Sedang Membaca
Mengenal Kitab Pesantren (59): Shahihul Bukhari
Penulis Kolom

Belajar di sejumlah pesantren, dan lain-lain. Kini tinggal di Pati, Jawa Tengah

Mengenal Kitab Pesantren (59): Shahihul Bukhari

E Pqv7hviaekc E

Saya menuliskan ini dengan niat tabarrukan dengan kitab Shahihul Bukhari dan muallifnya, Imam Bukhari. Kita tahu bahwa “ashahhul kutub ba’dal Qur’an”, kitab paling valid setelah Alqur’an adalah kitab Shahihul Bukhari.

Dorongan menulis ini juga muncul karena ada tradisi baik di Madrasah Mathali’ul Falah (tempat dulu saya belajar selama enam tahun, dan sekarang saya ikut menjadi bagian di dalamnya sebagai pengajar), yaitu khataman kitab Shahihul Bukhari secara muqoddam-an (dibaca serentak oleh semua yang hadir, masing-masing membaca bagian yang sudah ditentukan) sebagaimana khataman muqoddam-an Alqur’an. Tradisi khataman kitab Shahihul Bukhari secara muqoddam-an ini dilakukan atas saran salah seorang sesepuh.

Dorongan juga muncul karena ‘nostalgia’ dengan masa awal “testing the water” (demikian instruksi ayah saya, berdasar pada dhawuh Imam Muhammad bin Sirin: إن هذا العلم دين، فانظروا عمن تأخذون دينكم) mondok di pesantren Kwagean (asuhan Kiai Abdul Hannan Ma’shum) menjelang bulan Ramadlan. Kitab yang pertama kali saya ikuti di pesantran Kwagean adalah kitab Shahihul Bukhari (dibaca lafzhon wa ma’nan sampai khatam, mulai pertengahan bulan Sya’ban hingga tanggal akhir bulan Ramadlan).

Tentang nama kitab Shahihul Bukhari

Nama ringkas yang lebih sering kita kenal adalah Shahihul Bukhari. Kita hampir tak pernah mendengar versi lengkap nama kitab Shahihul Bukhari ini.

Baca juga:  Empat Karya Bung Karno yang Wajib Anda Baca

Ada beberapa versi pendapat tentang nama lengkap kitab Shahihul Bukhari (selanjutnya disingkat: SB). Ibnu Sholah mengatakan, nama lengkap kitab SB, sebagaimana yang diberikan oleh sang mualliff sendiri yakni Imam Bukhari, adalah: al-Jami’ al-Musnad al-Shahih al-Mukhtashar min Umuri Rasulillahi wa Sunanihi wa Ayyamihi

(الجامع المسند الصحيح المختصر من أمور رسول الله صلى الله عليه وسلم وسننه وأيامه).

Abu Nashr al-Kalabadzi (323 H – 389 H) dalam kitabnya, Rijalu Shahihil Bukhari; Imam Abu Muhammad Abdul Haqq bin Ghalib bin ‘Athiyyah al-Andalusi (481 H – 541 H) dalam kitabnya, Fihris Ibni ‘Athiyyah; al-Hafiz Ibnu Khair al-Isybili al-Andalusi (muridnya Ibnu ‘Athiyyah); Imam Nawawi (631 H – 676 H) dalam kitabnya, Tahdzibul Asma’ wa al-Lughat; Ibnu Rasyid al-Sabti al-Andalusi dalam kitabnya, Ifadatun Nashih fi al-Ta’rif bi Sanad al-Jami’ al-Shahih; Imam Badr al-‘Aini dalam kitabnya ‘Umdatul Qori; Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam risalahnya, Tahqiqu Ismayis Shahihain wa Ismi Jami’i al-Tirmidzi; mereka semua juga menyebutkan nama SB yang sama dengan nama SB yang disebutkan oleh Ibnu Sholah.

Qadli ‘Iyadl (476 H – 544 H) dalam kitabnya, Masyariqul Anwar ‘ala Shihahil Atsar, memiliki versi penamaan SB yang sedikit berbeda dengan penamaan SB versi Ibnu Sholah. Penamaan SB versi Qadli ‘Iyadl adalah:

Baca juga:  Autobiografi Annemarie Schimmel dan Perjumpaan dengan Gus Dur

الجامع المسند الصحيح المختصر من آثار رسول الله صلى الله عليه وسلم.

Bandingkan dengan penamaan SB versi Ibnu Sholah (dan beberapa ulama yang sependapat dengan Ibnu Sholah) di atas:

الجامع المسند الصحيح المختصر من أمور رسول الله صلى الله عليه وسلم وسننه وأيامه.

Qadli ‘Iyadl mengganti kata أمور dengan kata آثار dan tidak menyebutkan وسننه وأيامه di bagian akhir.

Al-Hafiz Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam muqaddimah kitabnya, Fathul Bari, juga menyebutkan versi penamaan SB yang sedikit berbeda (tashorrufun yasirun):

الجامع الصحيح المسند من حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم وسننه وأيامه.

Ibnu Hajar al-‘Asqalani mendahulukan kata الصحيح atas kata المسند (dikatakan: yang lebih tepat adalah mendahulukan kata المسند baru kemudian kata الصحيح), dan mengganti المختصر من أمور رسول الله dengan من حديث رسول الله.

Abdul Fattah Abu Ghuddah mengatakan, tampaknya “kekhilafan/kesilapan” Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam penyebutan nama SB, terjadi karena beliau sedang dalam kondisi “tak enak” hati dan pikiran (في حال شغل خاطر). Lebih lanjut Abu Ghuddah mengatakan, kecil kemungkinan kesilapan seperti ini dilakukan oleh orang sekelas Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani yang terkenal dengan kejelian dan ketelitiannya

(إنه إمام ضابط حاذق دقيق جدا في الذروة من الضبط والإتقان).

Baca juga:  Literasi: Komunisme dan Islam

Dikatakan: seyogyanya para penyalin (ناسخ) dan pencetak/penerbit (طابع) memberi nama SB dengan nama sebagaimana nama yang diberikan oleh muallifnya sendiri (Imam Bukhari), yaitu:

الجامع المسند الصحيح المختصر من أمور رسول الله صلى الله عليه وسلم وسننه وأيامه.

Lebih baik lagi adalah menyebutkan keduanya sekaligus: versi nama singkat dan versi nama lengkap.

(Bersambung)

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top