Sedang Membaca
Memahami Pemikiran Al-Ghazali (6): Menyanggah Filosof yang Menyimpang
Penulis Kolom

Guru Ngaji di Kampung. Pengajar di Institut Keislaman Abdullah Faqih Manyar Gresik, Jawa Timur. Alumni Pusat Studi Qur'an Ciputat dan Pascasarjana IAIN Tulungagung prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir. Menulis sejumlah buku bertema keislaman. Peneliti Farabi Institute.

Memahami Pemikiran Al-Ghazali (6): Menyanggah Filosof yang Menyimpang

9dff3b38 5c79 4e8a B1f0 209c35a843db

Oliver Leaman dalam Pengantar Filsafat Islam menulis bahwa Al-Ghazali seringkali menyerang para filosof dengan dasar argumen yang mereka pergunakan sendiri, sambil menyampaikan pendapatnya secara filosofis dengan menyatakan bahwa tesis-tesis utama mereka adalah tidak benar dilihat dari sudut-sudut dasar logika itu sendiri.

Sebagai contoh, dalam bukunya The Incoherence of the philosophers (Tahafut al-Falasifah), Al-Ghazali membentangkan dua puluh pernyataan yang ia coba buktikan kesalahannya. Dalam Tahafut al Falasifah, Imam Ghazali mengatakan bahwa para filosof telah banyak mengungkapkan argumentasi yang bertentangan dengan Al-Qur’an sehingga dia menganggap para filusuf telah mengingkari Al-Qur’an bahkan Imam Ghazali mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang kafir.

Adapun hal-hal yang dilanggar oleh para filsuf menurut Al Ghazali ada 20 persoalan yaitu 16 dalam bidang metafisika dan 4 dibidang fisika namun dari 20 hal itu 17 hal digolongkan dalam Ahl al Bida’ dan berkenaan dengan 3 hal lainnya para filusuf dikatakan sebagai orang kafir.

Tiga hal tersebut adalah sebagai berikut: pertama, pendapat filosof tentang qidam-nya Alam. Al-Ghazali berpendapat bahwa pemikiran para filosof tentang metafisika bertentangan dengan ajaran Islam. Untuk itu, ia mengecam secara langsung dua tokoh Neo-Paltonisme muslim, Ibnu Sina dan Al-Farabi dalam masalah alam tidak bermula (qadim), Tuhan tidak mengetahui perincian sesuatu yang bersifat partikular dan tidak adanya kebankitan jasmani.

Di kalangan pemikir Yunani seperti Aristoteles, alam adalah qadim dalam arti kata tidak ada awalnya. Paham ini juga dianut para filosof muslim seperti Ibnu Sina dan Al Farabi. Mereka membuat beberapa alasan yaitu: pertama, Mustahil secara mutlak yang baharu muncul dari yang qadim dan kedua, Tuhan lebih dahulu daripada alam.

Tentang penciptaan alam, Al-Ghazali mempunyai konsep yang sangat berbeda dari konsepsi yang dimiliki para filosof Muslim. Para filosof Muslim, diwakili oleh Ibnu Sina dan al-Farabi, berpendapat bahwa alam itu azali, atau qadim, yakni tidak bermula dan tidak pernah ada. Sementara itu, Al-Ghazali berpikir sebaliknya.

Baca juga:  Ngaji kepada Gus Baha: Dua Penghuni Neraka yang Dimasukkan Surga

Al-Ghazali menegaskan bahwa alam semesta ini adalah ciptaan tuhan dan oleh karena itu alam semesta ini bersifat baru al-Ghazali membedakan tuhan dengan alam semesta yaitu dengn keqadimanya dan kebaruan alam, oleh sebab itu wujud tuhan yang qodim menjadi sebab bagi wujud yang baru, dan sesuatu yang baru membutuhkan terhadap sesuatu yang menjadikannya.

Bagi Al-Ghazali, bila alam itu dikatakan qadim, mustahil dapat dibayangkan bahwa alam itu diciptakan oleh Tuhan. Jadi paham qadim-nya alam membawa kepada simpulan bahwa alam itu ada dengan sendirinya, tidak diciptakan Tuhan. Dan, ini berarti bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an yang jelas menyatakan bahwa Tuhanlah yang menciptakan segenap alam (langit, bumi, dan segala isinya).

Bagi Al-Ghazali, alam haruslah tidak qadim dan ini berarti pada awalnya Tuhan ada, sedangkan alam tidak ada, kemudian Tuhan menciptakan alam, alam ada di samping adanya Tuhan. Sebaliknya, bagi para filosof Muslim, paham bahwa alam itu qadim sedikit pun tidak dipahami mereka sebagai alam yang ada dengan sendirinya. Menurut mereka, alam itu qadim justru karena Tuhan menciptakannya sejak azali/qadim. Bagi mereka, mustahil Tuhan ada sendiri tanpa mencipta pada awalnya, kemudian baru menciptakan alam.

Gambaran bahwa pada awalnya Tuhan tidak mencipta, kemudian baru menciptakan alam, menurut para filosof Muslim, menunjukkan berubahnya Tuhan. Tuhan, menurut mereka, mustahil berubah, dan oleh sebab itu mustahil pula Tuhan berubah dari pada awalnya tidak atau belum mencipta, kemudian mencipta. Luar, karena kehendak sendiri itulah yang menjadi sumber dari pembedaan itu, than memilih saat tertentu bagi penciptaan alam semesta, tidak ada cara dalam menjelaskan pilihan Tuhan dalam hal apapun.

Al-Ghazali menjawab alasan-alasan para filosof tersebut dengan membedakan antara iradat yang qadim dengan apa yang dikehendakinya. Kehendak Allah yang azali adalah mutlak, artinya bisa memilih sewaktu-waktu tertentu, bukan waktu lainnya, tanpa ditanyakan sebabnya karena sebab tersebut adalah kehendakNya sendiri. Kalau masih ditanya sebabnya, maka artinya kehendak Tuhan itu terbatas tidak lagi bebas.

Baca juga:  Sabilus Salikin (53): Dasar-Dasar Tarekat Ghazaliyah

Tuhan lebih dahulu daripada alam bukan dari segi zaman melainkan dari segi zat, seperti terdahulunya bilangan satu dari dua, atau dari segi kausalitasnya, seperti dahulunya gerakan seseorang atas gerakan bayangannya, sedang gerakan tersebut sebenarnya sama-sama mulai dan sama-sama berhenti, artinya sama dari segi zaman. Berarti Tuhan lebih dahulu daripada alam dan zaman, dari segi zaman, bukan dari segi zat, maka artinya sebelum wujud alam dan zaman tersebut, sudah terdapat suatu zaman dimana (tidak ada) murni terdapat didalamnya sebagai hal yang mendahului wujud alam.

Mengenai pandangan yang keliru dari para filosof ini, Al-Ghazali mengungkapkan pendapatnya sebagaimana ia paparkan dalam bukunya yang berjudul Munqidh min al-Dhalal bahwa “kekeliruan para filosof terdapat dalam ilmu-ilmu metafisik. Karena ternyata mereka tidak dapat memberikan bukti-bukti yang pasti menurut persyaratan yang mereka perkirakan ada dalam logika. Maka, dalam banyak hal mereka berbeda pendapat dalam persoalan-persoalan metafisik. Ajaran Aristoteles tentang masalah-masalah ini, sebagaimana yang dilansir oleh Farabi dan Ibnu Sina, mendekati inti pokok ajaran filsafat Islam.”

Kedua, pendapat filosof tentang pengetahuan Tuhan. Mengenai pengetahuan Tuhan, para filosof berpendapat bahwa Tuhan tidak mengetahui hal-hal kecil kecuali yang dengan cara kulliy. Dengan alasan yang baru ini dengan segala peristiwanya selalu berubah, sedangkan ilmu selalu bergantung kepada yang diketahui atau dengan kata lain perubahan perkara yang diketahui menyebabkan perubahan ilmu. Kalau ilmu berubah, yaitu dari tahu menjadi tidak tahu, atau sebaliknya berarti Tuhan mengalami perubahan, sedangkan perubahan pada zat Tuhan tidak mungkin terjadi.

Misalnya pada peristiwa gerhana matahari, sedangkan sebelumnya tidak gerhana dan gerhana akan hilang. Sebelumnya kita mengetahui gerhana itu tidak ada dan ketika terjadi gerhana pengetahuan kita berubah jadi mengetahui adanya gerhana, lalu ketika gerhana berlalu, pengetahuan kita berubah jadi mengetahui tidak ada gerhana lagi. Dari contoh ini bisa menunjukkan pengetahuan yang satu bisa menggantikan pengetahuan yang lain.

Baca juga:  Mengapa Syekh Nawawi al-Bantani Tak Jadi Pahlawan?

Tuhan mengetahui gerhana dengan segala sifat-sifat-Nya, pengetahuan yang azali, abadi dan tidak berubah-ubah seperti hukum alam yang menguasai terjadinya gerhana. Jadi Ilmu Tuhan mengetahui sejak azali karena sebab-sebab yang ditimbulkan oleh sebab-sebab lain yang sifatnya juz’i.

Menurut Al-Ghazali, Ilmu adalah suatu tambahan atau pertalian dengan zat, artinya lain dari zat. Kalau terjadi perubahan pada tambahan tersebut, maka zat Tuhan tetap dalam keadaan-Nya yang biasa, sebagaimana halnya kalau ada yang berdiri di sebelah kanan kita kemudian ia berpindah ke sebelah kiri kita, maka sebenarnya yang berubah adalah kita bukan Dia.

Ketiga, pendapat Filosof Tentang Bangkitnya Jasmani. Para filosof berkeyakinan bahwa alam akhirat adalah alam keruhanian, bukan materiil. Karena perkara keruhanian lebih tinggi nilainya daripada alam materiil. Karena itu pikiran tidaklah mengharuskan adanya kebangkitan jasmani, surga atau neraka serta segala isinya.

Pada intinya menurut mereka mustahil manusia dibangkitkan kembali dengan jasad yang semula, sebab jasad tersebut telah hancur dan terurai menjadi bahan makanan dan menjadi bagian dari tubuh makhluk lain seperti hewan, tumbuhan atau bahkan manusia lainnya.

Ada dua puluh pemikiran filosof yang disanggah oleh Imam Ghazali. Dari kedua puluh pemikiran tersebut ada tiga masalah yang dianggap menjadikan seseorang dianggap kafir. Yakni masalah keazalian alam, masalah tentang Allah yang tidak mengetahui partikular yang tercipta dari individu-individu dan pengingkaran terhadap kebangkitan raga. Kendati demikian, Imam Ghazali menegaskan bahwa dia tidak ingin terlibat dalam pengkafiran serta menilai mana yang benar dan mana yang salah agar pembahasan tentang dua puluh pemikiran para filosof tidak menyimpang.

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
2
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top