Sedang Membaca
Bagaimana NU Online Menulis Wafatnya Mbah Moen?
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Bagaimana NU Online Menulis Wafatnya Mbah Moen?

Wisnu Prasetya Utomo

Wafatnya KH Maimoen Zubair ketika sedang menjalankan ibadah haji di Mekkah meninggalkan kesedihan mendalam. 

Untuk melihat warisan yang ditinggalkan oleh Mbah Moen, saya membaca 50 artikel (baca: berita, news) di NU Online mengenai wafatnya Mbah Moen. Dengan membaca artikel-artikel mengenai Mbah Moen ini kita bisa melihat bagaimana potret Mbah Moen ditampilkan dan dikenang. 

Dari artikel-artikel tersebut kita juga bisa melihat cara penulis –dan dalam tahap lebih jauh tentu NU Online– membingkai berita ketika menulis Mbah Moen. Sebagaimana dalam kajian jurnalisme, setiap wartawan atau penulis pasti melakukan pembingkaian baik disadari (by design) maupun tidak disadari. 

Penulis atau wartawan tidak melakukan pembingkaian dalam keseluruhan teks berita. Hanya di beberapa bagian saja dalam struktur berita yang dibingkai dan selanjutnya menentukan wacana yang ingin dikonstruksi. Setidaknya ada tiga bagian dalam berita yang bisa dijadikan objek framing wartawan. Ketiganya yaitu judul berita, fokus berita, dan penutup berita. Framing akan terlihat dari penonjolan makna-makna tertentu dalam tiga bagian tersebut. 

Pola penonjolan itu sendiri tidak dimaknai sebagai bias. Secara ideologis, penonjolan –termasuk cara memilih narasumber berita– tersebut adalah sebagai strategi wacana yang berarti upaya menyuguhkan pada publik tentang pandangan tertentu. Dalam berita atau tulisan-tulisan yang sifatnya obituari, kita akan melihat hal apa yang paling diingat dari orang yang sudah meninggal dunia. 

Lalu, bagaimana NU Online menulis Mbah Moen? 

Dari 50 berita yang saya baca dalam rentang waktu 6-9 Agustus 2019. setidaknya ada tiga kategori artikel-artikel di NU Online mengenai meninggalnya Mbah Moen. 

Pertama, berita-berita mengenai peristiwa meninggalnya Mbah Moen. Di dalamnya termasuk kronologi, kesaksian, firasat dari orang-orang terdekat, juga terkait proses pemakaman Mbah Moen di Mekkah. Berita-berita semacam itu memberikan kita gambaran suasana atau waktu menjelang wafatnya Mbah Moen. 

Misalnya saja artikel Isyarat Kiai Maimoen Zubair Menjelang Wafat. Dalam berita tersebut disebutkan pengakuan Shodikun, calon jamaah haji yang sempat bertemu dengan mbah Moen di hotel di Mekkah. Ketika dia bertanya ke mbah Moen sampai kapan mbah Moen akan tinggal di Mekkah, beliau menjawab “tekan tanggal limo (sampai tanggal lima)”. 

Shodikun juga menyebut bahwa keesokan subuh setelah dia bertemu Mbah Moen, Makkah diguyur hujan, yang kemudian disusul oleh kabar bahwa Mbah Moen sudah wafat. Tepat tanggal 5 Dzulhijah 1440 Hijriah.

Firasat lain juga muncul dari artikel berjudul Dititipi Kamar Pribadi Mbah Moen, Gus Yasin Tepis Firasat. Dalam artikel tersebut, Gus Yasin yang merupakan putra Mbah Moen menyebut bahwa “Abah sempat menyampaikan kamarnya sudah dikunci rapat. Kamar baru boleh dibuka, jika Kiai Maimoen meninggal dunia.” 

Sedangkan di berita Lewat Mimpi, Gus Kamil Dipanggil Mbah Moen Berhaji Tahun Ini, NU Online mengutip putra Mbah Maimoen Gus Kamil yang menceritakan tentang mimpinya bahwa “seakan-akan Mbah Moen meminta dirinya untuk menyusul ke tanah suci.” Gus Kamil menjelaskan bahwa ia padahal tidak berencana untuk menunaikan ibadah haji tahun ini. 

Selain dari anak-anak Mbah Moen, firasat serupa juga terlihat dari cerita yang disampaikan oleh Gus Mus sebagaimana ada dalam berita berjudul Gus Mus: Mbah Moen Contoh Nyata Wali yang Dicintai Allah. Gus Mus bercerita bahwa perasaannya sering tidak enak karena setiap berjumpah Mbah Moen beliau sering meminta didoakan agar husnul khotimah dan dimakamkan di tanah suci. 

Kedua, berita-berita NU Online menunjukkan warisan atau pesan yang ditinggalkan oleh Mbah Moen sebelum wafat. Pesan ini bervariasi dari mulai pengelolaan pesantren sampai dengan pesan-pesan kebangsaan. 

Dalam berita Mbah Maimoen Zubair Selalu Tekankan Cinta NKRI, misalnya, santri Mbah Moen Gus Umam menjelaskan bagaimana Mbah Moen masih mengaji kitab Ihya Ulumuddin sampai sebelum berangkat ke Makkah. Menurut Gus Umam, itu menunjukkan betapa Mbah Moen mencintai tanah airnya karena “di dalam kitab tersebut terkandung intisari cinta tanah air, patuh dengan pemerintah, cinta tanah air, dan menjunjung tinggi 4 pilar kebangsaan.” Pesan-pesan tersebut sering disampaikan Mbah Moen dalam acara-acara NU. 

Pesan lain misalnya terkait keragaman. Sebagaimana disebutkan Gus Yasin dalam artikel Pesan Mbah Moen kepada Gus Yasin; Jaga Keragaman, sebelum berangkat ke Makkah Mbah Moen berpesan agar selalu menjaga kebersamaan dan menjunjung tinggi falsafah Bhineka Tunggal Ika. 

Nada serupa muncul di berita Ketua NU Jateng: Pesan Kiai Maimoen, Rawat Hubungan Sesama Warga. Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah Ahmad Muzammil menjelaskan pesan yang ia terima dari Mbah Moen khususnya agar NU terus merawat hubungan baik dengan semua warga negara. Khususnya hubungan antara kelompok nasionalis dan religius yang apabila dirawat terus-menerus akan membawa Indonesia tetap kuat. 

Dalam artikel Mbah Moen Cetak Orang-orang Alim Aswaja dan Aktivis NU, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengungkapkan bagaimana kecintaan Mbah Moen terhadap Indonesia. Kecintaan tersebut salah satunya diwujudkan ketika Muktamar NU 1984 di Situbondo, Jawa Timur. Dalam Muktamar tersebut Mbah Moen termasuk kiai yang ikut menerima asas tunggal Pancasila dan mengemukakan argumentasinya secara ilmiah agar asas Pancasila diterima kiai-kiai lain.

Sedangkan dalam berita Ansor Jayapura: Kiai Maimoen Ingatkan Jaga Wilayah Perbatasan, Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Jayapura Hazir Ahmad menyebut bagaimana Mbah Moen selalu mengingatkan agar pemuda khususnya yang berada di daerah perbatasan untuk menjaga rasa cinta tanah air. 

Baca Juga

Berita-berita semacam itu tentu konsisten dengan sikap yang selalu dimunculkan oleh Mbah Moen selama ini. Sikap Mbah Moen adalah teladan penting ketika banyak kelompok yang mencoba membenturkan antara agama dan negara. 

Hal lain yang muncul selain pesan mengenai nasionalisme dan kebangsaan adalah betapa cintanya Mbah Moen terhadap ilmu. Artikel berjudul Perjalanan Hidup KH Maimoen Zubair: Ditempa Keilmuan sebelum Usia Baligh menunjukkan perjalanan panjang Mbah Moen dalam belajar ilmu agama, dari mulai mengembara ke Pondok Lirboyo Kediri sampai ke Makkah. 

Berita tersebut menyebut Mbah Moen sebagai sosok yang memiliki “ketegasan dan keteguhan” serta “rasa kasih sayang dan kedermawanan” yang kemudian ditularkan ketika Mbah Moen mendidik murid-muridnya. Pengembaraan keilmuan Mbah Moen yang kemudian ditularkan kepada masyarakat di Sarang. Dalam berita Mbah Moen Serahkan Pengelolaan Pesantren ke Putra-putranya, NU Online menjelaskan bagaimana Mbah Moen banyak melahirkan ulama-ulama muda dan santri yang dididik di pesantren beliau. 

Ketiga, NU Online menulis tentang bagaimana sosok Mbah Moen demikian berpengaruh sehingga berita wafatnya beliau direspon oleh berbagai kalangan. Cara untuk menunjukkan pengaruh ini diperlihatkan dengan menggunakan berbagai narasumber yang berasal dari berbagai latar belakang dan lokasi. 

Berita Nuansa Kehilangan atas Kepergian Mbah Maimoen dari Adelaide, misalnya, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia-New Zealand di Kota Adelaide mengenang berpulangnya Mbah Moen. Sementara berita Pengakuan Warga California Usai Bertemu Mbah Maimoen menjelaskan pengakuan warga Amerika Serika usai berjumpa dengan Mbah Moen tahun 2018 lalu. 

Dari Indonesia sendiri, berbagai tokoh juga dikutip oleh NU Online. Gus Mus menyebut bahwa wafatnya Mbah Moen berarti “Orang Indonesia kehilangan aset bangsa”, Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini menyebut Mbah Moen meninggalkan teladan “ilmu, akhlak, dan hidup”, sementara Quraish Shihab menyebut bahwa Indonesia tidak hanya kehilangan sosok Mbah Moen tetapi juga “kehilangan ilmu karena Mbah Maimoen seorang alim seorang berakhlak sangat luhur”

Saya sendiri punya catatan mengenai berita-berita di NU Online mengenai Mbah Moen tersebut. Salah satunya terkait aspek “kedalaman” pada berita-berita yang ditulis. Saya belum menemukan tulisan panjang yang secara khusus membahas Mbah Moen baik dari profil atau juga warisan pemikiran beliau yang penting. Secara kuantitas memang banyak, tapi tidak mendalam.

Tentu untuk sosok ulama seperti Mbah Moen, banyak aspek yang bisa ditulis dengan mendalam. Dan dengan begitu sebenarnya bisa memberikan kita gambaran yang lebih utuh mengenai Mbah Moen. 

Lepas dari catatan tersebut, berita-berita di NU Online di atas menunjukkan serpihan-serpihan yang ingin ditampilkan dan dikenang dari sosok Mbah Moen. Hal yang paling menonjol adalah nada mengenai peran Mbah Moen sebagai ulama kharismatik yang gigih mencintai tanah airnya. Teladan yang juga kita harapkan dari ulama-ulama penerus Mbah Moen. 

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top