Sedang Membaca
Ibnu Khaldun sebagai Politikus
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Ibnu Khaldun sebagai Politikus

Muhammad Iqbal

Alkisah, pada 1382 M, seorang sarjana muslim Arab yang mengabdi kepada penguasa Tunisia meminta izin sang penguasa untuk melakukan perjalanan haji ke Makkah. Pasca mengantongi izin, ia pun berlayar dengan kapal laut menuju Iskandariyah, Mesir.

Pada usianya yang ke-50, barulah ia meninggalkan negeri-negeri Maghrib (bagian barat dunia Islam), di mana dia dan nenek moyangnya telah memainkan peran yang penting.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Abdurrahman ibnu Khaldun (1332-1406) berasal dari sebuah keluarga yang telah meninggalkan Arab selatan menuju Spanyol setelah wilayah itu ditaklukkan oleh bangsa Arab, dan kemudian menetap di Sevilla.

Ketika kerajaan-kerajaan Kristen Spanyol utara berekspansi ke selatan, keluarga itu pun berangkat menuju Tunisia. Banyak keluarga yang memiliki tradisi sebagai pekerja budaya dan pelayan negara melakukan hal yang sama, dan mereka pun membentuk di kota-kota Maghrib suatu kelas bangsawan yang pengabdiannya dimanfaatkan oleh para penguasa lokal.

Kakek buyut Ibnu Khaldun ikut berperan dalam politik istana Tunisia, tetapi tak disukai, lalu dibunuh; kakeknya juga adalah seorang pegawai istana, sedangkan ayahnya menjauhi politik dan menjalani kehidupan sunyi seorang sarjana.

Ibnu Khaldun sendiri memperoleh pendidikan yang ketat dari ayahnya dan dari para sarjana di masjid, dan sekolah-sekolah Tunisia atau yang berkunjung ke kota itu.

Ia melanjutkan studinya ketika mulai beranjak dewasa ke kota-kota lain, karena hal itu adalah bagian dari tradisi yang dia warisi, di mana seorang laki-laki dewasa harus menuntut ilmu pengetahuan dari semua orang yang dapat mengajarkannya.

Baca juga:  Para Perempuan Penulis Nabi Muhammad

Ibnu Khaldun membeberkan nama-nama para sarjana yang kuliahnya ia ikuti serta materi-materi yang mereka ajarkan. Ia belajar, antara lain, Al-Quran; Hadis; Yurisprudensi; Bahasa Arab; serta Ilmu-Ilmu Rasional, seperti Matematika, Logika, dan Filsafat.

Ia memerinci kepribadian dan kehidupan para gurunya, dan menginformasikan kepada kita bahwa sebagian besar mereka, seperti halnya kedua orangtua Ibnu Khaldun, mati karena terjangkit “Kematian Hitam”, wabah penyakit yang melanda dunia pada pertengahan abad ke-14 M.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Dalam usia belia, penguasaan Ibnu Khaldun atas bahasa dan ilmu yurisprudensi membawanya mengabdi kepada penguasa Tunisia. Mula-mula sebagai sekretaris, kemudian pada posisi-posisi riskan yang lebih berat tanggung jawabnya. Periode 20 tahun ini dipenuhi aneka keberuntungan.

Ia meninggalkan Tunisia dan kemudian mengabdi kepada penguasa lain di Maghrib, lalu ke Granada, ibukota kerajaan Spanyol Muslim yang paling akhir bertahan. Di sana dia berhasil menarik perhatian, lalu diutus membawa sebuah misi kepada penguasa Kristen di Seville, kota para leluhurnya, namun ia menuai kecurigaan dan karenanya Ibnu Khaldun pun segera hengkang ke Aljazair.

Sekali lagi dia menduduki jabatan, mengerjakan urusan pemerintahan di pagi hari dan kemudian mengajar di masjid. Ia berperan mengajak para pemimpin Arab atau Berber yang menghuni padang-padang rumput dan pegunungan untuk mengadakan persekutuan politik dengan para penguasa patronnya.

Pengaruh yang Ibnu Khaldun peroleh bersama para pemimpin itu sangat berguna tatkala dia, seperti terjadi berkali-kali dalam hidupnya, tidak lagi disenangi oleh patronnya.

Suatu ketika, ia menjalani empat tahun (1375-1379) hidup dalam sebuah kastel di pedesaan Aljazair di bawah perlindungan seorang kepala suku Arab. Masa itu adalah tahun-tahun ketika ia terbebas dari urusan dunia dan menghabiskan waktunya menulis sejarah dinasti-dinasti Maghrib, yang dibangun dalam suatu kerangka yang luas.

Baca juga:  Risiko Menjadi Selebgram

Bagian awal dari sejarah ini, Muqaddimah (Prolegomena), telah menarik banyak perhatian hingga saat ini. Di dalamnya, Ibnu Khaldun berusaha mendedahkan berdiri dan jatuhnya dinasti-dinasti dalam suatu cara yang dapat menjadi patokan guna menilai kredibilitas narasi-narasi historis.

Ia percaya bahwa bentuk paling sederhana dan paling awal dari masyarakat manusia adalah yang dicontohkan oleh masyarakat penghuni padang-padang rumput dan pegunungan, yang bercocok tanam dan mengembala ternak, serta mengikuti para pemimpin yang tidak memiliki kekuasaan terorganisasi.

Masyarakat seperti itu memiliki suatu kebaikan dan energi alamiah tertentu, tetapi tidak mampu secara mandiri menciptakan pemerintahan yang stabil, kota-kota, dan budaya yang tinggi.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Untuk memungkin hal ihwal itu, harus ada seorang penguasa yang memiliki kewenangan khusus, dan sosok seperti itu dapat membangun dirinya hanya ketika ia sanggup menciptakan dan menguasai kelompok pengikut yang menganut ‘ashabiyyah, yakni suatu semangat bersama yang diarahkan kepada pencapaian dan pemeliharaan kekuasaan. Yang paling tepat merepresentasikan kelompok ini adalah orang-orang energik yang mendiami padang-padang rumput dan pegunungan.

Kelompok ini dapat dipersatukan oleh perasaan dari keturunan yang sama, baik nyata ataupun fiktif, atau oleh perasaan saling ketergantungan, serta diperkuat oleh penerimaan yang sama terhadap satu agama.

Seorang penguasa dengan kelompok para pengikut yang kuat dan padu dapat mendirikan sebuah dinasti. Manakala pemerintahan dinasti itu stabil, kota-kota akan tumbuh dan di sana akan muncul spesialisasi-spesialisasi, gaya hidup mewah, dan budaya nun tinggi.

Baca juga:  Buya Hamka dan Sepenggal Narasi “Islam Nusantara”

Namun, setiap dinasti membawa dalam dirinya benih-benih kemunduran. Ia dapat dilemahkan oleh tirani, gaya hidup yang berlebihan, dan hilangnya kualitas-kualitas memerintah.

Kekuasaan yang nyata mungkin saja berpindah dari sang penguasa ke anggota kelompoknya sendiri, tetapi lambat laun dinasti itu bisa jadi digantikan oleh dinasti lain yang dibangun dengan cara yang sama.

Kehidupan Ibnu Khaldun, sebagaimana ia lukiskan, menjelaskan kepada kita perihal dunia yang ia jalani, yakni dunia yang sepenuhnya mengingatkan kita tentang kelemahan ikhtiar manusia.

Dan, iman kepada satu Tuhan yang mencipta dan memelihara dunia ini dapat memberikan makna di tengah permainan takdir.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top