Sedang Membaca
Orang Pandir dari Kelompok Ahli Hadis
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Orang Pandir dari Kelompok Ahli Hadis

Nur Ahmad

Ada tiga niat Ibnu al-Jawzi (W. 597 H) ketika memutuskan menulis kisah orang-orang tolol nan pandir yang mengundang gelak tawa.

Dia berkata, “Setelah aku mengumpulkan kisah orang-orang cerdas, supaya itu menjadi pelajaran, terbetik dalam hatiku untuk mengumpulkan kisah-kisah orang-orang pandir nan tolol karena tiga alasan.”

“Pertama agar orang-orang yang berakal dan waras mensyukuri kewarasannya.”

“Kedua, agar manusia berhati-hati mendekati sebab-sebab ketololan dan hal itu dilakukan dengan usaha yang keras, namun bila kepandirannya bersifat bawaan, maka tidak ada yang dapat mengubahnya.”

“Ketiga, agar manusia menyenangkan hatinya dengan membaca kisah-kisah itu; dan ingatlah bahwa terkadang nafsu condong mengajak bersungguh-sungguh yang berlebihan; oleh sebab itu beristirahatlah sebentar dalam satu dan lain waktu dengan guyonan, seperti nasihat Kanjeng Nabi kepada Handzalah.”

Dari sanalah lahir kitab Akhbar al-Ḥamqa wa al-Mughaffalin, Kumpulan Kisah Orang-orang Pandir nan Tolol.

Ibn al-Jawzi bukan hanya mengisahkan mereka yang memang umumnya dalam kadar tertentu pantas dianggap memiliki kebodohan seperti orang-orang badui dusun yang tidak memperoleh akses pendidikan.

Namun juga kisah-kisah mereka yang dianggap sebagai orang-orang yang memiliki kecerdasan yang lebih. Tidak tanggung-tanggung, kisah-kisah kebodohan yang dilakukan oleh para ahli fikih, mufasir, ahli hadis, penyair, dan para sufi dikumpulkan dalam kitab ini.

Baca juga:  Mengeja Kebahagiaan Sejati

Iya, kelompok terhormat seperti para ahli hadis, para penjaga teks tradisi kehidupan Nabi, tidak lepas dari ketololan dan kepandiran yang mengundang tawa.

Mereka, sebagaimana manusia biasa, kadang melakukan tindakan-tindakan bodoh, seperti salah menyebutkan nama orang yang memberinya hadis.

Dikisahkan bahwa seorang rawi berkata kepada Imam Jarir, “Engkau telah memberiku hadis ini kan?”

“Hadis yang mana”, tanya Imam Jarir.

“Menceritakan kepada kami Kharbiz dari Roqabah…” tutur laki-laki itu.

“Celaka kau, namaku Jarir bukan Kharbiz” sanggah Imam Jarir.

Ada pula para ahli hadis yang berlebih-lebihan dalam meriwayatkan hadisnya. Dikisahkan dari Imam ad-Daruqutni bahwa suatu ketika Muhammad bin al-Qasim bin Muhammad menghadiri pengajian yang diadakan “para ahli hadis” yang bodoh.

“Hadis ini dari Nabi Saw, dari Jibril, dari Allah, dari seorang laki-laki,” kata para ahli hadis itu.

Baca Juga

“Siapa orang ini yang pantas menjadi gurunya Gusti Allah”, sanggah Muhammad bin al-Qasim.

Sebagian ketololan lainnya adalah karena mengabaikan akal sehat ketika menerima suatu hadis. Dikisahkan seorang pemuda yang baru belajar hadis bertanya kepada ahli hadis, Hammad bin Zaid.

“Wahai Abu Ismail, Umar telah menyampaikan hadis dari Nabi Saw kepadamu bahwa beliau Saw melarang memakan roti.” tanya pemuda itu.

Baca juga:  Siapakah Ulama, Imam, Syekh, Kiai, dan Ustaz? (Bagian 2)

Hammad tertawa kecil sambil menjawab, “Wahai anak muda kalau Nabi saw. melarang makan roti lalu dengan apa manusia dapat mempertahankan hidupnya? Itu bukan roti tapi arak yang dilarang oleh Nabi saw.”

Kisah lainnya yang dianggap pantas dituliskan adalah tentang kisah Perahu Nuh. Imam Syafi’i mengisahkan: “Suatu ketika Abdurrahman bin Zaid bin Aslam ditanya”.

“Ayahmu menuturkan hadis dari kakekmu dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya perahu Nuh tawaf mengitari Baitullah sebanyak tujuh kali dan dia juga salat di belakang makam Ibrahim”, iyakah?”

Abdurrahman hanya menjawab singkat, “Iya”.

Lihat Komentar (0)

Komentari