Sedang Membaca
Bagaimana Orang Ternate Menyambut Lailatul Qadr?

Penimbah Ilmu di Kota Gudeg selama 6 tahun.

Bagaimana Orang Ternate Menyambut Lailatul Qadr?

  • Di Hila, persis sama dengan yang ada di Ternate, juga melibatkan anak-anak. Perbedaannya terletak pada waktu pelaksanaan pawai obor saat menyambut lailatul qadr. Pawai obor di Hila biasanya dilakukan pada malam ke 27 Ramadan.

Pada hari-hari yang lalu, umat muslim Indonesia sangat antusias saat menyambut lailatul qadr. Ada yang dengan ziarah kubur, membaca surat Yasiin, dll. Hal ini bisa dikatakan bahwa penyambutan lailatul qadr di Indonesia sangat unik. Berbeda dengan Timur Tengah, penyambutan lailatul qadr tidak se-meriah yang ada di Indonesia. Bagaimana tidak, Indonesia punya banyak sekali tradisi saat menyambut lailatul qadr.

Misalnya di Indonesia Timur, tepatnya di Ternate dan sekitarnya. Penyambutan lailatul qadr dimeriahkan dengan pawai “ela-ela” (bakar obor).

Anak-anak berusia 10 sampai 15 tahunan akan membawa ela-ela ini sambil bernyanyi, “ela-ela pake jam jam to suba jou” yang berarti “obor-obor pakai Cahaya sembah Tuhan”. Secara tersirat nyanyian tersebut beririsan dengan maksud surat An-Nur ayat 35. Wallahua’lam.

Inti dari ayat tersebut berarti, “Cahaya diatas Cahaya, Allah membimbing kepada Cahaya-Nya bagi siapa yang Dia kehendaki”.

Ela-ela (obor) ini bisa dimaknai sebagai pelita (insan = manusia) yang dari-situ terpancar Cahaya Ilahiah. Akibat dari kesadaran akan keber-ADA-an Cahaya Ilahiah di dalam insan inilah, maka wujudnya ialah “suba jou” (sembah Tuhan).

Artinya, tradisi sejenis ini sangat berefek positif bagi tegaknya nilai-nilai Islam di Indonesia Timur. Tradisi serupa juga dilakukan di desa Hila kecamatan Leihitu Maluku Tengah.

Baca juga:  Menghadirkan Bayi di Tengah Pembacaan Marhaban

Di Hila, persis sama dengan yang ada di Ternate, juga melibatkan anak-anak. Perbedaannya terletak pada waktu pelaksanaan pawai obor saat menyambut lailatul qadr. Pawai obor di Hila biasanya dilakukan pada malam ke 27 Ramadan.

Masyarakat Hila menyebut perayaan ini dengan “Pawai Cahaya”. Anak-anak setempat akan berjalan keliling kampung membawa obor sambil bertakbir.

Tersirat sebuah kekhasan tersendiri dari masyarakat setempat dalam memaknai kata “Cahaya” tersebut. Apalagi ditambah dengan teriakan takbir lebih memperjelas makna “Pawai Cahaya” tersebut. Mungkin hal ini juga bisa dimaknai sebagaimana yang ada di dalam surat an-Nur ayat 35 di atas. Wallahua’lam.

Bukankah tradisi seperti ini sangat berdampak positif dalam menjaga keutuhan nilai-nilai Islam? Berbeda dengan doktrin ala bid’ah yang mencoba menolak setiap tradisi, padahal di dalamnya terkandung nilai-nilai Islam.

Sedikit dari banyaknya umat muslim Indonesia beranggapan bahwa tradisi seperti itu adalah bid’ah. Mungkin karena yang diperhatikan ialah bungkusan dari tradisi tersebut. Namun, jika dimaknai secara lebih mendalam, maka kita akan menemukan tujuan dari setiap tradisi ialah untuk menjaga keutuhan nilai-nilai Islam.

Oleh sebab itu, tradisi seperti ini harus terus dipelihara karena pada prinsipnya ialah menjaga nila-nilai Islam di Indonesia Timur. Inilah sedikit dari banyaknya tradisi yang ada di Indonesia Timur saat menyambut lailatul qadr. Insya Allah tradisi ini terus dipraktikkan sampai anak-cucu kelak.

Baca juga:  Hamka Bercerita: Majikan dan Kaum Buruh Beriman
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (1)

Komentari

Scroll To Top