Sedang Membaca
Jong Islamieten Bond
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Jong Islamieten Bond

Muhammad Iqbal
Jong Islamieten Bond 1

Solo, 24-26 Desember 1926. Jong Islamieten Bond menyelenggarakan kongres keduanya di kota itu. Ketika ketua Raden Sam sedang berorasi tentang “Islam dan tinjauan dunia”, Haji Agoes Salim mendadak berdiri dan menyingkirkan kain bergambar yang memisahkan anggota perempuan JIB dari anggota laki-laki, sehingga semua anggota terkesiap.

Timbullah centang-perenang besar, dan Salim pun menerangkan perbuatannya. Ia mengatakan, di dalam Alquran penjagaan kesucian itu diserahkan kepada perempuan sendiri; kain itu diperkenalkan oleh kaum lelaki. Selain itu, suara bisik-bisik para gadis yang tidak kelihatan itu, justru menyelewengkan perhatian para laki-laki. Padahal para anggota lelaki sudah melihat dan berwicara dengan perempuan-perempuan itu sebelum pertemuan dimulai. Apakah ditinjau dari segi ini, kain pembatas itu tidak mubazir dan membuat orang tertawa?

Pasca memberikan penjelasan itu, Salim yang menjadi pembimbing JIB menuai banyak dukungan. Insiden itu menjadi indikasi bahwa masalah tradisi lawan modernitas, tetap menjadi masalah pertimbangan juga bagi para pelajar yang menjadi anggota JIB (seperti juga bagi anggota Jong Java dan Jong Sumatranen Bond).

Baca Juga
Warisan Budaya: Dari Gerimpheng Aceh Hingga Ndambu Papua 1

Terutama kedudukan perempuan dalam masyarakat bumipoetra merupakan masalah yang peka untuk para pelajar Muslim. Salim berusaha mendobrak masalah ini: dalam kongres berikutnya pada Desember 1927, gadis-gadis duduk di samping rekan-rekan lelakinya, dan bercampur tanpa ada keributan dalam diskusi-diskusi.

Halaman: 1 2 3
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top