Sedang Membaca
Kisah Sufi Unik (49): ʻAli al-Kharaqani Menukar Nasib
Mukhammad Lutfi
Penulis Kolom

Alumnus Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Kisah Sufi Unik (49): ʻAli al-Kharaqani Menukar Nasib

Hafsyah Hawa 20201108 110850 0

ʻAli al-Kharaqani, nama lengkapnya ʻAli bin Ahmad al-Kharaqani. Semantara itu di dalam catatan kitab Kasyfu al-Mahjub namanya adalah Ali bin Ja’far. Al-Kharaqani di belakang namanya dinisbatkan pada tempat kelahirannya, kampung Kharaqan, daerah pegunungan di Bistam. ʻAli al-Kharaqani juga dikenal dengan Abu al-Hasan al-Kharaqani, yang merupakan nama kuniyahnya. Perihal tahun kelahirannya, adayang mengatakan ʻAli al-Kharaqani lahir di tahun 352 H. Sementara tahun wafatnya, di dalam Kasyfu al-Mahjub disebutkan bahwa ʻAli al-Kharaqani wafat pada 425 H.

Masih dalam catatan Kasyfu al-Mahjub, diinformasikan ʻAli al-Kharaqani merupakan murid dari Abu al-ʻAbbas al-Qaṣṣab dan hidup sezaman dengan Abu ʻAli al-Daqaq, Abu Abdurrahman al-Sulami, dan Abu Saʻid al-Mihani. Selain belajar kepada Abu al-Abbas al-Qaṣṣab, ʻAli al-Kharaqani juga dikatakan merupakan murid dari Abu Yazid al-Bistami–dikatakan juga al-Bustami– padahal keduanya tidak hidup sezaman. Kedua sufi ini mempunyai hubungan spiritual yang sulit diterima nalar. Tersebab itulah corak kesufian ʻAli al-Kharaqani banyak dipengaruhi Syekh Yazid al-Bistami.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Lebih lanjut ihwal hubungan ʻAli al-Kharaqani dengan Abu Yazid al-Bistami ini, Fariduddin al-Aṭṭar pernah menceritakan, bahwa Abu Yazid al-Bistami memiliki kebiasaan setiap tahunnya menziarahi makam syuhada’ di Dihistan. Untuk sampai ke Dihistan Abu Yazid dan rombongannya harus melewati Kharaqan. Setiba di Kharaqan Abu Yazid berhenti seraya mengendus, para sahabatnya lalu bertanya ihwal yang terjadi pada Abu Yazid.
“Apa yang kau lakukan Syekh Abu Yazid?” tanya beberapa sahabatnya.

Baca juga:  Kisah Sufi Unik (12): Syaqiq al-Balkhi, Di-Skak Penyembah Berhala

“Aku mencium di daerah ini–Kharaqan– akan ada seorang tokoh bernama ʻAli dan memiliki kuniyah Abu al-Hasan.” jawab Syekh Abu Yazid.
Wallahu Aʻlam, padahal saat itu ʻAli al-Kharaqani belum dilahirkan ke dunia.
Pada kisah yang lain dikatakan, setiap kali pulang dari menziarahi makam Abu Yazid, ʻAli al-Kharaqani selalu berjalan mundur dari Bistam menuju Kharaqan. Itu tak lain karena ʻAli al-Kharaqani amat menghormati Syekh Abu Yazid. ʻAli al-Kharaqani tak mau membelakangi makam Syekh Abu Yazid.

Di balik kisah-kisah spiritual mistiknya, ʻAli al-Kharaqani juga pernah mengalami peristiwa yang unik namun tetap tidak mengurangi kespiritualitasannya. Berikut kisahnya:
Suatu hari Abu Saʻid al-Mihani datang kepada ʻAli al-Kharaqani. Dikatakan bahwa Abu Saʻid al-Mihani adalah sufi yang cukup kaya dan serba berkecukupan, sementara itu ʻAli al-Kharaqani menjalani hidupnya dengan laku prihatin. Rupa-rupanya keduanya berkeinginan untuk bertukar nasib satu sama lain. Keduanya lalu sepakat dan saling rangkul. Atas izin Allah, keinginan kedua sufi ini pun menjadi kenyataan.

Abu Saʻid al-Mihani menjalani hidupnya dengan laku prihatin, setiap malam tersungkur dan menangis. Sementara ʻAli al-Kharaqani sepanjang hari hidupnya diwarnai ringkikan tawa, ia menari kesana-kemari. Hingga pada suatu ketika ʻAli al-Kharaqani tak kuat menjalani kehidupan seperti itu.

Baca juga:  Kisah Sufi Unik (24): Humor Sudah Jadi Identitas Sufi Sejak al-Murta'isy

“Wahai Syekh Abu Saʻid al-Mihani, aku menginginkan keadaanku seperti yang dulu, penuh keprihatinan dan kesedihan, aku tak kuat menjalani hidup penuh kegembiraan semacam ini. Karena bagiku kesedihan jauh lebih baik dari segala kegemberiaan yang ada di dunia ini.” tutur ʻAli al-Kharaqani kepada Abu Saʻid al-Mihani.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Keduanya sepakat, kemudian saling rangkul sebagaimana dilakukan saat tukar nasib yang telah keduanya lakukan sebelumnya. Atas izin Allah, kehidupan keduanya kembali seperti semula.

نَظَرْتُ إلَى بَقَائِهِ فَأَرَانِيْ فَنَائِيْ، وَ نَظَرْتُ إلَى فَنَائِيْ فَأَرَانِيْ بَقَائِهِ

“Naẓartu ilā baqāihi faʼarānī fanāʼī, wanaẓartu ilā fanāʼī faʼarānī baqāihi.”
“Aku mengamati kekekalan-Nya maka aku melihat kefanaʼan dalam diriku, dan aku mengamati kefanaʼan dalam diriku maka aku melihat kekekalan-Nya.”
Wallahu Aʻlam.

Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top