Sedang Membaca
Warga Jerman Melaksanakan Perintah “Iqra!”

Warga Jerman Melaksanakan Perintah “Iqra!”

Nati Sajidah
Warga Jerman Melaksanakan Perintah "Iqra!" 2

Benar kata temanku, sesama peserta Beasiswa Study Trip Life Of Muslim In Germany, bahwa Jerman menjaga sejarahnya dalam berbagai rupa. Mereka jujur pada sejarahnya, sekelam apapun itu.

Mereka menjadikan sejarah bukan sesuatu yang jauh di belakang. Sebaliknya menjadikannya akrab dengan kehidupan sehari-hari. Semua pengalaman masa silam itu mengantarkan Jerman pada kondisi hari ini.

Jika melihat budaya membaca yang saya temui selama dua minggu di Jerman, saya tidak menyangka bahwa mereka punya sejarah kelam dengan buku. Pada tahun 1933 beberapa bulan setelah Nazi berkuasa, ada pembakaran buku besar-besaran. Sebagian besar buku yang dibakar adalah yang dirasa bertentangan dengan ideologi penguasa saat itu.

Peristiwa kelam tersebut kemudian diabadikan di salah satu lorong di Museum The Story Of Berlin (ini museum yang visualisasinya keren sekali. Main ke museum ini makin merasa sejarah sangat asik ditelusuri).

Di lorong itu kita memasuki lantai yang dipenuhi judul-judul buku yang pada tahun 1933 dibakar. Buku-buku tersebut seolah dibenamkan ke dalam lantai. Mau tidak mau saat melalui lorong kita harus menginjak buku-buku itu.

Penggambaran yang tepat tentang ilmu pengetahuan yang diinjak-injak. Peristiwa Burning Book Berlin juga diabadikan di tengah-tengah kota Berlin dan Frankfurt.

Hari ini, di Jerman tidak ada lagi pembatasan membaca buku tertentu atau bahkan pembakaran besar-besaran. Karenanya saya menjumpai pemandangan indah budaya membaca buku di mana-mana.

Baca juga:  NU dan Perdebatan Seni Islam

Baik yang tua ataupun yang muda mereka asik membaca. Di kereta, di bus, bahkan di ruang laundry pun saya menjumpai ada orang membaca buku. Beberapa kali saya melihat Ibu-ibu muda membacakan buku ke anaknya sambil menunggu pesanan di restoran, ada juga yang sambil menunggu turun di stasiun berikutnya yang hanya berjarak beberapa stasiun.

Pemandangan seperti itu, membuat temanku nyeletuk: “Apa mereka tidak pernah memberikan gawai ke anaknya?”

Sejarah kelam yang jujur diabadikan membuat warganya benar-benar tak ingin ia berulang terjadi. Kemudian mereka merayakannya dengan melakukan yang sebaliknya: membaca buku di mana-mana.

Baca Juga

Saya jadi teringat salah satu kalimat yang saya cantumkan di Motivation Letter pada saat mendaftar di program beasiswa yang diikuti 966 peserta dari berbagai wilayah Indonesia ini. Jika dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia, kalimatnya begini, ”Saya pernah mendengar sebuah idiom yang mengatakan, ‘Kami menemukan Islam di Timur, tapi kami menemukan Muslim di Barat.’ Sebuah idiom yang berangkat dari rasa takjub sebab melihat nilai-nilai Islam terpraktekan justru di Barat, di tempat yang Islam bukan berawal di sana.

Nilai-nilai menjadi pembelajar sepanjang hayat diperintahkan bahkan di awal wahyu, Iqra!

Tentang mengefisiensikan waktu dan mengisinya dengan yang bermanfaat pun tak kurang jadi perhatian utama; waktu dijadikan salah satu sumpah dalam Alquran.

Baca juga:  Sepenggal Kisah Kopi di Khan Khalili: Maqha, Bak Istri Kedua

Islam juga mengajarkan kita untuk belajar dari masa lalu demi perbaikan di masa yang akan datang (QS. Al-Hasyr: 18).

Nilai-nilai Islam tersebut telah diamalkan oleh mereka, dan semoga kita merasa terpanggil oleh seruan ayat ini:

[blockquote align=”none” author=”QS. Al-Hasyr: 2″]“…Maka ambillah pelajaran (dari peristiwa itu), wahai Ulil Abshar (orang-orang yang memunyai pandangan mata dan hati yang jernih).”[/blockquote]
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top