Sedang Membaca
Fenomena Mahasiswa Santri
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Fenomena Mahasiswa Santri

Mutimmatun Nadhifah

Status mahasiswa terkadang mengundang banyak curiga dan stigma. Pertemuan dengan banyak pemikiran di kampus membuat status mahasiswa terlalu berisiko menjadi orang yang mendahulukan akal. Maka, sebagai bentuk penyeimbangan, pendirian pondok-pondok untuk mahasiswa menjadi sebuah kewajaran atau bahkan kewajiban.

Salah satu contoh, beberapa Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) di Indonesia telah memiliki pesantren mahasiswa. Barangkali tujuan pendirian pesantren mahasiswa agar mahasiswa mempunyai perhitungan dan pertimbangan berbasis agama yang kuat saat bertindak dan berpikir.

Hal ini sebagaimana alasan umum pendirian sebuah pondok pesantren atau harapan seorang calon santri dan orangtua mereka terhadap pesantren memang bukan pada tataran pemerolehan keilmuan yang kuat dan ketat bagi para santri. Tapi lebih pada harapan santri menjadi manusia agamis (Karel A. Steenbrink, 1974: 17). Tentu hal ini juga berlaku dalam sebuah pendirian pesantren bagi mahasiswa yang sekarang bisa dilihat perkembangannya dari masa ke masa.

Penekanan pada pembentukan manusia agamis ini sangat terlihat pada etika kesantrian di pesantren. Dalam sistem etika keilmuan di pesantren, santri tetap akan menjadikan seorang kiai sebagai tokoh utama dalam menggerakkah tubuh dan pikirannya.

Betapa kuat sebuah pemikiran tokoh Barat atau pemikiran rasional dalam Islam yang dipelajarinya di kampus tetap akan membuat tubuh santri berganti saat memasuki ruang pesantren dengan segenap aturan-aturannya. Ketokohan sang kiai lebih penting daripada keilmuan yang bisa saja diperoleh santri.

Baca juga:  Jaran Goyang dalam Tiga Variasi

Hasan Asari (2008: 77) menjelaskan dalam buku Etika Akademis dalam Islam bahwa ilmuwan mendapat pengakuan yang lebih daripada sebuah buku. Maka, di sini kita bisa melihat kelisanan yang lebih kuat daripada keaksaraan. Sebagai sebuah ilustrasi, perbedaan argumen dan rujukan seorang santri dengan perkataan seorang guru yang sedang disimaknya dalam sebuah pengajian di pesantren tidak akan bisa disampaikan.

Perkataan sang guru lebih benar daripada hasil pembelajaran pemikiran sang murid. Karena mempertanyakan perkataan guru adalah pelanggaran etika belajar, selain guru adalah orang lebih tua yang harus dihormati.

Namun, hal ini tentu berbeda dengan pengalaman-pengalaman santri yang kemudian masuk di perguruan tinggi modern seperti IAIN atau UIN yang pernah ada dalam sejarah intelektual muslim Indonesia. Yang pertama akan dilakukan oleh santri adalah pencarian buku-buku atau karya-karya dosen yang akan ditemuinya di ruang kuliah. Yang perlu dipertahankan bukan ketokohan (sebagai guru) tapi argumentasi keilmuannya.

Pertemuan gagasan membuat santri bisa melakukan kritik terhadap argumen-argumen yang ditulis profesornya atau bahkan menghilangkannya dan mengganti dengan argumen dalam kontekstualisasi mutakhir dan seterusnya yang jauh lebih bisa diandalkan kesahihannya.

Sebagai contoh, kita bisa mengajukan Nurchalish Madjid saat menjadi mahasiswa di Amerika Serikat dan bertemu dengan Fazlur Rahman. Sebagai lulusan pesantren lalu menjadi mahasiswa Fazlur Rahman, Cak Nur tidak hanya menuliskan kekagumannya terhadap dosennya itu. Sistem akademik Barat yang juga ada dalam Islam telah menjadi pedomannya bahwa seorang mahasiswa juga bisa melakukan kritik terhadap dosennya dan hal ini sudah dilakukan.

Nurchalish Madjid (2010: 31-32) dengan sadar mengakui bahwa di balik kemapanan keilmuan Fazlur Rahman baik dalam keilmuan modern maupun keilmuan klasik, tidak ada pemikiran Ibnu Khaldun yang mempengaruhinya sebagaimana Ibnu Sina dan Ibnu Taimiyah.

Hal ini dituliskan oleh Cak Nur dengan alasan jika nanti ada pembaca karya Rahman dan mempertanyakan relevansi konteks sosial penafsirannya terhadap ajaran Islam seperti al-Qur’an. Sementara kerangka ilmu sosial modern yang secara tersirat digunakannya adalah warisan ilmu Ibnu Khaldun.

Baca Juga
Hari Santri, Kita Baca Asal-Usul Pesantren di Jawa

Selain itu, di tengah keramaian pondok pesantren mahasiswa di kampus-kampus Islam Indonesia, kita masih menunggu kekuatan identitas yang paling diakui dan diterima: mereka mahasiwa atau santri? Dari identitas yang paling diterima di sini, kita bisa tahu keunggulan atau pertarungan mahasiswa yang sekaligus menjadi santri dalam sistem keilmuan sedikit banyak berbeda.

Jika status santri lebih diterima, maka posisi dosen di kampus tentu akan sama dengan posisi kiai di pesantren. Perkataannya akan selalu dicatat tanpa ada kehendak untuk mempertanyakan apalagi mempermasalahkan sebagaimana yang dilakukan oleh mantan santri seperti Cak Nur. Dalam kasus seperti ini, yang pertama akan dicari atau lebih berkesan dalam sebuah pertemuan adalah pertemuan fisik bukan pertemuan gagasan.

Dalam majalah Tempo edisi 12-18 Agustus 2013, kita mendapati penjelasan bahwa Agus Salim, Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari pernah belajar bersama kepada guru yang sama yaitu Ahmad Khatib al-Minangkabawi, paman Agus Salim yang menetap di Mekkah.

Namun, Agus Salim mempunyai pandangan Islam yang lebih moderat dan rasional daripada pendiri Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama ini. Agus Salim bahkan menyarankan khususnya pada Hasyim Asy’ari agar tidak sering memerintah santrinya seperti dalam sistem masyarakat feodal. Agus Salim menyarankan agar dalam setiap pertemuan belajar adalah ruang berpikir sehingga terjadilah diskusi dan dialog bukan pertemuan menggurui yang bersifat searah.

Baca juga:  Anak-anak Kita di Bulan Puasa

Maka, penetapan Hari Santri Nasional (HSN) setiap tanggal 22 Oktober memaksa publik untuk mengingat kontribusi santri untuk Islam dan Indonesia masa lalu dan masa sekarang. Kita masih bakal melihat perkembangan pengaruh Hari Santri Nasional dalam sejarah pendidikan di Indonesia, khususnya bagi mahasiswa yang sekaligus santri di perguruan tinggi Islam di masa depan.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top