Sedang Membaca
Berkurban, Upaya Menyembelih Ego Diri
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Berkurban, Upaya Menyembelih Ego Diri

M. Nurroziqi

Dikisahkan, tentang ujian ketaatan anak manusia atas perintah Allah Swt yang sedemikian berat. Seorang suami mengasingkan istri beserta anaknya yang masih bayi di pengasingan sangat gersang, tidak ada tumbuhan, tidak juga sumber air untuk kehidupan. Istri mana yang sanggup sedemikian patuh? Sebatangkara, terasing sendiri hanya dengan seorang bayi anaknya, di negeri orang, dan tanpa bekal apa pun. Mondar-mandir ke sana ke mari demi mencukupi kebutuhan anak dan juga dirinya sendiri. Dari kedalaman hatinya sama sekali tidak muncul protes dan tuduhan tentang ketidakadilan terhadap Allah Swt. Semua dijalani penuh ridho.

Tidak berhenti di situ, di usia anaknya yang remaja, sang ayah kembali, menyerukan perintah Allah Swt untuk menyembelih anak pertamanya yang selama ini diidam-idamkan. Bukan penolakan atau perlawanan yang menyambut seruan sang ayah tadi. Melainkan, hanya kepatuhan serta keikhlasan. Kemudian, sang anak menyerahkan lehernya untuk disembelih sembari berucap, “Wahai Ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shoffaat:102).

Kisah tersebut adalah Nabi Ibrahim beserta istri dan anaknya, Siti Hajar dan Nabi Ismail, yang di ujung kisah, Nabi Ismail tidak jadi disembelih. Sebab, malaikat Jibril datang atas perintah Allah Swt dengan membawa sembelihan (dhibhin ‘adhim) sebagai ganti atas diri Nabi Ismail tersebut. Adegan penyembelihan tadi diabadikan Allah Swt dalam ritual ibadah Qurban di setiap hari raya ‘Idul Adha tanggal 10 bulan Dzulhijjah. Juga mondar-mandirnya Siti Hajar antara bukit Shofa dan Marwa demi mendapatkan setetes air untuk anak dan dirinya, diabadikan sebagai salah satu rukun ibadah haji yang kini dikenal dengan istilah Sa’i.

Manusia-manusia hebat, tulus, dan ridho atas setiap perkenan Allah Swt, tidak hanya dimuliakan seluruh dimensi hidupnya. Tetapi, setiap hal yg melingkupinya, akan dijadikan monument pengingat sejarah, untuk dipetik pelajaran, diambil hikmah, juga diteladani semua kebaikannya.

Dan tentu, bukan Qurban atau Sa’i yang semata dihadirkan Allah Swt untuk diteladani hingga saat ini. Melainkan, kualitas kepribadian diri yang hanya dipenuhi ketaatan dan kepatuhan terhadap Allah Swt. Siti Hajar sanggup sengsara sebatangkara sebab ketaatan terhadap Allah Swt yang disampaikan melalui perintah suami. Juga, Nabi Ismail mampu merelakan lehernya untuk disembelih demi mematuhi apa yang diperintahkan Allah Swt melalui penyampaian ayahnya. Sedang Nabi Ibrahim, adalah suami sekaligus ayah yang tidak satu pun prilaku yang dikerjakannya kecuali demi mematuhi perintah Allah Swt

Serta, yang jauh lebih utama adalah betapa setiap ketaatan terhadap Allah Swt itu syarat utamanya adalah menyingkirkan rasa cinta terhadap yang selain-Nya. Sehingga, segala sesuatu selain Allah Swt, sebetapa pun rasa cinta yang menghinggapinya harus segera dibuang. Jangankan anak atau istri, bahkan jika diri ini pun telah diminta kembali oleh Yang Maha Memiliki, maka harus dengan ikhlas dan senang hati untuk dipersembahkan sebagai bentuk penghambaan pecinta kepada yang dicintainya. Dan sikap demikianlah yang disebut sebagai pengorbanan, yang sebenarnya terambil dari kata “qoruba-yaqrobu-qurban” yang bermakna berupaya untuk mendekatkan.

Dengan demikian, ibadah Qurban yang setiap tahun ditunaikan itu semestinya tidak hanya dimaknai sebatas pesta daging yang selanjutnya sama sekali tidak membekas dalam karakter diri. Sebab, yang sampai pada keridhoan Allah Swt bukanlah daging-daging dan darah dari sembelihan hewan qurban itu. Melainkan, ketaqwaan seorang hamba terhadap Allah Swt (QS. Al-Hajj: 37). Dan sesungguhnya, ibadah Qurban sendiri adalah sebentuk latihan untuk terus menerus menjadi baik dengan kualitas ketaqwaan tinggi, yang impelementasinya tidak lain adalah kesanggupan setiap pribadi untuk benar-benar memangkas egoisitas diri demi menghamba sepenuhnya kepada Ilahi Robbi. Kemudian, wujud kehambaan itu terpancar dalam sikap amanah mengemban tugas manusia sebagai “khalifatulloh fil ardhi” yang berani melayani manusia lain juga semesta dengan tanpa pamrih.

Meski setiap tahun di tanggal 10 Dzulhijjah kita tidak pernah absen memperingati peristiwa di mana egoisitas diri atas kecintaan terhadap dunia harus dipangkas habis, sehingga yang tinggal hanya keutuhan ketaatan kepada Allah Swt. Akan tetapi, kebiasaan keseharian kita masih saja jauh dari apa yang telah dirayakan itu. Misalnya, ketika ada seorang peminta-minta yang menengadahkan tangan memohon belas kasihan, sedang di dompet kita terdapat dua pecahan uang, sepuluh ribuan dan seratusan ribu rupiah, uang manakah yang akan kita berikan? Ketika terdapat saudara-saudara kita yang berkesusahan hidup, kemudian kita hendak membantu, jika berupa makanan, maka makanan yang sehari-hari kita konsumsi dan memang kita sukai ataukah yang sama sekali tidak kita sukai? Dan jika berupa pakaian, maka pakaian bekas kita atau pakaian yang masih baru dan bersegel?

Baca Juga

Tentu, seringnya manusia yang belum bisa memangkas egoisitas dirinya, maka yang diberikan kepada orang lain adalah sesuatu yang memang sudah tidak kita sukai. Sebab, segala sesuatu yang masih menjadi kesukaan diri akan sedemikian kuat untuk terus menerus dimiliki dan kuasai. Hal ini tentu tidak hanya sebatas pada soal sumbang menyumbang, melainkan dalam berbagai lingkup kehidupan manusia. Bahkan, semakin berbahaya jika egoisitas diri tidak segera dipangkas habis pada diri penguasa-penguasa atau mereka yang berada di posisi dan jabatan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Maka, bisa-bisa menyusahkan semua yang ada di bawahnya. Yang dipentingkan, hanya ego dan nafsunya sendiri, biar pun yang di bawah tanggung jawabnya susah penuh derita. Dan biar pun manusia model begitu berbuat baik, itu hanya pemanis bibir, untuk kemudian melampiaskan nafsu yang jauh lebih besar lagi. Na’udzubillah.

Demikianlah, betapa sulitnya memangkas egoisitas diri yang kerapkali ingin menguasai dan memiliki segala suatunya sendiri. Sebab itulah, dalam banyak ritual keagamaan yang bernuansa pengorbanan, entah shodaqoh, infaq dan atau yang sejenisnya, selalu dipersyarati dengan segala sesuatu yang disukai atau disenangi. Bukankah “Tidak disebut sebagai seorang yang baik sehingga ia sanggup menafkahkan segala sesuatu yang dicintainya.” (QS. Ali Imron:92). (RM)

 

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top