Sedang Membaca
Bahaya Belajar Al-Qur’an Tanpa Guru: Rasulullah Saja Berguru
M. Ishom el-Saha
Penulis Kolom

Dosen di Unusia, Jakarta. Menyelesaikan Alquran di Pesantren Krapyak Jogjakarta dan S3 di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Bahaya Belajar Al-Qur’an Tanpa Guru: Rasulullah Saja Berguru

Kecanggihan teknologi berupa aplikasi Al-Qur’an tak akan mampu menggantikan posisi para guru pengajar Al-Qur’an. Syekh al-Dhabba berkata bahwa belajar Al-Qur’an harus dengan ber-talaqqi (ketemu langsung) dan musyafahah (mengikuti gerak-gerik bibir) sang guru dalam melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an.

Dalam kitab al-natsr fi al-qiraat al-‘asyr juz 1 halaman 210-211, Syekh al-Dhabba’ menyampaikan bahwa sekalipun sudah ada mushaf yang dapat dipertanggungjawabkan (al-madhbutah) akan tetapi tidak ada dasarnya orang belajar Al-Qur’an tanpa guru. Oleh sebab itu beliau berpendapat tidak boleh belajar Al-Qur’an tanpa didampingi ulama yang ahli qiraatul Qur’an.

Nabi Muhammad saw saja setiap bulan Ramadhan selalu diminta Malaikat Jibril agar sorogan dengan cara mengulang kembali bacaan-bacaan ayat Al-Qur’an yang sudah sampai ke beliau. Padahal Rasulullah Saw adalah orang pertama sekaligus maha guru di bidang Al-Qur’an. Sekalipun demikian beliau selalu ber talaqqi dengan malaikat Jibril.

Begitu pula pencatat Al-Qur’an di masa Rasulullah, yaitu Zaid b. Tsabit. Dalam kitab al-Itqan fi Ulumum Al-Qur’an, halaman 59-60 disebutkan bahwa walaupun Zaid b. Tsabit merupakan penghapal Al-Qur’an akan tetapi pada saat mencatat ayat Al-Qur’an beliau selalu ber-talaqqi kepada Rasulullah Saw dan selalu dicocokkan dengan sahabat-sahabat lain yang sama-sama dikenal sebagai pencatat Al-Qur’an.

Nabi Muhammad Saw juga pernah bersabda: ambillah (ikutilah) bacaan dari 4 orang, yaitu: Ibn ummi Abd (Abdullah b. Umar), Mu’adz b. Jabal, Ubay b. Kaab, dan Salim maula Abi Hudaifah (HR. Bukhari dan Muslim). Imam Nawawi menjelaskan bahwa keempat tokoh ini direferensikan dalam bacaan Al-Qur’an sebab lebih fasih dan lebih meyakinkan sebab keempatnya belajar secara musyafahah kepada Rasulullah saw.

Baca juga:  Majelis Taklim dan Penawar Rasa Kepo

Berdasarkan keterangan itu, Abu Abdullah b. Abdussalam b. Ali dalam kitab al-Murayid al-Amiin Li al-Raghibin fi Hifd Al-Qur’an al-Adzim, halaman 185 menjelaskan bahwa orang yang belajar Al-Qur’an tanpa berguru berlebih dulu maka dia bertanggung jawab atas dosa yang disebabkan kesalahannya di dalam membaca Al-Qur’an.

Dengan nada sindiran, Imam Ashim seorang ahli qiraatul Qur’an juga bernah berkata kepada seseorang yang biasa membaca Al-Qur’an tetapi dia belum pernah berguru kepada ahli qiraat Al-Qur’an: “Aku tidak mendengar sama sekali dari mulutmu satupun huruf Al-Qur’an!”

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Peringatan serupa juga disampaikan Imam Nafi’ kepada pemuda yang baru belajar kepadanya. Beliau berpesan:… Bacaan Qur’an kita pada dasarnya merupakan bacaan para guru-guru kita. Kita mendengar langsung dari mereka. Kita jangan sampai membaca Al-Qur’an mengikuti nalar logika kita.

Selanjutnya Imam Nafi’ membaca ayat 88 Surat al-Isra’, yang seolah-olah beliau menyamakan pembaca Al-Qur’an tanpa bimbingan guru diumpamakan sekelompok manusia dan jin yang ingin membuat tandingan Al-Qur’an. Na’uzdubillah min zdalik!

Pada dasarnya belajar Al-Qur’an diharuskan lewat guru karena alasan yang masuk akal:

Pertama, dalam ilmu Al-Qur’an terdapat ilmu tajwid untuk memaksimalkan bacaan Al-Qur’an

Kedua, model bacaan Al-Qur’an yang disepakati ulama adalah hasil ijma’ ulama ahli tajwid.

Baca juga:  Qiraah Sab'ah 8: Kisah Imam Ashim dan Kedua Muridnya

Ketiga, membaca Al-Qur’an sesuai bacaan guru yang ahli Al-Qur’an pada dasarnya berusaha memaksimalkan tajwid Al-Qur’an yang telah disepakati dari semenjak ulama salafus shalih hingga ulama di masa sekarang.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top