Sedang Membaca
Sejarah Rempah dalam Imaji Bocah

Mahasiswa Universitas Islam Malang.

Sejarah Rempah dalam Imaji Bocah

Rempah, Sejarah, dan Bocah

Rempah pernah jadi primadona bangsa barat pada masanya. Rempah oleh bangsa barat dikatakan sebagai buah dari tanah surga (baca: Nusantara). Jack Turner dalam bukunya Sejarah Rempah (Komunitas, 2013) menyatakan bahwa perjalan untuk mendapat rempah merupakan perjalanan spiritual, tak bisa dilakukan sembarang orang. Hanya pemberani yang kuat pada amukan badai dan lautan yang bisa menjamah surga.

Rampah dalam kelasi sejarah punya perjalan panjang. Harga rempah pada masanya bahkan bisa setara dengan satu gram emas. Rempah jadi pelengkap cita rasa lidah orang barat. Oleh karenanya Belanda rela datang menyeberang luasnya Samudra menuju tanah surga.

Jauh sebelum zaman kolonial, nenek moyang bangsa Indonesia telah memulai menulis tinta sejarah soal rempah. Nenek moyang telah menjalin hubungan antarpulau, antarsuku, antarbangsa, dengan rempah sebagai nilai demi pembangan dan persahabatan yang pada akhirnya membentuk pertukaran budaya di setiap persinggahan. Jalinan rempah itu lantas menghubungkan Nusantara dan dunia, mencakup lini perdagangan global dan diplomasi budaya.

Lalu apa jadinya jika sejarah panjang rempah itu dituangkan dalam puisi untuk bocah? Anak adalah sosok yang perlu asupan imajinasi sejarah, mulai dari fiktif hingga sejarah nyata. Sejarah bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa yang berkeadaban sejak bertahun lamanya.

Bocah bagi Sapardi bisa berimajinasi jadi apa saja, bagi Joko Pinurbo bocah adalah peringan gembira yang senantiasa bahagia hidupnya dengan hal sederhana. Setidaknya, Ari Ambarwati ingin melukiskan kebesaran sejarah rempah pada anak-anak.

Baca juga:  Alasan Ulama Mensyarahi, Meringkas, dan Menazamkan Kitab

Melalui puisi rempah Ambarwati telah membebaskan imajinasi anak dengan pilihan diksi sederhana. Terang buku ini akan mudah dipahami anak, sebab metafora yang dituliskan Ambarwati begitu memantik rasa penasaran. Misalnya pada puisi berjudul Tinggi Tinggi Sekali. hmmm lebar sangat pohon di Maluku Utara ini/ kira-kira, perlu berapa anak seusiaku untuk bisa memeluk pohon cengkih purba itu?

Melalui puisi anak juga diajak berhitung sembari melatih daya instingtif dan kepekaannya. Sebagaimana mengutip pada prakata buku Bocah Rempah bahwa respon anak-anak terhadap puisi adalah bawaan lahir, alami dan instingtif (Morag Styles, 2021).

Memang, buku nyaris serupa pernah ditulis Lilih S berjudul Willa dan Rempah Kesayangan Ibu, buku anak yang mungkin berjenjang umur 4- 10 tahun karena berisi board game yang mengharuskan anak mencari jawaban dari jejak Willa di buku.

“Willa melakukan kesalahan saat mencari belalang di halaman rumah. Dia tak sengaja merusak tangkai daun jeruk, tanaman rempah kesayangan ibunya. Meski sempat kaget dan sedih. Willa punya ide brilian untuk memperbaiki keadaan.”

Berbeda dengan buku Willa dan Rempah Kesayangan Ibu yang berisikan board game atau permainan taktikal dalam bentuk aksi. Ari Ambarwati nampak mengarahkan anak untuk bermain kata dalam narasi puisi yang punya tujuan cukup kompleks. Berhitung, sembari membaca, kadang kali anak diajak berimajinasi sembari peka pada citraan puisi.

Tidak banyak penulis puisi anak, dan bahkan buku ini bisa dikatakan sebagai satu-satunya puisi anak mengenai kesejarahan rempah. Anak diajak mencium aroma sejarah rempah, simak saja misalnya kutipan dari puisi berjudul Cengkih Afo. Apa rasanya berulang tahun ke 400?/lilinnya ratusan/tanyakan pada cengkeh Afo/tidakkah ia lelah berdiri?.

Bahasa sederhana, anak memang tidak butuh metafora atau penggambaran imaji yang tinggi. Namun jelas saja, buku ini akan lebih cocok terbaca anak yang telah merangkak usia 7 tahun ke atas. Meski tidak secara eksplisit penjelasan usia itu disebut dalam buku, namun bahasa yang digunakan Ari Ambarwati dalam bukunya terang menguatkan hal ini.

Baca juga:  Perang Dalam Kacamata Lain

Anak anak dibiarkan mengalir dengan beberapa pembagian sub judul buku. Diawali sub judul Kisah Cengkih mengajak bocah mengeng juga tahu tumbuhan bernama cengkih. Selanjutnya sub judul Rahasia Rasa yang begitu menggugah selera, bocah diajak berkeliling lidah sajian nusantara dari rempah.

Kemudian ada sub judul Saudagar, Phinisi dan Rempah dengan delapan puisi. Sejarah tergambar rapi untuk mendarat di ingatan anak anak. Puisi berjudul Aku Melihat Pinisi misalnya mengajak anak untuk mengenal kapal rempah penuh sejarah. Phinisi, perahu layar kebanggan negeri/ dibuat dari kayu besi, kayu kondole, kayu bikti atau kayu jati (halaman 33).

Masih dengan rempah yang penting dikenang, Ambarwati berikutnya menuliskan sub judul Cerita Pala. Terdiri dari delapan puisi berkisah tentang pala yang gahar dengan beragam manfaat. Pala buahnya lebih besar dari duku/ pengembara dunia memburu (halaman 46). Kembali bocah diajak berimaji sembari mempraktikkan bilangan matematika perbandingan.

Seolah melengkapi isi buku, Ari Ambarwati tidak luput mengajak anak ke Banda Neira. Tempat lalu lintas rempah yang begitu jaya pada masanya.  Sub judul terakhir Dari Banda ke Meja Makan Dunia, lengkap sudah buku puisi untuk anak ini. Banda, tanah asal pala/ pala berakar dari bahasa Sansekerta, phala artinya buah dari pohon. Anak jelas terpantik untuk turut serta menapak jejak rempah.

Baca juga:  Sejarah, Kearifan Lokal, dan Budaya dalam Jurnalisme Perjalanan

Buku ini pun turut mendukung usulan Kemdikbudristek rempah sebagai warisan dunia pada UNESCO. Sejak bocah rempah memang layak diajarkan. Agar anak tidak kecanduan gawai, tapi kecanduan sejarah dan kekayaan bangsa Indonesia.

Buku ini lantas semakin menarik terbaca sebab dipenuhi ilustrasi cekatan. Setiap puisi tertuang, ilustrasi turut melengkapi imajinasi anak yang membacanya. Sungguh teramat sayang bila buku ini tidak sampai pada tangan-tangan pembaca mungil.

Bagi penulis buku berjudul Bocah Rempah ini barangkali hanya memimpikan hal sederhana bahwa anak-anak dapat membaca fakta-fakta Jalur Rempah dengan puitis. Bahasa sastrawi agar kelak bisa mengenangnya sejarah sekaligus puisinya seiring pertumbuhan. Rempah memang perlu menjadi dekat dengan anak anak, fakta soal dunia rempah sebagai bekal kesejarahan yang teramat penting.

Judul Buku: Bocah Rempah: Setangkup Puisi Rempah

Penulis: Ari Ambarwati

Penerbit: diomedia

Ilustrator: Retno Suci

Tahun Terbit: Juli 2021

Tebal; xii + 86 halaman

ISBN: 978-623-7880-91-2

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
1
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top