Sedang Membaca
Ulama Nusantara yang Diperebutkan Lima Penguasa
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Ulama Nusantara yang Diperebutkan Lima Penguasa

Muhammad Aswar

Di perbatasan Gowa dan Makassar, ada seorang ulama yang selalu diingat sebagai wali besar, Syekh Yusuf al-Makassari al-Khalwati. Kompleks pemakamannya dibangun di atas tanah yang tidak terlalu luas, lengkap dengan masjid. Makam itu berdekatan dengan Masjid al-Hilal Katangka, masjid tertua di Makassar yang dibangun pada abad ke-17 M.

Hingga kini, tak ada yang tahu persis jasad beliau terbaring di mana. Di bagian selatan Afrika juga terdapat makam atas nama beliau, di sebuah bukit di kawasan Faure, desa Maccassar, Afrika Selatan, daerah yang berjarak 12 ribu kilometer, dipisahkan dua samudera dari Makassar. Makam beliau juga dapat ditemukan di Kaap, Srilanka, serta Banten dan Madura.

Setiap daerah memiliki versi masing-masing. Kelima makam tersebut selalu didatangi para peziarah setiap hari. Bukan masalah di mana makam yang sebenarnya, tetapi bagaimana sang ulama besar telah menjadi ikon bagi lima penguasa. Seorang yang semasa hidupnya begitu gigih menyebarkan agama Islam yang egaliter, hingga mampu menjadi ikon lima kebudayaan yang berbeda.

Menurut Lontara warisan dua kerajaan kembar Gowa dan Tallo, Syekh Yusuf dilahirkan pada 3 Juli 1628, bertepatan dengan 8 Syawal 1036. Dalam Lontara Riwayat Tuanta Salamaka ri Gowa, beliau masih merupakan putra istana.

Ayahnya, Gallarang Moncongloe, merupakan saudara seibu dari Sultan Alauddin Imanga’rang Daeng Marabbia, raja Gowa pertama yang memeluk agama Islam dan menetapkan Gowa sebagai kerajaan Islam pada 1603.

Lahir dua puluh tahun setelah pengislaman kerajaan, Yusuf mula-mula belajar mengaji kepada Daeng ri Tasammang sampai tamat. Di usianya yang masih muda, 15 tahun, beliau memutuskan untuk melakukan pengembaraan pengetahuan kepada ulama Cikoang, Syekh Jalaluddin al-Aidid.

Baca juga:  Makrifat Realitas Diri atas Langit (2)

Hanya dua tahun beliau belajar kepada Syekh Jalaluddin, lantas direkomendasikan untuk belajar di Makkah. Tepat pada 22 September 1644, di usia 18 tahun, beliau meninggalkan Gowa menuju Makkah.

Perjalanan pada masa itu ditempuh lewat jalur laut. Dari Gowa, seseorang harus singgah dulu di pelabuhan terdekat. Kita masih sempat bercocok tanam terlebih dahulu untuk membiayai perjalanan berikutnya.

Perjalanan Syekh Yusuf ke Makkah mengikuti jalur umum perjalanan di Nusantara ketika itu, Gowa-Banten-Aceh-Srilanka, lalu menyeberang ke India, berjalan sampai Makkah. Ia sempat berguru di Banten, lantas segera berangkat ke Aceh di masa Nuruddin ar-Raniri. Di bawah asuhan Nuruddin, beliau menerima ijazah tarekat Qadiriyah.

Di Arab Saudi, mula-mula beliau mengunjungi Yaman dan belajar kepada Syekh Abi Abdullah Muhammad Abdul Baqi bin Syekh al-Kabir Marjaji al-Yamani Zaidi an-Naqsyabandi. Dari sang Syekh, beliau menerima ijazah tarekat Naqsyabandiah. Selanjutnya beliau pindah ke Zubaid, masih di Yaman, menemui Syekh Maulana Sayed Ali. Dari gurunya ini, beliau menerima ijazah tarekat Baalawiyah.

Tiba musim haji. Beliau lalu menunaikan ibadah haji. Dilanjutkan ke Madinah, berguru kepada Syekh Ibrahim Hasan bin Syihabuddin al-Kurdi al-Kaurani dan menerima ijazah tarekat Sattariyah. Kemudian ke Damaskus menemui Syekh Abu al-Barakat Ayyub al-Khalwati al-Quraisyi. Atas pengetahuannya tentang syariat dan hakikat yang begitu tinggi, beliau diberikan ijazah tarekat Khalwatiyah sekaligus diamanahi untuk menyebarkan tarekat tersebut sekembalinya ke Nusantara.

Baca juga:  Sabilus Salikin (28): Hati

Sekembalinya ke Gowa, Syekh Yusuf mulai melakukan restorasi besar-besaran terhadap pengajaran keislaman. Jika sebelumnya pengajaran terpusat pada keluarga istana, lewat kebijakan Syekh, setiap kalangan kini bisa mendalami Islam sama dengan para petinggi di istana. Tidak lupa, beliau juga mulai menuliskan kitab. Ditengarai, Syekh Yusuf merupakan orang pertama di Nusantara yang menulis kitab dalam bahasa Arab.

Situasi politik di Gowa berubah drastis menyusul penaklukan Belanda. Sultan Hasanuddin terpaksa merelakan Gowa dipimpin Belanda, dengan ditandatanganinya perjanjian Bongaya. Ribuan orang yang tidak setuju melakukan eksodus. Salah satunya adalah Karaeng Galesong yang merapat ke Madura, lalu menjadi panglima Trunojoyo.

Syekh Yusuf sendiri memilih berlabuh ke Banten yang kala itu menjadi pusat pengajaran Islam. Karena kecakapan dan keluasan ilmu, beliau menjabat mufti besar dan menikahi putri Sultan Ageng. Di sana, beliau memiliki ribuan murid yang berasal dari berbagai daerah, termasuk eksodus 400 orang Makassar yang dipimpin Ali Karaeng Bisai.

Baca Juga
Islamisasi Jawa: Mati Bersama Cahaya 2

Syekh Yusuf juga terlibat langsung dalam perlawanan-perlawanan menentang penjajah. Bahkan, beliau pernah memberikan fatwa tentang kewajiban membela Tanah Air. Banten yang berhasil dikuasai Belanda pada 1683 menyusul kekalahan Sultan Ageng, Syekh Yusuf ditangkap dan diasingkan ke Srilanka pada September 1684.

Syekh Yusuf bukanlah orang yang mudah kalah. Hanya karena berada jauh dari negaranya, ia lantas menyerah. Keuntungannya diasingkan ke Srilanka sebagai negara persinggahan haji, Syekh Yusuf secara kontiniu mengirimkan surat kepada para muridnya di Nusantara. Beliau juga tetap melakukan pengajaran agama dan memiliki ratusan murid, umumnya berasal dari India Selatan. Salah satu ulama besar dari India, Syekh Ibrahin bin Mi’an, termasuk yang pernah berguru kepada Syekh.

Baca juga:  Kulit dan Isi: Menimbang Ekspresi Keberagamaan

Belanda lalu mengasingkan Syekh Yusuf ke Afrika Selatan pada Juli 1663, negara jauh dan tidak dilewati oleh jalur haji. Beliau mengembangkan pengajaran dan pengamalan Islam yang egaliter, sebuah pengajaran yang hingga belakangan masih diperjuangkan oleh Nelson Mandela.

Syekh Yusuf adalah salah satu ikon utama pengajaran Islam di Nusantara. Di mana, Islam tidak hanya diartikan sebagai ibadah pribadi antara diri dan Tuhan, tetapi juga bagaimana menjaga masyarakat agar bisa beribadah dengan baik.

Meski dikenal sebagai pembawa bermacam tarekat ke berbagai negara, tetapi beliau juga membawa api kebebasan yang tak menghendaki adanya ketimpangan sosial.

Hingga akhirnya, pada 1699 di Afrika Selatan, tepat di usia 73 tahun, Syekh Yusuf wafat. Beliau telah meninggalkan suatu sistem agama Islam. Hingga hari ini, kelima makam yang disematkan kepada sang Syekh terus dikunjungi.

Kita kehilangan jasad beliau, namun semangat, terutama pengajaran Islam yang beliau sebarkan ke berbagai negeri, menjadi salah satu pondasi utama kita dalam berislam hari ini, sadar atau tidak sadar.

Lihat Komentar (0)

Komentari