Penulis Kolom

Mahasiswa Islamic Studies International University of Africa, Republic Sudan, 2017. Sekarang tinggal di Pati, Jawa Tengah.

Kejayaan dan Kemunduran Sains dalam Dunia Islam

Abad ke-8 sampai dengan abad ke-12 tepatnya pada masa Dinasti Abbasiyah bisa dikatakan sebagai abad keemasan  umat Islam. Karena pada zaman tersebut, ilmu pengetahuan atau sains dan peradaban Islam berkembang pesat dan mencapai puncaknya. Umat Islam pada zaman tersebut menjadi kiblat dunia, karena perhatiannya yang sangat besar terhadap agama dan juga ilmu pengetahuan serta filsafat.

Pada awal abad ke-9, penelitian-penelitian di wilayah pemerintahan Islam mengumpulkan banyak materi dari tradisi observasi dan teori astronomi India, Yunani dan Persia dengan sistem geosentris Ptolomeus tentang tatanan planet-planet yang diterima sebagai struktur dasar kosmos. Observatorium tersebut, termasuk yang didirikan di Persia pada tahun 1074 M dengan salah satu aktornya adalah Oemar Khayyam seorang ahli matematika dan menguasai ilmu pengetahuan. Tetapi beliau lebih dikenal sebagai seorang sejarawan. Dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya.

Pada masa keemasan peradaban Islam pada waktu itu, banyak muncul ilmuwan-ilmuwan muslim yang multitalenta, mereka tidak hanya berkontribusi dalam hal pemikiran keagamaan saja tetapi juga ilmu pengetahuan. Sebut saja Al-Kindi, Al-Razi,  Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Biruni, Al-Khawarizmi, Al-Ghazali dan masih banyak lagi sederet ilmuwan Muslim yang mempunyai kontribusi terhadap ilmu pengetahuan dan mewarnai peradaban dunia.

Pemerintahan Dinasti Abbasiyah dianggap sebagai  pilar utama perkembangan sains dalam Islam, karena pada masa ini banyak bermunculan ilmuwan dan berbagai karya dalam ilmu pengetahuan. Masa pemerintahan Abbasiyah mencapai puncak kejayaannya dibawah pemerintahan  Harun Al-Rasyid yang cukup terkenal dalam sejarah peradaban Islam. Pada saat itu pemerintahannya menikmati kekuasaan dan keagungan ilmu pengetahuan. Masa kemajuan saat itu dalam pentas sejarah tidak terbantahkan hingga sekarang.

Sejarawan C.W. Bosworth, pernah menyatakan dalam bukunya yang berjudul “ The Islamic
Dinasties” bahwa tiga abad pertama pemerintahan Abbasiyah abad 8-11 M, ia melihat kejayaan Dinasti Abbasiyah. Pada saat itu, keberadaan ilmu pengetahuan dirasakan benar adanya. Salah satu buktinya adalah dengan ditandai adanya berbagai literatur ilmu pengetahuan yang eksis saat itu, seperti kitab
Kesusasteraan, Teologi, Filsafat, dan Ilmu Alam dan lain sebagainya.

Dalam sumber lain dapat ditemukan pula bahwa popularitas pemerintahan Abbasiyah mencapai puncaknya pada saat pemerintahan Harun Al-Rasyid (786-809 M), dan putranya Al-Makmun (813-833 M). Dimana pada waktu itu, kesejahteraan, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, kesusasteraan, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan mengalami zaman keemasannya. Pada saat itulah zaman keemasan  Islam menempatkan dirinya sebagai sebuah pemerintahan terkuat yang tidak tertandingi. Naiknya Harun Al-Rasyid sebagai khalifah ke lima mengantikan Al-Hadi membawa perubahan besar dalam sejarah Dinasti Abbasiyah.

Kemajuan ilmu pengetahuan tersebut juga tidak bisa dilepaskan dari peran pemerintah pada waktu itu yang mendukung kemajuan ilmu pengetahuan, sebut saja ilmu kesehatan yang mempunyai manfaat praktis bagi kalangan penguasa yang mengharapkan layanan medis yang baik. Dimana pembangunan rumah sakit menjadi salah satu ciri khas kegiatan filantropis masyarakat Islam. Contoh lain juga bisa dilihat dikawasan muslim Spanyol, Persia kemudian pada masa Utsmaniyah.

Sedangkan di sisi lain, Dinasti Umayyah II (Muslim Spanyol) yang ada di Andalusia juga mengalami kemajuan yang sangat pesat dalam membangun peradaban Islam, baik dalam agama maupun ilmu pengetahuan. Yang kemudian dilanjutkan oleh dinasti-dinasti kecil setelahnya seperti Dinasti Al-Murabithun dan Al-Muwahidun, dengan berbagai dokumen yang memperlihatkannya. Serta berbagai contoh lainnya yang begitu banyak. Pencapaian para ilmuwan muslim di abad pertengahan telah dikenal luas dan mereka hampir selalu dimasukkan ke dalam produk zaman keemasan yang kini telah hilang.

Akan tetapi, dalam sejarah sains dan penelitian terhadap peradaban, membahas kemunduruan yang dialami negara-negara muslim menjadi hal biasa. Kondisi kemunduran umat Islam mengantarkan kepada kejatuhan yang tidak terelakan dihadapan pembantaian, yang tidak terelakan oleh budaya Eropa yang unggul. Banyak faktor yang melatar belakangi kemunduran sains dalam peradaban Islam, yang pernah bersinar tersebut, salah satunya adalah serangan bangsa Mongol yang memporak porandakan dan membakar karya-karya intelektual Islam di Timur. Sedangkan di kawasan Andalusia, juga hampir mirip yaitu penyerangan kembali pasukan Kristen serta perebutan kekuasaan terhadap pemerintahan Islam yang berkuasa pada waktu. 

Peradaban Islam di Barat mempunyai andil besar dalam kebangkitan Eropa, yang tentu saja kontribusi tersebut juga tidak lepas dari masa keemasan peradaban Islam di Timur. Orang-orang Eropa, sebelum menghancurkan dinasti-dinasti kecil di Andalusia mereka terlebih dahulu menggali, mempelajari dan menerjemahkan hasil-hasil pemikiran intelektual muslim yang Berjaya pada waktu itu. Faktor lain juga akibat konflik internal dalam pemerintahan Islam pada waktu itu.

Walaupun sikap tentang kemunduran sains dalam Islam sudah menjelma sebagai keyakinan dan menjadi banyak pembahasan tentang topik tersebut, beberapa tahun terakhir orang yang paling lantang berbicara tentang teori kemunduran Islam adalah mantan Professor Princeton, yaitu Bernard lewis. Dalam bukunya What Went Wrong? Western Impact And Middle Eastern Response, dia berpendapat bahwa umat Islam tidak puas dengan kekuatan politik yang pernah mereka miliki pada zaman akhir pertengahan, sehingga mereka gagal menerima perubahan Eropa dan era modern. 

Secara khusus, mereka kehilangan semua rasa ingin tahu tentang segala kemajuan dalam sains dan teknologi. Hal tersebut adalah kesalahan fatal yang menjungkirkan mereka ke jurang kekalahan. Pendapat tersebut juga hampir mirip dengan yang terjadi di abad ke-19 M, tentang argumentasi para penjajah tentang hilangyna filsafat dari negara-negara Islam. Umat Islam tidak punya rasa ingin tahu dan tidak punya sikap ilmiah, serta menganggap tidak perlu mencari produk intelektual mereka di akhir zaman pertengahan.

Hampir senada dengan pendapat-pendapat di atas, Syekh Said Ramadhan Al-Buthi juga menilai di tengah hegemoni peradaban Barat, umat Islam sedikit demi sedikit kehilangan jati dirinya yang dampaknya adalah umat Islam tidak mengenali lagi peradabannya. Globalisasi dan Westernisasi tidak lain juga bentuk dari untuk merongrong identitas umat Islam. Kondisi ini dalam bahasa Al-Buthi disebut dengan Dziya Al-Dzat (hilangnya identitas). Dampak negatif tersebut ditimbulkan oleh sikap mengagung-agungkan peradaban Barat, yang pada akhirnya menghilangkan batas kultural dan budaya kritis terhadap peradaban asing.

Dalam situasi tersebut,  Al-Buthi lantang menyerukan untuk tidak mudah terkesima dengan peradaban Barat. Tidak seperti pemikir modern lainnya, Al-Buthi justru melampaui perdebatan modernis mengenai kemajuan barat dan kemunduran umat Islam.

Menurut Al-Buthi, setidaknya ada dua factor yang menjadikan kemunduran umat Islam saat ini. Pertama, terpesonanya umat Islam terhadap revolusi yang terjadi di Barat sebagai tanda kebangkitan peradaban Barat pada waktu itu. Kedua, terpengaruh dengan keberhasilan Barat dalam melepaskan dirinya dari cengkeraman doktrin-doktrin gereja.

Lebih lanjut, ketertinggalan umat Islam di abad ini diakibatkan oleh penyakit kronis kebanyakan umat Islam yaitu keterpikatan umat Islam terhadap peradaban Barat secara membabi buta. Dalam karyanya yang berjudul Ala Thariqi Al-Audah Ila Islam; Rasm Li Manhaj Wa Hallu Li Musykilat dan Hiwar Haula Musykilat Hadhariyah, Al-Buthi menolak sikap inferioritas peradaban Barat. Tetapi beliau menanamkan optimisme dan sikap superioritas Islam bagi kaum muda.

Di sisi lain, Al-Buthi juga mengakui adanya saling ketergantungan di era pasca modern antara Islam dan Barat. Oleh karenanya, umat Islam mempunyai hak untuk mengadopsi peradaban barat yang terbukti baik dan bermanfaat secara selektif. Begitu juga dengan orang Barat  juga dapat mengadopsi dari Islam apa yang mereka butuhkan untuk bebas dari kehancuran spiritual.

Umat Islam seharusnya move on bukan hanya dari sikap keterpikatan terhadap peradaban Barat, tetapi juga move on dari dialektika internal yang masih berdebat membahas antara halal haram, bid’ah dan tidak bid’ah, kafir dan tidak kafir. Peradaban lain sudah mencoba untuk meneliti kelayakan manusia untuk tinggal di Mars, umat Islam justru masih sibuk berdebat dan saling mengkafirkan satu sama lainnya. 

Pada akhirnya perlu kembali merenungi sebuah kaidah yang berbunyi Al-Mukhafadzotu Alal Qodim As-Sholih Wal Akhdzu Bil Jadid Ashlah. Menjaga warisan lama yang masih relevan dan mengadopsi sesuatu yang baru yang dianggap baik dan membawa maslahah, kalau perlu justru menciptakan sesuatu yang baru tersebut. Sebagaimana yang dilakukan oleh ilmuwan-ilmuwan muslim di masa kejayaan peradaban Islam, salah satu contohnya dengan mengadopsi filsafat-filsafat Yunani Kuno dengan membawa semangat keingintahuan ilmiah.

Baca juga:  Pendokumentasian Haji: Agama dan Politik
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
1
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top