebih setia kepada sumber-sumber Islam seperti Alquran dan sunah.

Pasca meninggalnya tokoh sentral Asy’ariyah, Abu Hasan Al-Asy’ari pada tahun 324 H, pemikiran-pemikiran kelompok Asy’ariyah diteruskan oleh para pengikutnya seperti al-Baqilani, al-Juwaini dan ulama-ulama Asy’ariyah lainnya. Dalam perkembangannya, kelompok Asy’ariyah juga pernah mengalami pasang surut dalam menyebarkan gagasan-gagasannya, sampai bisa memberi pengaruh yang sangat besar dalam dunia Islam.

Baca juga:  Saya Tak Mau Jadi Guru seperti Bapakku

Asy’ariyah kemudian dianggap sebagai representasi dari aliran yang bernama Ahlus Sunnah wal Jama’ah bersama paham al-Maturidiyah, yang didirikan oleh Abu Mansur al-Maturidi. Bahkan Sayid Murtdho az-Zabidi, pengarang kitab Ittihaf Sadat al-Muttaqin, mengatakan:

“Apabila disebut ‘Ahlus Sunnah Wal Jama’ah’, maka yang dimaksud adalah paham al-Asy’ariyah dan al-Maturidiyah.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top