Mendaras Puisi Arab Sampai Jauh

Salah satu hal mendasar, yang acapkali luput, dalam narasi besar kita terhadap khazanah sastra dunia adalah miskinnya penerjemahan puisi yang ditulis oleh penyair arab. Pada diskusi yang diselenggarakan di tiap kampus, komunitas menulis atau individu yang bergiat di bidang ini, maka kita bisa sama-sama sampai pada titik kesadaran kolektif bahwa puisi Arab mendapatkan porsi yang amat minim.

Penyair semacam T.S Eliot, Pablo Neruda, Octavio Paz, Wisława Szymborska, akan mudah kita pacak jejak intelektualnya melalui mesin pencari di Internet atau perpustakaan atau jurnal dan makalah yang dibuat oleh para cerdik cendekia Indonesia.

Tapi, hal yang sama tidak berlaku bagi Umar Abu Rishah, Ali Muhammad Luqman, Ibrahim Naji, Ibrahim Jabra, Ibrahim Al-Arid, Muhammad Abduh Ghanim dan sekelumit sastrawan yang besar di Jazirah Arab. Mereka terdengar asing bagi telinga kita, saat pertama mendengar nama itu barangkali label pertama yang muncul dalam benak kita adalah “Pemuka agama” bukan “penyair.

Nobel sebagai penghargaan tertinggi di bidang sastra juga mengalami hal demikian, mereka begitu asing dengan teks sastra yang menggunakan bahasa Arab sebagai media penyampaian.

Dalam periode 1901-2017 sebanyak 114 individu mendapatkan anugerah kehormatan. Dalam segi kuantitas, pengguna bahasa Perancis berada di urutan pertama dengan jumlah 14 orang, disusul Amerika Serikat 11, lalu Britania Raya 10.

Baca juga:  Membaca Adonis di Indonesia: 1983 dan 2018

Sastrawan dengan bahasa Arab hanya memunculkan satu nama yang dipilih oleh Akademia Swedia, dia adalah Naguib Mahfouz seorang novelis berkebangsaan mesir sebab karyanya dianggap mampu menampilkan realistik yang terlihat jelas, juga menampilkan ambigu yang evokatif – ia telah membentuk seni naratif Arab yang diterapkan kepada seluruh umat manusia. Sedangkan para penyair, dengan keragaman tema dan stilistika, belum mampu memboyong anugerah ini, sebab menurut hemat saya, jumlah dan mutu terjemahan yang dipasarkan pada masyarakat dunia menjadi faktor penentu.

Baca juga:

Puisi Arab Pra-Islam
Jika hendak menengok ke belakang, puisi tidak bisa di anggap sepele dalam sejarah Arab.kita tahu, Perkembangan kesusastraan bangsa arab pra-islam cenderung pada tema ratapan (ritsa), pujian (madh) dan kebanggaan kelompok tertentu (fakhr). Puisi dan amtsal mendapatkan perhatian lebih pada masa itu dibandingkan prosa.

Hal itu disebabkan karena prosa lebih membutuhkan kepandaian menulis atau tadwin (pengumpulan), sementara keterampilan menulis baru dikuasai oleh orang Arab pada masa-masa belakangan setelah Islam lahir. Disamping itu, puisi dinilai lebih personal dan mampu memberikan citraan terhadap wujdan (emosi), sementara prosa lebih pada persoalan kolektif.

Baca juga:  Rindu Berbahasa Indonesia

Kelangsungan transmisi puisi dari satu generasi ke generasi lain terbantu oleh para penghafal (ruwat) yang juga menjadi tokoh di setiap kabilah di Arab. Di antara para pencerita yang dipandang memiliki hafalan paling kuat dari suku Quraisy pada masa Jahiliah adalah Mukhrimah bin Naufal dan Khuwaitib bin Abdul Uzza.

di antara faktor yang menyebabkan perkembangan kesusastraan pada masa pra-Islam yang paling dominan adalah adanya pasar (al-Aswâq) dan Ayyâm al-‘Arab (hari orang Arab). Pasar pada itu menurut umar dalam “Ilmu Pengetahuan dan Kesusastraan Dalam Islam” Selain tempat berdagang juga mempunyai peran yang jelas dalam bidang sosial budaya, sebagai tempat festival sastra.

Puisi menjadi salah satu dokumen kebudayaan paling sentral saat itu, ia bjsa menjadi penentu suatu kasta dalam masyarakat. Setiap individu yang piawai menggubah syair akan mendapatkan kehormatan pada setiap kabilah. Saking pentingnya, puisi pada masa itu ditempel pada dinding Kakbah.

Mengenalkan Puisi Arab
Atas dukungan dari Booker Prize Foundation di London, The International Prize for Arabic Fiction (IPAF) atau dalam bahasa Arab berarti al-Jaizah al-‘Alamiyyah li al-Riwayah al-‘arabiyyah diresmikan pada bulan April 2007. Lembaga ini bertugas untuk memberikan apresiasi layak pada karya sastra Arab, juga mendorong penerjemahan kepada bahasa lain untuk karya yang dinilai memiliki kualitas mumpuni.

Baca juga:  Nizami Ganjavi, Sosok di Balik Kisah Laila-Majnun

Dua tahun setelah itu, lembaga ini menyelenggarakan lokakarya bagi penulis pendatang baru, mereka menyebutnya dengan nadwa. Bagi saya, ini adalah angin segar sebab kita bisa memperluas bacaan situasi terkini bangsa arab lewat puisi, dan tidak hanya berhenti tok pada Kahlil Gibran sebagai identitas tunggal puisi Arab.

Di Indonesia sendiri Nama Nizar Qabbani sebagai salah satu penyair modern terbaik dan paling representatif dari tradisi kesusastraan Arab, telah diterjemahkan dalam empat buku yakni “Puisi Arab Modern” (Pustaka Jaya, 1983) oleh Hartojo Andangdjaja, “Surat dari Bawah Air” (Perpustakaan Mutamakkin Press, September 2016) oleh Usman Arrumy, “ Yerusalem, Setiap Aku Menciummu” (Akar Indonesia, November 2016) oleh Irfan Zakki Ibrahim, dan “Aku bersaksi tiada perempuan selain emgkau (Basabasi, 2018) oleh Musyfiqur Rahman.

Lalu, sudahkah kita membaca puisi sampai jauh? Sebagai penutup saya akan menghadirkan puisi Nizar Qabbani berjudul “Roti, Hasis dan Bulan”, yang sempat membuat heboh dan membawa ancaman penjara dari parlemen suriah ;

Jutaan orang berjalan tanpa sepatu,
percaya pada empat istri dan hari kiamat.
Jutaan orang berhadapan dengan roti
hanya dalam mimpi.
Merekalah orang-orang
yang menghabiskan malam
terbatuk-batuk di rumah.

Timur kita mengunyah sejarahnya sendiri,
mimpi-mimpinya yang lelah,
dan legenda-legendanya yang kosong.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
1
Senang
1
Terhibur
1
Terinspirasi
2
Terkejut
2
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top