Sedang Membaca
Menyimpan Kata Kafir, Kunci Perdamaian di Pantura Subang

Lahir di Subang, 22 Juli 1981. Lulusan pesantren Lirboyo dan ma'had aly Sukorejo, Situbondo. Ayah dua orang anak ini sekarang sedang menempuh pendidikan s3 di SPS UIN Jakarta.

Menyimpan Kata Kafir, Kunci Perdamaian di Pantura Subang

Subang adalah salah satu kabupaten di Jawa Barat. Berbatasan dengan Bandung di sebelah selatan, Karawang di sebelah barat, Indramayu di sebelah timur, dan laut Jawa di sebelah utara. Memiliki wilayah seluas 205.176,95 ha atau 6,34 % dari luas Provinsi Jawa Barat, secara sederhana, orang Subang biasanya membagi wilayah mereka dalam dua sebutan, yakni Subang atas yang bersebelahan dengan Gunung Tangkuban Perahu dan Subang bawah atau pantura (pantai utara).

Sebutan Subang pantura ini dilekatkan pada daerah dataran rendah di Subang yang meliputi kecamatan Pagaden, Kecamatan Pagaden Barat, Kecamatan Binong, Kecamatan Tambakdahan, Kecamatan Cipunagara, Kecamatan Compreng, Kecamatan Ciasem, Kecamatan Sukasari, Kecamatan Pusakanagara, Kecamatan Pusakajaya, Kecamatan Pamanukan, Kecamatan Legonkulon, Kecamatan Blanakan, Kecamatan Patokbeusi dan sebagian kecil Kecamatan Cikaum dan Purwadadi. 

Secara karakteristik, masyarakat di Subang Pantura cenderung lebih majemuk, mengingat di wilayah ini terdapat jalan nasional jalur pantai utara sehingga interaksi antara masyarakat setempat dengan orang luar jauh lebih terbuka. Maka tidak heran apabila di Subang pantura tinggal beragam etnis masyarakat dengan kepercayaan agama yang berbeda-beda. Disitu tinggal orang etnis Sunda, Jawa, Padang, Arab, China, dan sebagian kecil India. Tentu saja keragaman tersebut beriringan dengan keragaman kepercayaan mereka. Sebagian besar memeluk agama Islam, sebagian lainnya kristen dan konghucu.

Meskipun terdiri dari berbagai etnis, namun semangat hidup berdampingan selama ini tetap terjaga di Subang Pantura. Satu-satunya konflik yang pernah terjadi ialah pembakaran beberapa pertokoan dan tempat usaha milik etnis tertentu ketika terjadi kerusuhan 98, itupun lebih didorong oleh persoalan masyarakat yang lapar akibat melambungnya harga-harga kebutuhan pokok.

Semangat untuk hidup berdampingan ini tentu saja merupakan fenomena sosial keberagaman yang menjadi sebuah keniscayaan seiring keanekaragaman suku, etnis dan budaya dalam corak kehidupan dilingkupi oleh interaksi sosial yang berimbang. Arbi Yasin dalam studinya tentang adaptasi sosial keagamaan masyarakat lokal di lingkungan pedesaan Bengkalis Riau sebagaimana dimuat di Jurnal al-Fikra vol. 3, No. I, 2004 menyebutkan bahwa pada wilayah yang terdiri dari berbagai orang yang berbeda-beda latar belakangnya sosialnya, maka setiap orang akan menyesuaikan diri dalam pola hubungan yang saling memahami, menghormati dan bahkan saling membantu dalam banyak hal.

Harmoni yang paling kentara terlihat dalam pola hubungan antara masyarakat muslim dengan etnis China yang kebanyakan beragama kristen dan sebagian beragama Konghucu. Di wilayah Pantura, sebagaimana di wilayah lainnya, lazimnya warga muslim etnis jawa menjadi petani, nelayan, atau pedagang sementara orang etnis China berdagang. Lebih spesifiknya lagi, biasanya yang mereka dagangkan ialah bahan bangunan, sembako, dan lainnya. Jarang ditemui dari mereka yang menjadi petani atau nelayan. Dengan pola profesi semacam ini, biasanya di pasar-pasar, lazimnya orang etnis China menjadi penjual, sementara kelompok muslim menjadi pelanggan.

Dari pola semacam itu, kemudian timbullah hukum tak tertulis yakni untuk menjaga para pelanggan, biasanya pihak penjual akan menjaga hubungan penjual dan pelanggan dengan cara pemberian THR (Tunjangan Hari Raya) pada moment-moment tertentu. Moment tersebut bukan hanya sepihak saja, namun dua pihak, yakni di hari raya idul fitri dan tahun baru China. Pada momen idul fitri biasanya toko-toko milik etnis China akan memberikan baju atau kaos kepada para pelanggan, dan di tahun baru China mereka akan membagikan kue-kue khas China seperti dodol China dan kue keranjang.

Sebaliknya, pada moment-moment tertentu, masayarakat muslim yang akan memberikan “sesuatu” kepada etnis China. Misalkan pada moment tahun baru Islam dimana masyarakat muslim biasanya membuat makanan yang mereka sebut “nasi pelal”, semacam nasi yang dimasak dengan berbagai macam bebijian dan kacang-kacangan untuk dibagikan bukan hanya kepada sesama muslim, namun juga kepada etnis China dan lainnya.

Moment kebersamaan yang paling utama biasanya terjadi pada bulan safar yang biasa disebut oleh orang Jawa sebagai bulan “bala”. Pada bulan tersebut biasanya masayarakat muslim menggelar acara yang disebut “baritan”. Secara sederhana, baritan ialah acara makan bersama yang dilakukan di perempatan jalan kampung atau gang yang disertai dengan pembacaan doa agar masyarakat terhidar dari marabahaya di tahun tersebut. Meskipun didominasi oleh kelompok masyarakat muslim, namun acara ini juga melibatkan etnis China di dalamnya. Mereka bersama tanpa memandang etnis dan agama bersama-sama memasak, berkumpul di perempatan gang dan makan bersama..

Lebih menariknya lagi ialah pada acara keagamaan tertentu, seperti peringatan maulid Nabi ataupun peringatan Isra Mi’raj yang biasanya digelar di masjid, meskipun masyarakat etnis China tidak ikut secara langsung pada acara tersebut, namun biasanya mereka tetap memberikan dukungan, biasanya dalam bentuk dukungan sound system ataupun penyewaan kursi dan tenda.

Dalam konteks yang lebih luas, masing-masing pemeluk agama di wilayah Subang Pantura, meskipun tertuntut oleh aturan untuk mengamalkan ajaran agama mereka masing-masing, namun tidak melupakan prinsip dasar kemanusiaan sehingga antar satu dengan lainnya tidak terjebak untuk melihat orang lain dengan cara pandang kafir. Dari kesadaran semacam ini, maka tidak ada alasan bagi masing-masing individu untuk tidak menunjukkan sisi kebajikan dari diri mereka.

Semoga harmoni ini tetap terjaga. Amin. 

Baca juga:  “Menggambar” Nabi dengan Teks
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top