Sedang Membaca
Syaifan Nur, Sang Sufi-Akademis
Ferdiansyah
Penulis Kolom

Peneliti muda di Institute of South East Asian Islam (ISAIs) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Syaifan Nur, Sang Sufi-Akademis

Whatsapp Image 2020 06 29 At 13.34.10

Tanggal 29 Juni 2020 pagi, saya dikagetkan dengan informasi WAG kelas tentang wafatnya guru spiritual-akademis Tasawwuf asal Aceh, Dr.H. Syaifan Nur, M.A. Sejenak kemudian saya merenung akan kenangan beberapa tahun sebelumnya, ketika beliau masih dengan riang gembira mengajar di kelas. Beliau merupakan sosok pengayom dan sosok guru sufi yang kami (semua muridnya) kagumi.    

Awal perjumpaan saya dengan beliau ketika semester 1 di Prodi Filsafat Agama (yang kemudian berganti menjadi Aqidah dan Filsafat Islam, pada 2016). Saat itu, Syaifan Nur mengajar Mata Kuliah Akhlak dan Tasawwuf sebagai materi dasar mengenal tasawwuf dan mengenal lebih dalam tentang diri manusia secara jasmani dan rohani. Seringkali suasana kelas penuh dengan canda tawa, karena beliau sering bernyanyi lagu-lagu romansa Rhoma Irama yang diakhiri dengan gelak tawa para mahasiswanya. Pun ketika berjumpa dengan mahasiswa asal Madura, seringakli menimpalinya dengan “Humor Madura”, memang sebagian besar mahasiswanya banyak berasal dari pulau Madura, atau setidaknya berasal dari wilayah yang berbahasa Madura.

Bagi penulis beliau adalah seorang sufi-akademis, meskipun beliau mengajar di kampus yang cenderung dipandang elitis-duniawi, tetapi laku hidupnya menunjukkan beliau sosok manusia yang benar-benar menjalankan perilaku sufi, yang bagi kami mudah secara teori, tapi sulit untuk diterapkan. Marwah beliau sebagai guru spiritual dan tempat untuk berteduh dalam kebingungan menjalani hidup yang paradoksal dan kompleks. Saat mengajar, beliau sedikit banyak menyisipkan pengalaman hidupnya dalam rangka untuk dijadikan teladan hidup oleh mahasiswanya.

Baca juga:  TGH. Hasanain Djuaini, Ulama Pelopor Reboisasi

Di tengah kegersangan spiritual hidup civitas akademika kampus, beliau selalu menganjurkan untuk mereka mengikuti tarekat. Sebagai media penyeimbang laku manusia yang dipenuhi dengan nafsu duniawi. Meskipun saya percaya di dalam Filsafat Islam, untuk memahami esensi Islam tidak wajib mengikuti tarekat, cukup menyelami tasawwuf falsafi dengan mendalam.

Beliau adalah guru serta pembina Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah wilayah Yogyakarta. Baginya, dengan mengikuti tarekat seseorang akan mampu menjadi insan kamil dan orang senantiasa menyeimbangkan antara kebutuhan duniawi dan ukhrawi. Menjadi inspirasi spiritual bagi mahasiswa dan para dosen di lingkugan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga.

Syaifan Nur saat ini termasuk dosen Senior di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam. Meskipun saya termasuk mahasiswa yang selalu mendapat nilai standar dari beliau, tetapi saya menyadari hal ini sepenuhnya merupakan kesalahan pribadi yang sejatinya belum mampu memahami dan menyelami samudera keilmuan beliau.

Di tengah persepsi kebanyakan dosen yang killer dan cuek, beliau termasuk dosen yang ramah dan selalu menebarkan senyum dalam setiap perjumpaannya dengan siapapun. Sosok yang selalu meneladankan sikap wara’ (kehati-hatian) dalam mengarungi kehidupan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Di dunia akademik, telah banyak karya intelektual yang lahir dari pemikiran beliau diantaranya adalah; Filsafat Wujud Mulla Shadra (2002), Epistemologi Sufi dan Tanggung Jawab Ilmiah (2012), Kritik terhadap Pemikiran Tasawwuf Al-Raniry (2013), Sufism of Archipelago: History, thought and Movement (2017) dan karya-karya tentang tasawwuf lainnya.

Baca juga:  Raden Saleh: Dicintai, Dihormati, tapi Dicurigai

Akhirnya, Innalillahi Wainna Ilaihi Raji’un. Selamat jalan Dr. H. Syaifan Nur, M.A. Semoga amal ibadahmu diterima di sisi-Nya dan karya-karya intelektualmu akan kami terus kami pelajari dan lanjutkan hingga yaumul akhir.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top