Ahmad Shalahuddin M
Penulis Kolom

Mahasiswa Pascasarjana Fak. Teologi UKDW Yogyakarta.

Yudaisme dan Perjuangan Menegakkan HAM (1)

Jewish And Arab Israelis Stand Together For Peace

Sebab perintah ini, yang kusampaikan kepadamu hari ini, tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh. Tidak di langit tempatnya sehingga engkau berkata: Siapakah yang akan naik ke langit untuk mengambilnya? Juga tidak di seberang laut tempatnya, sehingga engkau berkata: Siapakah yang akan menyeberang ke seberang laut untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya? Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan”. (Kitab Ulangan 10:11-14).

Perjuangan dunia manusia di dunia modern ini adalah perjuangan menegakkan pesan-pesan universal agama serta tradisi spiritual. Membawa pesan-pesan langit itu menapak di bumi dan membebaskan manusia dari tirani kekerasan, ketidakadilan serta bentuk-bentuk penindasan lainnya yang menghina kemanusiaan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Dari salah satu tradisi tertua dalam agama semit ialah Yudaisme. Dari tradisi ini, tersebutlah Rabbi Arik Ascherman, seorang Direktur Eksekutif Rabbis for Human Rights (RHR) selama bertahun-tahun mencari teks-teks Yahudi untuk membela Hak Asasi Manusia (HAM)—yang terangkai dari semangat keadilan dan prinsip-prinsip HAM universal.

Rabbi Arik memberi analogi tentang prinsip atau ajaran yang fundamental dalam tradisi Yudaisme seperti menemukan kunci di tempat pertama atau tempat awal kita mencarinya. Begitu pula jawaban yang ingin ditemukan oleh Rabbi Arik—kuncinya berada “di awal” kitab Taurat, pada awal-awal kitab Kejadian.

Dua Prinsip Tentang Hak Asasi Manusia

Prinsip pertama, melaksanakan sabbath (שבת). Pada Kitab Kejadan diterangkan, “Pada mulanya Tuhan menciptakan langit dan bumi” (Kej 1:1). Di pasal selanjutnya, “Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu” (Kej 2:2-3).

Baca juga:  Jelang Munas Alim Ulama (5): Tiga Ulama Sumbawa dan Tiga Tuan Guru Pertama

Dari sini, bisa ditemukan dua prinsip yang jika dilakukan secara sungguh-sungguh dengan berbuah tindakan, niscaya akan menghasilkan sebuah dunia yang sangat berbeda dari kondisi dunia saat ini. Dua prinsip ini disebut Rabbi Heschel adalah dasar dari keseluruhan Midrash, yang dapat memandu kehidupan dan menuntun kita untuk berpasangan dengan Tuhan dalam tikun olam (memperbaiki dunia), dapat berpartisipasi dalam pemulihan, pengudusan dan yang berkelanjutan penciptaan dunia.

Dua prinsip ini juga merupakan dari apa yang oleh Rabbi Akiva sebut sebagai meta-prinsip (klal gadol) dari Taurat (“Kasihilah sesama seperti dirimu sendiri”[Imamat 19:8]; Jerussalem Talmud Nedarim 41:3). “Kita adalah mata dan tangan Tuhan di dunia”, kata Rabbi Heschel.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Dewasa ini, ketika manusia menjelma pemangsa paling buas dari semua spesies ciptaan Tuhan. Rabbi Abraham Joshua Heschel berpendapat bahwa salah satu masalah besar dari peradaban modern hari ini yang menyebabkan peperangan, kekerasan, intoleransi, dan ketidakadilan lainnya adalah kecenderungan manusia memandang dirinya sendiri sebagai puncak dari eksistensi.

Sehingga membawa pada pemikiran, “jika tidak ada yang lebih tinggi dari kita, mengapa tidak eksploitasi saja bumi dan kita bunuh semua (si)apapun yang menghalangi kita untuk mendapat apa yang kita inginkan?”

Oleh karena itu, Rabbi Heschel memberi penegasan tentang pentingnya melaksanakan Sabbath. Satu hari dalam satu minggu saja, kita berhenti dari rutinitas yang mekanis menggunakan apa pun yang sudah membuat kita memanipulasi dunia demi memenuhi dan memuaskan hasrat kita.

Baca juga:  Membangun Kesadaran Universal

Pada gilirannya, Sabbath akan mengajari kita—manusia sampai pada kesadaran bahwa kita tidak bukan hanya pencipta, tetapi juga diciptakan/ciptaan. Sebut saja “Tuhan” atau satu Realitas Tertinggi di luar diri kita—atau katakanlah sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih tinggi dari diri kita dan sesuatu yang lebih penting daripada hasrat atau dorongan kemananusiaan kita.

Dalam salah satu karyanya, Rabbi Heschel mengatakan:

Peradaban teknik hasil kerja keras dari pergerakan kekuatan umat manusia demi suatu keuntungan, demi menghasilkan barang-barang. Hal itu dimulai ketika manusia, karena tidak puas dengan apa yang didapat dari alam, melibatkan diri dalam perjuangan melawan kekuatan alam untuk mempertinggi derajat keamanan dan meningkatkan kenyamanan mereka. Dalam ungkapan Kitab Suci, tugas peradaban adalah untuk menaklukan bumi, untuk berkuasa atas semua binatang.

Untuk menyisihkan satu hati dalam satu minggu bagi kebebasan, satu hari dimana kita tidak menggunakan peralatan yang dengan mudahnya berubah menjadi senjata untuk merusak, satu hari untuk diri kita sendiri, satu hari lepas dari kecabulan, satu hari bebas dari tanggungjawab eksternal, satu hari dimana kita berhenti memuja berhala peradaban teknis, satu hari dimana kita tidak menggunakan uang, satu hari melakukan gencatan senjata dalam perjuangan ekonomi dengan sesama manusia dan kekuatan alam—adakah sebuah institusi yang menyodorkan harapan yang lebih besar bagi kemajuan manusia daripada institusi Sabbath?

Dalam Sabbath, kita hidup sebagaimana adanya—bebas dari peradaban teknis: kita berpantang terutama untuk aktivitas yang bertujuan membuat kembali atau membentuk ulang segala sesuatu yang ada dalam  ruang. Hak istimewa manusia untuk menaklukkan alam ditangguhkan pada hari ketujuh itu. (Abraham Joshua Heschel: The Sabbath, 1961, 27-29)

Baca juga:  Mengkaji Fenomena Mahasantri

Kita semua perlu melaksanakan sabbath, terlepas apapun latar belakang tradisi agama anda, mengambil jeda untuk kehidupan, mengambil jeda untuk bertafakkur/merenung, mengambil jeda untuk memuliakan semua ciptaan-Nya, memuliakan nama-Nya.

Prinsip kedua, mengakui dan menghormati citra Tuhan. Citra Tuhan termanifestasi ke dalam semua ciptaan-Nya. Memancarkan sifat-sifat kemuliaan Tuhan. Dalam kitab Kejadian 1:27 diajarkan, “Maka Tuhan menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya. Dalam gambar Tuhan, laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka”. Sebagaimana Rabbi Heschel ketika berbicara melawan rasisme modern—meskipun Yudaisme menolak setiap penggambaran Tuhan, namun tetap percaya bahwa ada citra Tuhan di dunia ini. Yakni manusia, “namun, selain itu ada sesuatu di dunia ini yang oleh Kitab Suci dipandang sebagai simbol Tuhan. Bukan kuil atau pohon, bukan patung atau bintang. Simbol Tuhan adalah manusia, setiap manusia”. (Abraham Joshua Heschel, “Religion and Race” dalam The Insecurity of Freedom: Essays on Human Existence, 1966, 85-100).

Dua prinsip ini setidaknya memberi pelajaran berarti dan menjadi dasar pijakan bagi tradisi Yudaisme untuk menegakkan keadilan serta memperjuangkan nilai-nilai HAM, yang juga berungkali diajarkan dalam kitab Taurat: “Jangan takut” (Ul 20:3), dan “Janganlah berpangku tangan ketika tetangganmu terluka” (Im 19:15). Gagasan yang menyatakan bahwa kita diciptakan dalam citra Tuhan adalah dasar untuk apa yang disebut Rabbi Heschel mitzvot beyn adam l’khavero, perintah tentang hubungan interpersonal yang mengajari kita bagaimana bersikap pada semua ciptaan, khususnya sesama manusia.

Oleh karena itu, kita perlu menengok kembali apa yang Talmud Sabbath 31a katakan, “sekarang pergilan dan pelajari”.

Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top