Sedang Membaca
Sejarah, Kearifan Lokal, dan Budaya dalam Jurnalisme Perjalanan

Mahasiswa Universitas Islam Malang.

Sejarah, Kearifan Lokal, dan Budaya dalam Jurnalisme Perjalanan

Buku Merawat Tradisi dan Kearifan Budaya

Meruwat ingatan dengan berita, berarti menyajikan fakta pada publik sebagai pembaca. Ingatan yang terekam sebagai fakta akan menjelma sebagai ingatan abadi. Jurnalis memang bertugas menyajikan informasi, tapi hanya sekedar informasi tentu tidak memiliki kesan mendalam. Informasi yang terangkum dalam buku ini akan  berperan bagi pembaca sebagai sumber inspirasi.

Di tengah derasnya arus informasi, buku ini jadi pembeda mencolok. Jika banyak jurnalis berlomba jadi yang tercepat dalam penyajian pada publik, dengan abai pada mutu. Himpunan tulisan dari meja redaksi jurnalis Terakota.id justru memilih bertahan menjaga ingatan, merangkum kenangan, dan menghimpun jejak zaman.

Tagline yang terjadi pada beranda Terakota.id memang cukup idealis sekaligus sinis. Merawat Tradisi dan Kearifan Budaya, mereka telah berhasil mewujudkan dalam rangkai tulisan. Seolah mengutamakan nilai dibanding kuantitas, sajian fakta dari reportase menjadi mata air di tengah dahaga informasi berkualitas media arus utama saat ini.

Jurnalisme perjalanan dengan cerita yang mendetail. Sehimpun penulis ini berusaha mengabadikan melalui rekam jejak jurnalistik.  Rangkaian kekayaan lokal diramu secara mendalam dari perspektif seni, budaya, sejarah, dan wisata.

Buku yang merangkum tentang jurnalisme perjalanan. Gemuk, berisi, dan padat dengan data. Budaya   situs dan sejarah terangkum menjadi jurnalistik perjalan yang apik. Terangkum menjadi enam bagian meliputi seni dan budaya leluhur, kekayaan alam, peninggalan purbakala, cagar budaya, seni, hingga kisah sejarah.

Baca juga:  Ziarah Syaikhona Kholil, Jangan Lupa Beli Kitab Ini

Jurnalisme perjalanan dalam remah tulisan padat berisi. Eko Widiyanti dan beberapa kawan berhasil menyajikan fakta, data, sejarah juga narasi budaya. Jelas buku ini mengalamatkan pada pembaca agar terus mengenang budaya dan sejarah.

Buku yang membahas detail tentang Malang memang tidak sulit untuk ditemui, termasuk pembahasan sejarah Malang dengan mudah dicari pada toko buku. Seperti karya  Dukut Imam Widodo berjudul Malang Tempo Doeloe, juga Malang: Telusuri dengan Hati Karya Dwi Cahyono. Karya ini tentu berbeda dengan dua buku itu, sebab disajikan dengan gaya populer khas jurnalistik perjalan secara gamblang, padat, dan mendalam.

Sebagaimana arus globalisasi yang kian deras, kita terkadang kurang peka bahwa Malang memiliki kekayaan lokal yang melimpah yang jarang terekam indera. Tulisan yang disajikan cukup unik karena menggunakan pendekatan jurnalistik perjalanan. Pembaca turut terbawa dengan merasakan kehadiran rekam jejak kota Malang. Terbawa suasana, perbedaan kondisi kota Malang tempo doeloe dengan yang teralami saat ini.

Ingatan terbawa pada Malang jadul, sebelum menjelma kota besar dengan padatnya pendatang. Kita mengutip buku di halaman 39, sebelum menjadi kotamadya, Malang hanyalah kota kecil di pedalaman.

Malang itu penuh sejarah, terbukti dari catatan peristiwa yang terabadikan dalam Malang Tempoe Doeloe. Sebagaimana keterangan Dwi Cahyono sebagai penggagas MTD. Bahwa MTD  merupakan bagian dari konservasi heritage meliputi bangunan, kesenian, budaya, di Kota Malang, halaman 90.

Baca juga:  Inilah Karya Mbah Hasyim Asy'ari yang Banyak Diapresiasi Ulama Timur Tengah

Demi merawat ingatan kerajaan Singhasari dihelat Singhasari Literasi Festival, tujuan mulia! Singhasari Literasi Festival merupakan upaya untuk memberi edukasi budaya sejak dini pada pelajar dan warga Malang.

Usai mengenang sejarah, refleksi dan aksi dalam kearifan lokal membawa pembaca bernostalgia untuk senantiasa menjaga budaya tak benda Malang. Gending Malangan, tari topeng Malangan, hingga kampung keramik Dinoyo yang pernah melalang buana pada masa kejayaan.

Pada akhirnya lengkap sudah kearifan lokal dalam remah kemasan jurnalistik. Kearifan lokal memang perlu dirawat dengan beragam bentuknya. Sebab, kearifan lokal itu akan jadi poros utama pada berbagai sendi kehidupan masyarakat.

Penulis: Eko Widianto, dkk

Tebal: xii+164 hal

Penerbit: Intrans Publisihing

ISBN: 978-602-61816-4-0

 

 

 

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top