Sedang Membaca
Status Facebook Pertama Ayahku
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Status Facebook Pertama Ayahku

M. Fahruddin Al Mustofa
Status Facebook Pertama Ayahku

 “Semakin tua, semakin besar hawa nafsunya. Selalu ingin dihargai, diladeni dan dihormati.”

Begitulah Ayah memulai status pertamanya dalam dinding Facebook-nya. Setidaknya dengan kutulis ulang kalimah di atas, sebagai bentuk mengabadikan rindu akan setiap kata yang keluar dari lisannya yang tidak dapat kunikmati secara langsung saat ini.

Ada tiga poin penting yang dapat diambil, minimal untuk pengingat pada diri yang semakin lupa akan diri sendiri.

Pertama adalah usia. Kita diberi kesempatan untuk hidup di dunia tentunya bukan tanpa alasan. Kita sering sekali lupa karena terlalu sering diingatkan. Manusia diciptakan untuk menghamba pada yang menciptakan. Simpel. Tapi mengerjakannya begitu rumit bukan?

“Manusia adalah makhluk yang takkan pernah usai,” begitu kata temanku di sela-sela obrolan, entah dari mana dia nyomot kata-kata itu. Tapi aku sangat sepakat dengannya. Dari sini kita dituntut untuk bingung, resah, mempertanyakan, meragukan. Beginilah fitrah manusia diciptakan.

Usia adalah kesempatan untuk mencari lalu membuktikan setiap apa yang kita alami di dunia. Tak lupa Tuhan juga memberi kita seperangkat akal, untuk memilih melakukan kebaikan atau keburukan. Disinilah letak mandat tanggung jawab yang diamanatkan Tuhan secara langsung kepada seluruh makhluk. Siapa yang melakukan dan apa yang telah dilakukan dituntut untuk mempertanggungjawabkannya kelak.

Baca juga:  Siti Umniyah, Perintis Taman Kanak-kanak Muhammadiyah

Yang kedua, hawa nafsu. Imam Busyiri dalam Burdahnya mengingatkan, bahwa hawa nafsu ini bagaikan anak kecil yang jika dibiarkan ia akan tetap suka menyusu. Solusinya apa?

Disapih atau menahan diri. Begitulah perumpamaan yang paling masuk akal, untuk kasus barang abstrak ini. Ketika nafsu sedang menguasai dan memaksa diri kita untuk melakukan kejelekan, amoral, intoleran, maka caranya hanya satu, mengendalikan dan memaksanya untuk tunduk pada nurani kita sendiri. Karena hati yang bersih pasti akan berontak ketika melakukan sesuatu yang bertentangan dengannya. Begitupun sebaliknya.

Jika kita tetap menuruti segala apa kata nafsu dan meninggalkan suara hati. Pastilah setiap gerak-gerik kita akan mengarah pada hal-hal yang negatif, berwatak keras, melenceng dari garis bening kebenaran. Maka tak heran jika ayah berkata, semakin kita besarkan nafsu, akan timbul dengan sendirinya rasa ingin selalu dihargai, diladeni dan dihormati. Hal ini sangat lumrah dan manusiawi. Alangkah indahnya jika kita mulai antisipasi untuk mencegahnya, agar tidak bercokol semakin rakus bagai tumor ganas dalam hati kita.

Baca Juga
Sabilus Salikin (1): Islam, Tasawuf, dan Tarekat 1

Rasa selalu ingin dihormati adalah tangga pertama menuju kesombongan. Sementara sombong adalah pintu gerbang utama menuju kekufuran. Silahkan berpikir dan putuskan arah mana yang akan kita ambil.

Baca juga:  Anak-Anak di antara Agama dan Manusia

Ketiga adalah bermedsos. Berbahagia dalam bermedsos memang perlu. Karena itu akan memengaruhi apa yang akan kita unggah nantinya. Jika tidak ingin mengotori dinding rumahmu dengan kotoran gajah maka jangan lakukan. Atau kau bisa memberikan pernak-pernik dan ornamen indah di setiap sudut rumahmu agar orang betah berlama-lama di dalamnya. Mari kita putuskan dengan elegan, mau kita bangun seperti apa rumah maya kita mulai dari sekarang. Agar tidak ada kata penyesalan nantinya..hahaha…

Setidaknya tiga poin ini mewakili apa yang saya rasakan ketika membaca status pertama Ayah. Momen penting ini tidak akan kusiasiakan, selagi masih bisa mengabadikan dalam bentuk tulisan. Mugi diparingi sehat, Yah!

Casablanca-Maroko, 21 Januari 2018

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top