Sedang Membaca
Gus Dur dan Yasser Arafat: Manuver Diplomatik Membela Palestina
Munawir Aziz
Penulis Kolom

Kolumnis dan Peneliti, meriset kajian Tionghoa Nusantara dan Antisemitisme di Asia Tenggara. Kini sedang belajar bahasa Ibrani untuk studi lanjutan

Gus Dur dan Yasser Arafat: Manuver Diplomatik Membela Palestina

Humor Pesantren, dari Kiai Wahab Hingga Gus Dur

Pada sebuah hari di pertengahan Agustus 2000, suasana politik Jakarta sedang menghangat. Hanya berselang kurang dari 24 jam, Presiden Abdurrahman Wahid menerima kunjungan tamu kehormatan dari Israel dan Palestina. Sejak awal menjabat sebagai Presiden Indonesia, Gus Dur langsung menempatkan isu luar negeri dan politik internasional sebagai prioritas kebijakan.

Gus Dur melakukan manuver politik dengan menyelenggarakan lawatan diplomatik ke beberapa negara. Selama 10 bulan menjabat sebagai presiden, Gus Dur tercatat sudah mengunjungi lebih 30 negara. Ini tentu saja rekor dalam sejarah kepresidenan di Indonesia.

Pada pertengahan Agustus tahun 2000, Gus Dur bertemu dengan Mantan Perdana Menteri Israel Shimon Peres dan beberapa anggota kabinet Israel. Pertemuan ini merupakan agenda diplomatik penting, selain karena Gus Dur telah lama bersahabat dengan Peres, juga di tengah konstelasi geo-politik dan masa depan perdamaian Israel-Palestina.

Selain itu, Gus Dur juga terjadwal bertemu dengan pemimpin Palestina Yasser Arafat untuk dialog lebih jauh terkait inisiasi perdamaian di kawasan Timur Tengah. Arafat berkunjung ke beberapa negara, di antaranya Indonesia, untuk menjaring dukungan internasional kepada Palestina.

Yasser Arafat melangsungkan kunjungan ke Jakarta untuk berdialog dengan presiden Abdurrahman Wahid. Dalam kesempatan itu, Yasser Arafat mengungkapkan keinginan untuk mendeklarasikan kemerdekaan Palestina, yang direncanakan pada 13 September 2000.

Ungkapan Arafat ini merupakan bentuk reaksi dari gagalnya kesepakatan Camp David yang didukung Presiden AS Bill Clinton. Sementara, Shlomo Ben Ami (Menteri Luar Negeri Israel) mengungkapkan betapa jalan damai harus disiapkan dan dikaji ulang, setelah  runtuhnya kesepakatan Camp David.

Baca juga:  Kliping Keagamaan (20): Kamus, Agama, Indonesia

Di tengah negosiasi dengan Shimon Peres maupun Yasser Arafat, Gus Dur menawarkan proposal rencana perdamaian dengan melibatkan Indonesia. Tentu, dengan pertimbangan bahwa Indonesia merupakan negara besar dengan mayoritas warganya muslim. Kenyataan itu, tentu menjadi potensi bagi perwujudan perdamaian Israel-Palestina.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

“In my view, we better differenciate between administrative sovereignty, which will be in the hands of the Israelis, and political sovereignty, which will be conducted by a committe of seven states.” Demikian pernyataan Gus Dur, sebagaimana arsip WSJ (16 Agustus 2000).

Tujuh negara ini, termasuk Mesir, Jordania, Syiria, Lebanon, Palestina, Israel serta melibatkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations). Gus Dur menilai, dengan memasukkan Indonesia, akan ada perimbangan dan sekaligus terbuka solusi baru dalam inisiasi perdamaian.

Dari liputan Jay Solomon (Wall Street Journal), Presiden Gus Dur menyampaikan betapa Indonesia merasa terhormat jika diundang untuk membantu menyelesaikan deadlock upaya perdamaian Israel-Palestina. Dalam pernyataan Gus Dur, tantangan besar terkait upaya perdamaian kedua belah pihak, yakni pada pembahasan status kedaulatan Jerusalem.

“It’s attempt to break the ice. If they invite Indonesia to participate in the discussions, that will be fine,” demikian Gus Dur menyampaikan terkait rencana perdamaian Israel-Palestina (NYTimes, 16/08/2000). Gus Dur mengusulkan, agar Indonesia dilibatkan dalam pembahasan masa depan perdamaian di Timur Tengah.

Pada Camp David, Perdana Menteri Israel Ehud Barak menawarkan Palestina akses terbatas terhadap kawasan timur Jerusalem, kawasan yang dikuasai Israel pada pertempuran Timur Tengah tahun 1967. Sementara, Yasser Arafat menginginkan kedaulatan penuh.

Baca juga:  Paradigma Keberagaman dan Sengkarut Pelibatan Militer

Arafat, menegaskan bahwa keputusan untuk deklarasi Palestina, akan dilangsungkan segera setelah mendapat dukungan politik dari negara-negara yang selama ini menjadi sahabat. Bahwa, keputusan akan diambil pada “…the beginning of next month. We have decide the course, but we have to reasses this..” ungkap Arafat di Jakarta, sebagaimana liputan Irish Times (Arafat Considering Independence Call, 17 Agustus 2000).

Pada Agustus 2000, kondisi Timur Tengah sempat memanas karena ambruknya kesepakatan Camp David. Shimon Peres melakukan lawatan ke beberapa negara, di antaranya China, untuk memperkuat lobi Israel. Setelah sebelumnya, Yasser Arafat juga melakukan kunjungan ke beberapa negara.

“I didn’t come to mobilise anybody to support Israel against the Palestinians. Our wish is to support the peace,” ungkap Shimon Peres, dalam kunjungannya ke China (BBC, 16 Agustus 2000). Lawatan Shimon Peres bersama delegasi Israel ke beberapa negara, nyata sebagai upaya mengimbangi lobi-lobi dari Yasser Arafat maupun tokoh-tokoh Palestina.

Manuver-manuver Gus Dur dalam isu Israel-Palestina mengundang kekaguman sekaligus cibiran. Bagi mereka yang paham konteks geopolitik dan zig-zag politik Gus Dur, tentu saja langkah-langkah itu dianggap sebagai kemajuan untuk inisiasi perdamaian. Namun, sebaliknya cibiran dan kecaman juga datang bertubi-tubi kepada Kiai Abdurrahman Wahid.

Yasser Arafat memberikan pujian kepada Gus Dur karena dukungan konsisten untuk perdamaian Israel-Palestina. Pujian ini ironis, di  tengah kontroversi dan kecaman bertubi-tubi karena upaya Gus Dur membangun jalur diplomatik resmi dengan Israel, sebagai strategi untuk menegosiasikan perdamaian Timur Tengah. Diplomat Palestina untuk Indonesia, Ribbi Awwad, menegaskan betapa Indonesia sangat beruntung memiliki aset seperti Kiai Abdurrahman Wahid (Greg Fealy, Gila Gus Dur: Wacana Pembaca Abdurrahman Wahid, hal. 150-152).

Baca juga:  Merawat Masjid Kita

Gus Dur memang bersahabat dengan Yasser Arafat, serta mendukung penuh upaya rakyat Palestina membangun kedaulatan. Namun, Gus Dur juga mengecam Arafat manakala pemimpin Palestina itu juga mengamini kekerasan dalam melawan Israel. Di sisi lain, Gus Dur juga mengecam PM Israel Ariel Sharon yang menempuh jalur kekerasan, terutama pada serangkaian serangan militer Israel ke beberapa kawasan Palestina pada April 2002.

Dalam sepanjang sejarah hidupnya, Gus Dur konsisten membela kedaulatan Palestina. Keberpihakan pada Palestina, telah dibuktikan Gus Dur jauh sebelum menjadi Presiden. Pada 1982, ketika menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Gus Dur menyelenggarakan pentas puisi ‘Malam Solidaritas Palestina’. Beberapa sastrawan ternama terlibat dalam agenda itu, di antaranya Taufiq Ismail, WS Rendra, dan KH. Mustofa Bisri (Gus Mus).

Jalan panjang Gus Dur dalam bersahabat dengan Yasser Arafat, serta dukungannya untuk kedaulatan Palestina, haruslah dibaca secara utuh. Tentu saja, dengan menempatkan puzzle atas manuver-manuver Gus Dur membangun relasi diplomatik resmi dengan Israel, serta jalinan persahabatan Gus Dur dengan para Rabbi dan komunitas Yahudi, baik di Israel maupun negeri lainnya (*).

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
2
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top