Sedang Membaca
Ideologi Gerakan Keagamaan: Ditinjau dari Aspek Politik, Ekonomi, Budaya dan Hukum
Ali Mursyid Azisi
Penulis Kolom

Penulis artikel ringan dan jurnal ilmiah. Saat ini sedang menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Ideologi Gerakan Keagamaan: Ditinjau dari Aspek Politik, Ekonomi, Budaya dan Hukum

Gerakan Subuh

Sebagaimana yang dikatakan oleh Mansoer Fakih: Gerakan Sosial dapat diartikan sebagai kelompok yang terorganisir secara tidak ketat dalam rangka tujuan sosial terutama dalam usaha mengubah struktur maupun nilai sosial. Adanya signifikasi doktrin agama ramah yang kian digencarkan di era modern saat ini memang memberikan dampak sosial yang cukup besar.

Pada dasarnya, bentuk implementasi dari nilai agama adalah pada aspek sosial yang merupakan tujuan dasar setelah keimanan kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Khusunya dalam segi sosial, dengan adanya doktrin agama yang ramah, menjadikan tingkat moralitas dan segi keterbukaan dalam memahami perbedaan sebagai sebuah keniscayaan lebih luas.

Segi hubungan sosial tidak dapat disangkal nantinya akan semakin menampilkan sikap yang jauh dari sifat perusakan, kekerasan, bahkan hal-hal yang mendorong pada tindakan negative. Terlebih memasuki era modern, dengan semakin kayanya suatu fenomena keagamaan, menjadikan kehidupan semakin terbuka akan adanya hal-hal baru sebagai perumusan perubahan dan perkembangan suatu tatanan sosial.

Dampak dalam segi sosial lainnya adalah semakin menekan gerakan ideologisasi gerakan keagamaan yang terbilang ekstrem supaya tidak muncul ke permukaan kehidupan sosial. Pasalnya, gerakan idelogisasi tersebut akan memunculkan banyak pertentangan di tengah masyarakat, mulai dari sikap yang melegalkan kekerasan atas nama agama, hingga tidak ada toleransi jika ada seorang yang tidak sependapat atasnya dan halal darahnya untuk ditumpahkan.

Baca juga:  Dari Madura hingga Australia: Membaca Wajah Orang Indonesia di Tengah Wabah Corona

Maka dari itu, penting kiranya doktrin agama-agama yang ramah terhadap pemeluknya, maupun lintas agama yang semakin digencarkan dalam rangka mewujudkan kehidupan yang harmonis, toleran, dan humanis sebagai makhluk sosial.

Pada segi politik, massivenya ideologisasi gerakan keagamaan dan semakin meningkatnya doktrin agama yang ramah sangat berdampak pada tindakan sosial masyarakat, maupun sistem pemerintahan khsusunya di Indonesia. Seperti halnya pada moment-moment pemilihan pemimpin beberapa tahun silam, gerakan ideologi keagamaan khususnya di Indonesia mewarnai panggung perpolitikan dan hangat diperbincangkan.

Demikian dikarenakan adanya cara pandang yang berbeda dari berbagai kubu. Bahkan kerap kali terjadi kericuhan dikala gerakan tersebut digencarkan dengan misi tertentu dalam mencapai tujuannya. Seperti halnya pemilu 2019 yang diwarnai gerakan ideologi politik yang menyebabkan umat islam terpecah belah menjadi beberapa kubu dengan keyakinannya masing-masing atas nama agama, meski sesama Islam.

Massivenya ideologisasi keagamaan di dunia modern saat ini menjadikan keuntungan tersendiri bagi suatu bangsa dalam rangka menciptakan peradaban sosial, politik dan berbagai lini lainnya agar terhindar dari konflik sosial. Dengan begitu doktrin agama yang ramah perlu untuk digencarkan di setiap sisi kehidupan, seperti halnya di media sosial sebagai wadah baru dalam menyebarluaskan nilai-nilai keagamaan.

Pada segi ekonomi, hal demikian juga berdampak besar pada tindakan yang sekiranya menguntungkan banyak kalangan. Agama-agama dengan doktrin ramah akan menjadikan dunia ekonomi. Sebagaimana agama Islam dalam menekankan pada bidang ekonomi sebagai salah satu penunjang kehidupan begitu nampak disarankan. Hal demikian yang akan mendorong pada kemajuan suatu bangsa, masyarakat, dan hal-hal baik atas nama kemansiaan.

Baca juga:  Pincangnya Nasionalisme Milenial: Memilih Gaya Artis Korea yang Berpakaian Gamis Arab

Sebagaimana fungsi agama untuk menciptakan kshidupan yang damai, harmonis, tentram dan jauh dari konflik, maka sisi ekonomi yang baik nantinya akan menciptakan kehidupan yang sebagaimana diharapkan, yaitu jauh dari konflik. Kerap kali kurangnya pemahaman umat beragama terhadap pentingnya memperhatikan sisi ekonomi dalam kehidupan kerap kali penyelewengan dalam memanfaatkannya.

Bahkan ketika terjadi permasalahan ekonomi menjadi salah satu sumber konflik dalam suatu golongan maupun negara. Terlebih gerakan ideologisasi keagamaan jika ditekan dan tidak muncul dalam kehidupan masyarakat maka akan meminimalisir tindakan yang mengarah pada kerusakan, dan kekerasan.

Dalam segi aspek budaya, signifikasi dokrin agama tidak jauh beda dari aspek sosial. Bahwa budaya erat kaitannya dengan aspek sosial, maka unsur budaya baik dalam agama maupun dalam daerah tertentu memiliki power sebagai identitas tententu. Maka doktrin agama yang ramah akan menjadikan sistem budaya seorang yang beragama di daerah tertentu akan mengalami perubahan kepada sistem kehidupan atau budaya hidup yang harmonis dan ramah dalam segi sosial.

Maka budaya tertentu dalam agama atau pun daerah tertentu tergantung bagaimana dokrin agama yang digencarkan dan dikenal masyarakat sekitar, karena agama merupakan rujukan penuh dalam hidup yang dalam pandanggannya harus dilakukan secara utuh dan penuh totalitas.

Baca juga:  Mengenang Gus Dur dan Rekonsiliasi Damai di Maluku

Aspek budaya menjadi faktor penting dalam menentukan masa depan suatu bangsa atau agama jika diterapkan dalam realitasnya baik. Karena suatu bangsa jika kebudayaannya penuh dengan kehancuran akhibat dari doktrin agama yang salah, maka sebuah keniscayaan bahwa suatu saat akan memunculkan berbagai konflik sosial.

Berikutnya dari segi hukum, bahwa gerakan ideologi keagamaan di Indonesia pada masa modern saat ini banyak menuai pendapat dan respon dari berbagai gerakan keagamaan. Baik sistem hukum di Indonesia yang sifatnya demokrasi dianggap sebagai sistem yang dzolim dari gerakan keagamaan ekstrem, maupun dari gerakan keagaman moderat yang lebih terbuka.

Dengan adanya doktrin agama yang ramah dalam menyikapi suatu sistem hukum di Indonesia, setidaknya akan menekan pemahaman yang kurang tepat terkait sistem hukum yang memang dianggap dzolim oleh kelompok ektrem. Justru berbanding terbalik dari sikap gerakan keagamaan yang sifatnya lebih dinamis dalam memandang hukum dan lebih moderat.

Dokrtin yang ramah nantinya akan mencakup berbagai lini kehidupan baik sosial, ekonomi, pilitik, budaya bahkan lini lainnya yang pada dasarnya menciptakan kehidupan yang damai, tentram, harmonis tanpa adanya konflik, hal demikian yang pada dasarnya inti dari beragama.

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top