Sedang Membaca
Khazanah Tafsir Indonesia: Tafsīr al-Itqān Karya Kiai Ahmad Haris Shadaqoh
Muqsid Mahfudz
Penulis Kolom

Mahasiswa Ilmu al-Qur'an dan Tafsir di STAI AL-AWAR Sarang Rembang.

Khazanah Tafsir Indonesia: Tafsīr al-Itqān Karya Kiai Ahmad Haris Shadaqoh

Tafsīr al-Itqān Karya K.H. Ahmad Haris Shadaqah

Kitab ini bernama lengkap Tafsīr Al-Itqān Fī Ma’ānī Ummi al-Qur’an, ditulis oleh pengasuh Pondok Pesantren Al-Itqon bernama K.H. Ahmad Haris Shadaqoh. Tafsir ini terbit pertama kali di Semarang, diterbitkan oleh Ma’had Tafsir Wa Sunnah Al-Itqon. Kitab ditulis selesai pada 22 April 2006 usai kali pertama khataman pengajian Tafsīr al-Ibrīz yang biasa dibacakan pengarang. Adapun latar belakang dituliskannya tafsir ini adalah untuk melengkapi kebutuhan pengajian tafsirnya, terkhusus dalam tafsir Q.S al-Fatihah yang menurut mufassīr, sebab dalam Tafsīr al-Ibrīz kurang lengkap.

Profil Pengarang

Ahmad Haris Shadaqah lahir di Tlogosari, Semarang pada 01 Januari 1953 M dari pasangan K.H. Shodaqoh Hasan dan Ny.H. Hikmah Abdurrasyid. Sebelum belajar di pesantren lainya, pendidikan awalnya ia dapat dari ayahnya K.H Shodaqoh Hasan di Pesantren Al-Irsyad yang kini telah berganti nama menjadi pondok pesantren Al-Itqon. Selain itu, ia juga memiliki riwayat pendidikan di IAIN meski hanya dua tahun. Kemudian ia juga sering ngaji kilatan di berbagai pondok pesantren, termasuk Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang asuhan K.H. Maimoen Zubair.

Baru pada tahun 1988 M, ia meneruskan estafet pengasuh di pondok pesantren ayahnya tersebut, termasuk membuka Majelis Ta’lim Ahad Pagi yang mengkaji Tafsīr al-Ibrīz. Di pengajian itu, hingga sekarang kurang lebih bisa mencapai 15.000 jamaah yang hadir. Selain itu, K.H. Ahmad Haris juga memiliki riwayat organisasi misalnya mejadi DPRD Kota Semarang pada tahun 1992- 2000, atau pernah menjabat sebagai ketua 1 bidang fatwa di MUI Jawa Tengah tahun 2012, serta Mustasyar PWNU Jawa Tengah masa khidmah 2018-2023.

Baca juga:  Makan dan Buku

Profil Kitab

Abdullah Hadani menjelaskan bahwa tafsir ini merupakan tafsir tematik klasik yang ditulis khusus membahas QS. al-Fatihah dengan menggunakan metode dan pendekatan interteks, atau tafsir yang mengumpulkan beberapa teks sebelumnya sebagai penafsir ayat yang dibahas. Penulisan kitab ini menggunakan bahasa jawa dan beraksara pegon. Dari latar sosial dan budayanya, tafsir ini tergolong tafsir pesantren sebab tidak dalam lingkup akademika (skripsi, tesis dan karya ilmiah lainnya).

Sementara terkait corak penafsiran, tafsir ini tidak terikat dengan bidang tertentu, atau menyesuaikan dengan muatan yang dikandung QS. al-Fatihah. Bentuk Tafsir ini tergolong penyajian yang global (langsung pada makna umum) dengan gaya bahasa populer atau bahasa yang mudah dipahami pembaca. Sehingga tafsir ini juga disimpulkan sebagai manifestasi tradisi kepesantrenan dengan dipakainya aksara pegon di dalamnya.

Karakteristik Tafsir

Lahirnya tafsir di geografi dan sosio-kultural tertentu pada akhirnya akan melahirkan ciri khas tersendiri. Sebagai karakteristik, hadani mengatakan bahwa tafsir ini ditulis dengan kelekatan konteks sosial budaya pengajian di pesantren jawa pada umumnya. Yakni juga menggunakan unggah-ungguhing basa sebagai hierarki bahasa atau  disebut speech level dalam bahasa Jawa. Tepatnya dalam penyesuaian dengan subjek dan objek yang dikandung ayat-ayat al-Qur’an sebagai teks yang dialogis.

Baca juga:  Muhammadku Sayangku: Kemahabaikan Allah Ta’ala kepada Umat Kanjeng Nabi Muhammad

Sebagai tafsir yang tidak bertipologi subjektif, tafsir ini dalam penelitian Ahmad Hadani dikatakan lebih banyak merujuk pada tafsir klasik seperti Tafsīr Jalālayn dan Tafsīr Ibn Kathīr, termasuk Tafsīr Marāh Lābid karya Syaikh Nawawī Banten. Dalam historiografi rujukan tafsir Indonesia, perujukan pada Tafsīr Marāh Lābid hampir belum pernah ada.

Demikian ini dapat dilihat dalam dalam hasil penelitian dilakukan Islah Gusmian, Nurdin Zuhdi, dan Muhammad Saifunnuha terkait produktivitas teks tafsir indonesia dalam kurun waktu tahun 1990-2020 M. Kemudian dari tiga penelitian itu pula, Tafsīr al-Itqān ini menemukan kesesuaian dengan perkembangan tafsir di Indonesia, yakni penyajian tematik yang memang lebih banyak muncul dalam rentang tahun 1990-2020 M. meski dalam hal ini, , Tafsīr al-Itqān tidak bermetode ilmiah dengan pendekatan kontekstual, terkecuali bahasa dan pola aksara yang digunakan.

Referensi

Abdullah Hadani, “Karakteristik Penafsiran Kitab Tafsīr Al-Itqān Fī Ma’ānī Ummi al-Qur’an karya K.H. Ahmad Haris Shadaqah” (Skripsi di STAI al Anwar Sarang, Rembang, 2022)

Islah Gusmian, Khazanah Tafsir Indonesia: dari Hermeneutika hingga Ideologi  (Yogyakarta: Pustaka Salwa, 2020)

Saifunnuha, Muhammad.  “Karakteristik  Tafsir al-Qur’an di Indonesia Awal Abad ke-21” (Tesis di Universitas Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2021)

Nashrudin Baidan, Perkembangan Tafsir di Asia Tenggara (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2019)

Baca juga:  Kemandirian dan Mandat Peradaban Nahdlatul Ulama

Nurdin Zuhdi, Pasaraya Tafsir Indonesia: dari Kontestasi Metodologi hingga Kontekstualisasi (Yogyakarta: Kaukaba, 2014)

 

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top