Muhammad Romli
Penulis Kolom

Lahir di Sumenep, Santri KH. Hafidhi Syarbini. Pendidikan terakhir S1 Hukum Keluarga Islam.

6 Nasehat Imam Ghazali Saat Ta’ziyah dalam Kitab Mukasyafatul Qulub

Ketika kita mendengar kata adab maka yang  terbesit dalam  benak kita adalah etika dan kesopanan. Ulama dan cendikiawan muslim mendefinisikan adab adalah kesopanan dan berbuatan baik. Intinya semua orang memahami adab adalah segala bentuk prilaku manusia yang baik dan orang yang melihatnya tidak merasa terganggu.

Jika adab ditelaah lebih mendalam lagi, ternyata adab bukan hanya terkait perilaku dzahir (yang tampak), akan tetapi termasuk juga aktivitas jiwa dan akal (batin). Adab dzahir dan batin harus berjalan secara seimbang, tidak ada yang di atas maupun di bawah. Keduanya harus berjalan beriringan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Ketika seseorang lebih mengutamakan adab batin sementara perilaku dzahir tidak terlalu diperhatikan maka akan membuat kesalahan persepsi bagi orang sekitar dan bahkan akan menimbulkan ketidakharmonisan antar sesama. Begitu juga sebaliknya, apabila seseorang mendahulukan adab dzahir tidak diimbangi dengan adab batin maka akan memunculkan sifat riya’, ujub dan sebagainya.

Sebagai masyarakat ketimuran, kita bangsa Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai kesopanan dan keluhuran jiwa. Hal itu tercermin sebelum kemerdekaan Indonesia. Praktik toto kromo sudah dipraktikkan pada waktu bumi nusantara masih berbentuk kerajaan-kerajaan. Saat rakyat biasa menghadap seorang raja maka dihadapan raja tidak boleh berjalan dengan berdiri seperti biasa, akan tetapi harus berjalan menunduk, ngesot sambil menghaturkan sesembahan.

Baca juga:  Memahami Seluk-beluk Wahdatul Wujud

Kemudian aturan seperti itu diadopsi oleh Wali Songo dan dikolaborasikan dengan ajaran Islam yang benar. Hasilnya, penghormatan terhadap sesama tidak kebablasan namun juga tidak keluar dari norma kesopanan itu sendiri. Dan itulah yang menjadi cikal bakal perilaku para santri sekarang ini.

Adab atau kesopanan tidak melulu dipraktikkan kepada manusia yang masih hidup, ternyata ada pula hal-hal yang harus dilakukan kepada jenazah selain memandikan, mengkafani, menyolatkan dan menguburkannya, toh mereka juga pernah hidup. Islam juga mengajarkan adab terhadap orang yang sudah wafat. Inilah enam adab saat ta`ziyah versi Imam Ghazali dalam kitab Mukasyafatul Qulub hlm. 308:

Pertama. (Betafakkur), memikirkan segala amal perbuatan selama hidup di dunia. Kedua. (Memberi peringatan), ketika melihat orang meninggal sebaiknya kita merasa bahwa dia adalah gambaran kita, mau tidak mau kita pasti akan seperti itu juga. Ketiga. (Mempersiapkan diri), dengan aml-amal yang terbaik kita karena hanyalah itulah yang kita bawa, bukan harta atau kerabat. Keempat. (Berjalan di depan jenazah), ketika hendak mengantarkan jenazah ke tempat pemakaman sebaiknya berjalan di depan beranda jenazah, dengan catatan yang membawa jenazah sudah lebih dari cukup. Kelima. (Berbaik sangka kepada jenazah), kita tidak boleh berburuk sangka kepada jenazah sekalipun di masa hidupnya dia selalu melakukan perbuatan buruk,  karena kita tidak mengetahui rahasia Allah, siapa tahu dibalik perbuatan jeleknya dia beristighfar lalu Allah  mengampuni dosa-dosanya. Keenam (berburuk sangka terhadap diri sendiri), artinya kita tidak boleh merasa lebih baik terhadap orang lain termasuk terhadap jenazah, walaupun kenyataannya sekarang kita lebih banyak melakukan kebaikan, namun nasib tidak ada yang tauhu. Boleh jadi kita nanti terjerumus kepada jurang kebatilan dan tidak sempat bertaubat lalu kita meninggal, maka artinya kita meninggal dalam keadaan su`ul khatimah.  Naudzu billahi min dzalik.

Enam adab versi Imam Ghazali itulah yang perlu kita amalkan dalam kehidupan bermasyarakat kita. Semoga bisa.

Baca juga:  Sabilus Salikin (52): Tarekat Ghazaliyah

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top