Sedang Membaca
Gus Dur, Sastra, dan Kemanusiaan
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Gus Dur, Sastra, dan Kemanusiaan

M. Rosyid HW

Gus Dur dikenal dalam banyak dimensi; intelektual, budayawan, politisi, pemikir, presiden, kolumnis ataupun kiai. Banyak ulasan dan tulisan yang merekam berbagai dimensi peran Gus Dur di masyarakat ini. Yang tak perlu diragukan bahwa Gus Dur adalah pembaca sejati. Ia adalah kutu buku sejak dalam pikiran.

Semenjak kecil, ia banyak menghabiskan waktunya dengan banyak membaca buku, tak terkecuali karya sastra. Langsung ataupun tidak langsung, sastra yang dibaca siapapun, termasuk Gus Dur, akan membentuk cara pandang dan perilaku seseorang dalam melihat dunia. Tulisan ini mengulas tentang kekayaan bacaan Gus Dur terhadap karya sastra seperti novel, cerita pendek atau puisi. Penulis mencoba melacak dan menelusuri daftar bacaan Gus Dur terutama sastra melalui tulisan dan wawancara yang tersebar di berbagai media.

Greg Barton dalam buku The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid mengisahkan bahwa Gus Dur sangat gandrung akan sastra dan buku. Ia mencatat bahwa sastra dan kehidupan Gus Dur sangatlah lekat bahkan sudah dimulai saat ia masih remaja.

Dunia remaja Gus Dur di Yogyakarta sering dihabiskan untuk menonton wayang kulit dan membaca cerita silat Cina. Wayang kulit mengisahkan perpaduan budaya India dan Jawa serta mengandung prinsip hidup orang-orang Jawa agar mudah diserap masyarakat. Sementara cerita Cina juga berisi falsafah-falsafah Cina dan juga strategi politik Cina. Wayang kulit dan cerita Cina ini dalam beberapa hal telah mempengaruhi cara berpikir Gus Dur sejak remaja.

Barton juga menulis bahwa Gus Dur menemukan buku-buku yang lebih bermacam-macam saat kuliah di Al-Azhar, Kairo. Gus Dur lebih sering berada di perpustakaan. Ia membaca eksotisme wilayah Amerika dalam karya-karya William Faulkner.

Ia juga melahap novel-novel Ernest Hemingway, prosa dan puisi Edgar Allan Poe serta puisi-puisi John Donne. Nama-nama sastrawan besar Eropa seperti Andre Girde, Kafka, Tolstoy, Pushkin tak luput dari pembacaan dan diskusi-diskusi Gus Dur di kedai-kedai kopi kota besar Mesir ini.

Baca Juga:  Saya Muhammadiyah yang Tercemar NU

Tidak hanya membaca karya-karya Cina atau Eropa, Gus Dur juga membaca karya-karya sastra Arab. Seperti yang dicatat oleh Fathurrahman Karyadi dalam esai “Gus Dur dan Sastra Arab”, Gus Dur menggemari syair-syair Al-Nabighah Al-Dzubyani. Gus Dur juga menghafal nazam-nazam berbahasa Arab yang terdapat dalam kitab-kitab klasik seperti ‘Imrithy, Alfiyah, Uqud al-Juman saat ia nyantri di Tegalrejo, Magelang.

Dalam esainya yang sangat bernas dengan judul “Kebudayaan Arab dan Islam”, Gus Dur menyebut beberapa sastrawan Arab dari berbagai periode kesusasteraan. Dalam periode jahiliyah, ia mencatat para penyair seperti Umru Al-Qais, Nabiqhah al-Zubhany, Zuhair Ibn Abid Sulma, ‘Antarah dan Tarafah ibn’ Abd. Periode Islam di abad ke dua dan ketiga hijriah memunculkan nama-nama seperti Al-Khalil ibn Ahmad al-Farahidy, Yunus ibn Habib, Al-Mufadhal Al-Haby dan lain-lain.

Gus Dur juga menulis bahwa karya-karya pujian terhadap Rasul seperti syair Al-Barzanji, Al-Dzaiba’y dan Al-Burdah karya Al-Busairy sebagai puncak produk sastra Arab pada masa Abbasiyah.

Salah satu sumbangan pemikiran Gus Dur adalah tentang hubungan agama dan budaya, begitu juga sastra. Melalui tulisan dan wawancaranya, Gus Dur menyebutkan beberapa pengarang yang bergelut dengan potret jalin kelindan agama dan sastra. Dalam esainya yang melegenda, “Pesantren dan Kesusastraan Indonesia”, ia menyebut beberapa karya sastra di Indonesia seperti Semasa Kecil di Kampung autobiografi M Radjab, Robohnya Surau Kami cerpen A.A. Navis, Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Hamka.

Baca Juga:  Soekarno di Sukamiskin, dari Rajin Baca Alquran hingga Tahajud

Gus Dur lalu membandingkannya dengan beberapa karya dan pengarang dari berbagai negara dan ragam agama seperti Father Brown karya G.K. Chesterton, Serdadu Baik si Scheweik karya Jaroslav Hasek, dan karya-karya Dr. Chaim Potok; The Chosen, The Promise dan My Name is Asher Lev.

Dalam wawancara di majalah Horison September 1984 tentang sastra Islam, Gus Dur dengan sangat lugas mengulas keterkaitan sastra dan agama beserta perdebatan yang mengiringinya. Ia menyebut beberapa pengarang Indonesia dan pengarang Arab secara bergantian seperti Mochtar Lubis dengan karya Jalan Tak Ada Ujung, Emha Ainun Nadjib, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Taufiq al-Hakim (sastrawan Arab), Majid Mahkos dengan Lorong-Lorong Sempit, Mahmod Atas al-Akhad, Al-Ma’ari dan Abu Nuas.

Baca Juga

Gus Dur bahkan tidak hanya membaca karya sastranya saja tetapi juga menonton film yang mengangkat karya tersebut. Ia mengkritik dan memuji alih wahana tersebut, seperti yang tertuang dalam esainya yang berjudul “Film Dakwah: Diperlukan Keragaman Wajah dan Kebebesan Bentuk”. Karya-karya sastra yang disebut di antaranya adalah novel Atheis karya Achdiat K. Mihardja, Dr. Zhivago, War and Peace, The Stranger dan The Brothers Karamazov.

Pembacaan Gus Dur akan karya sastra sangatlah luas dan panjang terentang. Hal ini sangat memperkaya khazanah intelektualnya terhadap berbagai bentuk sifat, bentuk dan citra manusia dari berbagai belahan dunia dan lapisan zaman. Tidak mengherankan, apresiasi Gus Dur yang begitu tinggi terhadap kemanusiaan menjadi kunci pemikirannya.

Baca Juga:  Islam adalah Kasih Sayang

Dunia dan manusia dalam sastra tidak hanya dipandang dua kutub dikotomi yang saling menegasikan seperti hitam-putih, antagonis-protagonis, muslim-kafir, surga-neraka atau halal-haram tetapi spektrum dan dimensi kemanusiaan dalam karya sastra sangatlah beragam dan penuh pergulatan.

Saat ini, ketika agama dan politik saling bercampur baur di ruang publik, bahwa sastra patut untuk ditengok kembali agar manusia tetap menjadi manusia, seperti yang dicontohkan oleh Gus Dur. Politisi yang haus kekuasaan dan hanya mengejar jabatan perlu kembali membaca novel, cerita pendek ataupun puisi untuk belajar strategi politik masa lalu dan lebih jernih hatinya dalam melihat keadilan sosial yang ingin direngkuh oleh rakyat.

Agamawan yang keras hatinya, selalu mengumbar kebencian, berteriak-teriak mengkafirkan kaum lain atau yang berasyik masyuk dengan kekuasaan patut membaca karya sastra seperti Gus Dur agar lebih murni dalam memandang ragam bentuk dan tingkah manusia.

Karya-karya sastra yang dibaca oleh Gus Dur dan beberapa tercatat di esai kecil ini bisa jadi adalah salah satu pintu masuk yang penting dari perjalanan intelektual Gus Dur dalam melihat hubungan agama dan budaya yang bermuara pada lautan kasih sayang dan kemanusiaan tentunya. Begitu.

Lihat Komentar (0)

Komentari