Alquran, Pemindahan Ibu Kota Baru, dan Mitos Sial

Muhammad Ishom

Teka-teki dearah calon ibu kota baru sudah terjawab. Adalah Menteri Agraria dan Tata Ruang, Sofyan Djalil, mengatakan Kalimantan Timur telah dipilih menjadi lokasi pemindahan ibu kota baru. Dia mengatakan itu kemarin di Jakarta seusai rapat Rancangan Undang-Undang Pertanahan di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat.

Kepastian ini buru-buru mengingatkan saya satu firman Tuhan dalam surah al-Maidah (tidak tahu ayat berapa). Begini bunyinya:

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

قال فإنها محرمة عليها أربعين سنة يتيهون في الارض فلا تاءس على القوم الفاسقين

Artinya: (Allah) telah berkata (kepada Nabi Musa) bahwa sesungguhnya diharamkan semala 40 tahun mereka berkeliaran di muka bumi. Janganlah kamu berputus asa atas orang-orang fasiq.

Ayat ini berlatar belakang sejarah Bani Israil yang berhasil menyeberangi lautan berkat pukulan tongkat Nabi Musa dan melewati gurun pasir sampai tiba di daerah Atiyah. Namun sesampainya di daerah itu mereka dilarang oleh Allah Swt untuk masuk kota hingga hidup terkatung-katung di luar kota.

Menariknya ayat ini, sebagaimana disinggung oleh Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya, bahwa para pemimpin Islam masa lampau sering menjadikannya sebagai dasar untuk memindahkan “ibu kota negara”.

Alasannya adalah 40 merupakan masa siklus peradaban dari mulai merintis, membangun dan mengembangkan, lalu mengalami kepunahan.

Baca juga:  Kebahagiaan Rohani dalam Hidup Manusia (2/3)

Kepunahan peradaban dinasti kekuasaan disebabkan banyak faktor antara lain:

Pertama, 40 tahun adalah masa kematangan usia peradaban manusia. Setelah berjerih payah membangun dan mengembangkan umumnya manusia mengalami masa klimak. Baik karena jenuh maupun ingin lebih fokus meningkatkan spiritual sehingga urusan dunia mulai diabaikan. Dalam kondisi inilah rezim kekuasaan mengalami kerapuhan.

Kedua, Usia rezim kekuasaan yang sudah berumur 40 tahun dalam sejarah yang berulang-ulang telah dimanfaatkan oleh penerus maupun rezim penggantinya untuk memindahkan pusat kekuasaan.

Perhatikan pemindahan pusat pemerintahan dalam Islam dari Madinah, Syiria, Baghdad, dan seterusnya selalu berulang terjadi dalam siklus kurang lebih 40 tahunan.

Menurut Ibnu Khaldun dengan merujuk ayat di atas, bahwa ada semacam mitos di kalangan rezim penguasa Islam tentang “bawaan sial” kota pemerintahan yang telah berusia 40 tahun. Makanya supaya tidak bernasib sial sebagaimana rezim sebelumnya, pusat pemerintahan harus dipindahkan.

Rata-rata rezim yang memindahkan pusat pemerintahan membutuhkan waktu 40 tahun sampai terwujud pusat ibu kota yang maju namun kembali bermasalah. Munculnya kembali masalah pusat ibu kota negara, dalam teori siklus Ibnu Khaldun, selalu diupayakan dengan pemindahan pusat pemerintahan oleh rezim-rezim sesudahnya.

Berkaca dari paparan Ibnu Khaldun itu, apakah pemindahan ibu kota negara dari Jakarta yang sudah berusia lebih dari 40 tahun termasuk dipengaruhi interpretasi ayat Alquran di atas?

Baca juga:  NU Era Gus Dur di Mata Djohan Effendi
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top