Perjalanan Jilbab, dari Quraisy Shihab, Gus Dur, hingga Artis

Mutimmatun Nadhifah

Perjalanan literasi kerudung atau jilbab atau hijab mengalami tiga periode. Pertama, literasi yang begitu kuat mengekspresikan gagasan ideologis keislaman yang begitu kuat. Muslim perempuan Indonesia sebenarnya sudah lama memiliki bentuk pakai semacam kerudung, cuma belum begitu kuat diartikulasikan sebagai identitas keislaman.

Namun, seiring proses pembaharuan Islam yang sedikit banyak lebih mengedepankan keislaman yang bersifat kultural pada masa Orde Baru, kerudung mulai mendapatkan peran identitas keislaman. Umat Islam Indonesia mulai memperhatikan pemikiran perihal hijab yang berkembang di Timur Tengah.

Beberapa buku yang ditulis oleh intelektual dari Timur Tengah dengan bobot intelektualitas ideologis kuat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kita pantas ajukan buku yang ditulis oleh Husein Shahab berjudul Jilbab Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah (1986), buku Hijab Gaya Hidup Wanita Islam (1988) yang ditulis Murthada Muthahhari, Wanita Islam dan Gaya Hidup Modern (1984) karya Hassan Al-Ghaffar, atau karya Abul A’la Maududi yang berjudul Al-Hijab (1993), dan seterusnya.

Inilah buku-buku bersifat sangat ideologis. Jilbab tidak hanya menjadi definisi sebuah benda yang dikenakan oleh perempuan. Makna jilbab berkembang menjadi wacana yang dijadikan rujukan, didiskusikan, diklarifikasi, dan diperdebatkan secara ideologis.

Perjalanan literasi kedua adalah saat hijab mulai menampakkan politik identitas umat Islam. Periode ini terjadi sejak awal 80-an saat Orde Baru begitu gigih menguasai panggung politik nasional, namun semakin mendapati umat Islam yang semakin kuat menyebar di berbagai bidang.

Terjadilah perbenturan politik identitas yang mendapatkan momentum saat seorang remaja SMA negeri di Bandung memakai jilbab ke sekolahnya. Dia dikeluarkan dan terjadilah heboh nasional hanya gara-gara satu jilbab.

Abdurrahman Wahid (2000: 50-52) dalam bukunya berjudul Melawan Melalui Lelucon menulis esai berjudul Kerudung dan Kesadaran Beragama. Bagi Gus Dur, kerudung yang semula menjadi urusan pribadi dalam memahami agama lalu beranjak menjadi wacana publik yang melibatkan negara. Kemunculan kaum perempuan berkerudung di lingkungan yang “tidak biasa”, seperti sekolah SMA negeri pada masa itu, adalah respons wajar dari seorang remaja terhadap ketidakpuasan teknologi yang semakin subur akibat pembangunan ekonomi yang begitu dominatif.

Baca Juga:  Melawan PKI dengan Selawat Badr

Gus Dur juga menganggap bahwa berkerudung pada masa Orde Baru khususnya untuk anak sekolah negeri menjadi pilihan memahami agama. Namun, sekaligus menjadi ancaman terhadap stabilitas negara yang begitu dijaga ketat pemerintah Orde Baru.

Menjelang tahun 1990 awal, perjalanan literasi hijab berkembang menjadi identitas wanita Islam yang semakin mapan dalam ruang publik Indonesia. Intelektual perempuan Miranda Risang Ayu dalam buku kumpulan kolomnya yang berjudul Cahaya Rumah Kita (1998: 54) menulis bahwa hijab bukan lagi persoalan idealitas sebagai muslimah.

Bahkan, hijab sudah menjadi cara yang harus diperjuangkan demi melindungi perempuan dari pelecehan seksual, sehingga makna hijab bukan hanya persoalan sehelai kain yang menutupi kepala. Hijab sudah sampai sebentuk pemaknaan beragama yang begitu bertaut dengan praktik sosial seseorang, sebagai sikap yang memang mengesankan sekaligus menegaskan bahwa dia adalah perempuan yang pantas dihormati.

Kita tentu harus menyebutkan buku yang terus mengalami cetak ulang berkali-kali yang ditulis oleh Quraish Shihab: Jilbab (2014). Dalam buku ini, Quraish Shihab menulis jilbab dan beberapa hal terkait dengan jilbab seperti makna aurat, batas-batas tubuh yang harus ditutupi oleh wanita.

Tema-tema ini digarap dengan merujuk pendapat-pendapat tokoh klasik maupun kontemporer juga dengan merujuk pada Alquran dan hadis-hadis Nabi Muhammad. Kita bisa menyebut inilah buku rangkuman masalah dan solusi jilbab bagi wanita muslim Indonesia.

Baca Juga

Setelah Orde Baru runtuh pada 1998, kita pun diberi tahu bahwa jilbab bukan hanya untuk menutupi aurat sebagaimana ajaran Islam seperti yang ditekankan oleh buku-buku hijab awal, namun sudah lebih dari itu. Hijab bisa berarti fashion style yang tak kalah modis tapi sekaligus identitas seseorang wanita.

Baca Juga:  Bagaimana Para Ulama Menghormati Nabi Muhammad?

Saat ini kita dengan gampang menemukan majalah, tabloid jilbab, atau buku-buku hijab, dengan kemasan memukau. Di halaman depan jilbab, bisa kita temukan foto-foto artis atau model yang mengenakan jilbab.

Foto-foto ini memberi kesempurnaan sebuah majalah atau tabloid layak didistribusikan sebagai fashion magazine kaum urban. Di dalam majalah atau tabloid jilbab, kita akan menemukan cara-cara atau yang biasa kita kenal dengan tutorial hijab.

Bahkan kita tidak hanya akan menemukan gambar tapi juga akan menemukan link-link yang bisa kita akses di YouTube agar kaum perempuan mengunduhnya lalu mempraktikkannya. Anisa Rahma adalah satu contoh, mantan personel Cherrybelle ini mantap berhijab setelah negosiasi dengan orangtua dan searching selama tiga hari di internet (Solopos, 07 Agustus 2016).

Kita menyadari literasi jilbab beralih dari sebuah diskursus keagamaan menjadi kecepatan perempuan mengikuti mode pakaian. Cerita artis yang memutuskan untuk mengenakan jilbab akan menjadi sajian khusus dan kisah inspiratif dalam satu majalah mode atau dalam suatu festival, tentu dengan produk kosmetik yang menunjang keserasian berbusana.

Pergantian literasi jilbab telah mencapai bagian ketiga, tahap yang menyadarkan kita bahwa menjadi muslimah harus mempunyai ongkos mahal dan terutama harus mengikuti tren mode hijab mutakhir.

Lihat Komentar (2)
  • Tulisan menarik. Hanya ingin menambahkan, kita tidak boleh lupa dengan peran seorang Emha Ainun Nadjib dalam perjuangannya mengenai jilbab. Teater dan puisi Lautan Jilbab tahun 80an dengan keliling Indonesia adalah bukti nyata beliau dalam perkembangan jilbab di Indonesia. Selain itu beliau beberapa kali menemani dan membantu para perempuan yang dilarang memakai jilbab oleh perusahaan atau lembaga lainnya. Terima Kasih.. 🙏🙏

  • Bagus ulasannya, hanya ingin menambahkan yang belum ditulis mengenai peran seorang Emha Ainun Nadjib dalam memperjuangkan jilbab di Indonesia. Teater, puisi Lautan Jilbab dan berbagai peran beliau lewat advokasi dan lainnya sangat berperan dalam kedaulatan bersikap untuk memilih mengenakan jilbab. Terima Kasih.. 🙏🙏

Komentari