Sedang Membaca
Makkiyyah-Madaniyyah Versi Kisah Walisongo
Penulis Kolom

Mahasiswa jurusan Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN Walisongo Semarang yang juga alumni pondok MUS. Kini sedang mendalami kajian rasm usmani. Pendidikan: Mahasiswa jurusan Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, UIN Walisongo Semarang Domisili: Pondok Ngaliyan Asri K-11 Sosmed: Fais Zumna Ustuchty (facebook), fais zumna (twitter)

Makkiyyah-Madaniyyah Versi Kisah Walisongo

Komik Walisongo

Saat ini saya, bersama dengan senior, tengah melakukan kajian wacana kritis terhadap serial komik Walisongo. Idenya bermula dari penggambaran tokoh para wali dalam serial yang umumnya lebih menonjolkan aspek karamah dan ma‘unah hingga mengalahkan aspek keilmuan yang dimiliki. Padahal, beberapa kajian terhadap Walisongo jarang sekali yang sekedar menyinggung atau bahkan memperagung ‘kekuatan super’ ini.

Dari sini saya lantas banyak membaca literatur tentang Walisongo. Mulai dari bacaan ringan ala cerita anak-anak yang tak hanya berisi narasi cerita tapi juga dilengkapi dengan gambar sebagai upaya visual, hingga yang serius semacam kajian historisitas, tawaran interpretasi baru atau tentang pertarungan wacana.

Di saat yang sama, di sela-sela waktu yang ada, saya juga tengah muroja‘ah pengajian online Gus Baha’ mengenai tafsir Surah Al-Baqarah. Pengajian Tafsir Jalalain ‘kuno’ –sebelum ‘era keterkenalan’ Gus Baha’ berikut Kang Ruhin, Ahmadun dan Mas Pur- yang dulu saya dengarkan melalui pemutar mp3.

Dalam penjelasannya, beliau Gus Baha’ sering kali mengingatkan bahwa ayat yang tengah dikaji –Surah Al-Baqarah- adalah ayat-ayat madaniyyah yang syarat akan perdebatan ilmiah khas bantahan kaum Yahudi, bukan ayat-ayat makkiyyah yang lebih menceritakan kejahiliyahan kafir Makkah dan memposisikan Nabi Saw. sebagai sasaran lemparan batu dan kotoran hewan.

Membaca kisah-kisah Walisongo dan membandingkannya dengan materi yang saya dapat dari pengajian Gus Baha’ membuat saya berpikir, bukankah ada kemiripan diantara keduanya? Makkiyyah dan madaniyyah versi kisah Walisongo. Kurang lebih begitu.

Baca juga:  Sejarah Aliansi Saudi-Wahabi (Bagian II): Pendudukan Mekkah dan Madinah

Dalam kisah Walisongo, unsur makkiyyah direpresentasikan melalui penggambaran para wali yang lebih ditonjolkan pada aspek karamah dan ma‘unah yang dimiliki. Ilmu jaya kawijayan, silat akrobatik, menyemburkan air, atau bahkan nyabdo hamil seorang putri raja adalah beberapa gambaran ‘kekuatan super’ yang dimiliki oleh para wali.

Bukan bermaksud menafikan adanya karamah para wali karena dalam beberapa literatur tasawuf telah dibahas panjang lebar mengenai kemungkinan keberadaannya berikut contoh terjadinya karamah dalam kisah-kisah Al-Qur’an, hanya saja unsur kekeramatan ini lebih sering ditonjolkan bahkan didramatisasi. Yang menyebabkan identifikasi para wali lebih dekat dengan unsur kesaktian yang dimiliki. Padahal wali adalah juga seorang alim ulama. Unsur ilmu pengetahuan mestinya lebih dominan ketimbang sekedar kesaktian.

Nihilnya unsur ilmu pengetahuan ini agaknya mirip dengan isi dari ayat-ayat makkiyah, yang menurut Gus Baha’, ditunjukkan dengan setting sosial masyarakat kala itu masih berlatarbelakang jahiliyyah. Sehingga, alih-alih menjumpai perdebatan akademik yang sangat sengit, Nabi Saw. lebih sering mendapatkan lemparan batu atau hujan kotoran ketika tengah melakukan ibadah atau sekedar berjalan santai di jalanan kota Makkah.

Satu perbedaan yang cukup mendasar manakala melihat polemik yang terjadi dalam ayat-ayat madaniyyah. Konsep kiblat misalnya, sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 142-145, Nabi Saw. sempat diperintahkan menghadap Baitul Maqdis selama 16 atau 17 bulan sebelum akhirnya pindah menghadap lagi ke Ka’bah di Makkah.

Baca juga:  Iklan Muhammadiyah di Majalah Milik NU Tahun 1941

Beberapa penafsir memberi hikmah mengapa Nabi Saw. menghadap ke Baitul Maqdis selama di periode Madinah adalah sebagai ta’alluf atau menghibur hati kaum Yahudi yang kala itu cukup mayoritas menghuni kota Madinah. Hikmah ini juga agaknya sejalan dengan posisi Nabi Saw. yang kala itu tengah menjalani mitsaq al-madinah atau Madinah carter.

Lagi pula, menurut Gus Baha’, wajar jika untuk sementara waktu Nabi Saw. meninggalkan menghadap Ka’bah di Makkah, dimana penduduknya telah mengusir Nabi Saw. Sehingga wajar saja jika untuk sementara Nabi Saw. melupakannya. Polemik-polemik semacam ini akan sering kali dijumpai ketika menjumpai ayat-ayat madaniyyah.

Sementara dalam versi kisah Walisongo, konsep madaniyyah terlihat menelaah buku-buku yang secara khusus berisi kajian mengenai Walisongo, seperti yang saya lakukan ketika membaca tulisan KH. Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo, Anasom dkk. dalam Wali San[g]a, pengantar Ahmad Baso dalam buku kedua seri Pesantren Studies.

Di dalam buku-buku ini Walisongo dijelaskan dengan sangat berbeda dari apa yang digambarkan di dalam serial komik Walisongo. Di sini, terlihat betapa cerdas dan briliannya para wali dalam melakukan dakwah keberislaman di pulau Jawa. Pertunjukan wayang dan gamelan misalnya, yang sering diidentikkan negatif dengan unsur sinkretisme Jawa, menurut Ahmad Baso menunjukkan bahwa pengetahuan Walisongo akan struktur masyarakat Islam Jawa yang terbagi menjadi dua, kelompok pesisir dan pedalaman kraton.

Kesenian wayang dan gamelan merupakan ruang komunikasi sosial (atau dalam bahasa Ahmad Baso disebut dengan tawashul ijtima‘i) antara kedua kelompok dengan mengkomunikasikan keberaksaraan dengan tradisi lisan dari keduanya. Itu sebabnya, kitab karangan para wali saat itu didominasi dengan kitab ceritera seperti Jaka Partwa karya Sunan Drajat, Jaka Karewet karya Sunan Padusan, Jaka Sumantri karya Sunan Kalijaga, Jaka Bodo karya Sunan Kudus, dan lain sebagainya. Karya ceritera ini difungsikan sebagai pakem cerita yang akan dibawakan dalam pementasan wayang tentunya dengan plot dan narasi kisah yang telah disesuaikan dengan tradisi keislaman.

Baca juga:  Mengenal Alawiyyah, Tarekat Para Habib

Selain Ahmad Baso, Nur Ahmad dalam tulisannya berjudul Sangkan Paraning Dumadi ala Sunan Kudus yang didasarkan pada sebuah manuskrip yang berisi ajaran Susuhunan ing Kudus atau Sunan Kudus. Tulisan yang digali dari sebuah manuskrip berkode MS. Or. 3050 ini dengan apik menguraikan kedalaman pemahaman Sunan Kudus akan konsep kalimat tarji’, innalillahi wa inna ilaihi raji‘un. Yang lantas disimpulkan sebagai Allah adalah Awal dan Akhir, Alfa dan Omega, Dekat sekaligus Transenden.

Kemiripan ini merupakan apa yang saya tangkap dari proses telaah saya terhadap literatur Walisongo dan materi yang disampaikan Gus Baha’ dalam pengajiannya. Memang tidak dapat disamakan secara utuh mengingat konsep makkiyyah dan madaniyyah merupakan konsep dengan waktu yang beriringan. Sedangkan dalam kisah Walisongo, lebih kepada sudut dan penekanan ceritanya yang berbeda. Namun cukup menarik bukan untuk sekedar olah otak atik mathuk?

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top