Sedang Membaca
Ketika Gus Dur Menulis tentang Mesir
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Ketika Gus Dur Menulis tentang Mesir

M. Fakhru Riza

Gus Dur menuliskan tentang banyak hal, mulai dari tema-tema yang paling serius hingga yang lebih santai, reflektif, dan jenaka tentunya. Dari sekian banyak tema yang pernah ditulis Gus Dur, yang masih sering luput untuk diulas oleh banyak orang adalah soal ketika Gus Dur menuliskan tentang Mesir dalam kolom-kolomnya di Tempo.

Dari penelusuran yang penulis lakukan, ada beberapa tulisan Gus Dur yang mengulas negeri para raja tersebut secara khusus dan langsung. Kolom-kolom tersebut diterbitkan oleh Tempo pada kisaran bulan Oktober hingga akhir November 1981.

Kolom-kolom yang ditulis Gus Dur di Tempo tersebut jika ditelisik bulan dan tahunnya persis berbarengan dengan meninggalnya Presiden Mesir saat itu, Muhammad Anwar Sadat pada 6 Oktober 1981. Dan persis, ketika Gus Dur menuliskan ulasannya yang pertama soal Mesir, itu terbit pada 3 Oktober 1981. Tepat tiga hari sebelum Anwar Sadat wafat.

Di kolom yang terbit tiga hari sebelum Sadat wafat tersebut berjudul “Sadat dan Islam”. Kolom itu jika diterka-terka dari sisi waktu terbit dan momentumnya, barangkali menyesuaikan situasi negeri para raja itu yang sedang mengalami tensi politik yang tinggi. Persis, karena sejak September 1981, Sadat melakukan represi politik terhadap kelompok Islamis yang dijulukinya sebagai “kelompok fundamentalis” itu karena mengganggu stabilitas politik.

Dengan demikain, wajar jika Gus Dur mengulas situasi itu dengan mengaitkan Sadat dengan Islam. Di kolom tersebut sebagaimana biasanya ketika beliau menuliskan tentang sosok, beliau memahami banyak detail tentang latar belakang, sejarah, karier dan haluan politik Sadat.

Gus Dur di kolom tersebut menyampaikan bahwa Sadat walaupun memiliki latar karier sebagai militer. Tapi, ia juga memiiki akar keislaman yang cukup kuat karena keluarga Sadat adalah pemimpin besar tarekat di Mesir.

Menurut Gus Dur, barangkali itulah yang menyebabkan perbedaan sikap politik antara Sadat dengan Presiden Mesir sebelumnya, yaitu Nasser soal gerakan Islam fundamentalis yang disponsori Ikhwanul Muslimin (IM). Sadat lebih sedikit longgar memberikan kebebasan kepada kelompok Islamis tersebut selama tidak banyak mengganggu stabilitas politik. Dan pada akhirnya Sadat merepresi Islamis karena membuat gejolak gara-gara kasus Kamp David, perjanjian damai dengan Israel paska Perang Yom Kippur.

Baca juga:  Ngaji Rumi: Beragama dengan Gembira

Kolom Gus Dur berikutnya yang mengulas tentang Mesir adalah yang berjudul “Mesir dan Kita: Persamaan dan Perbedaan” terbit pada 10 Oktober 1981. Di tulisan itu Gus Dur mengulas soal apa-apa yang menjadi persamaan dan perbedaan antara kondisi politik Mesir dengan Indonesia.

Menurut Gus Dur, Mesir dan Indonesia saat itu memiliki persamaan dalam hal sama-sama sedang membangun ekonomi dengan membuka investasi asing. Selain itu, juga keduanya sama-sama sedang mulai membuka kran demokrasi, yang walaupun akhirnya juga tak menggembirakan. Dan persamaan selanjutnya adalah soal birokrasi, kedua negara memiliki masalah yang sama soal membengkaknya birokrasi negara.

Kemudian, sebetulnya di kolom tersebut Gus Dur hendak mengkritik rezim Orde Baru karena memiliki kecenderungan sama dengan Mesir yaitu terkait dengan maslah membengkaknya birokrasi negara. Dan menurut Gus Dur gara-gara masalah itu kedudukan warga sipil dalam partisipasi politik nasional semakin melemah.

Selanjutnya, kolom lain soal Mesir yang dituliskan Gus Dur adalah “Sadat sebagai Politisi” terbit di Tempo pada 17 Oktober 1981. Pada kolom itu beliau lagi-lagi menjelaskan profil Sadat sejak perjalanan karir militer hingga posisinya Sadat sebagai Presiden Mesir saat itu.

Misalnya Gus Dur mengulas betapa sabar dan penuh dedikasinya Sadat saat berkarier menjadi militer dan menjadi bagian pasukan Gerakan Opsir Merdeka yang dipimpin oleh Presiden Gamal Abdul Nasser untuk menumbangkan kekuasaan Raja Faruk.

Baca juga:  Menyimak Dua Gus dari Jauh: Gus Ulil dan Gus Baha`

Selain itu, Gus Dur juga menjelaskan tentang kemampuan Sadat dalam menyeimbangkan situasi politik saat itu yang masih penuh gejolak dan pertikaian berbagai faksi. Oleh Gus Dur, Sadat dijelaskan juga sebagai sosok yang sangat mahir dalam berdiplomasi dengan lawan politik secara halus, kalem tapi selalu berhasil.

Kolom Gus Dur terakhir yang mengulas soal Mesir adalah berjudul “Mesir: Birokrasi itu Jadi Berita” terbit pada 25 November 1981. Di tulisan tersebut Gus Dur mengulas perkembangan politik Mesir saat itu yang sedang dirundung oleh masalah mengguritanya birokrasi pemerintahan Mesir.

Baca Juga

Gus Dur menceritakan secara cukup kronologis dan kontekstual kenapa birokrasi Mesir saat dapat menjadi menggurita dan tidak efektif tersebut. Dan sisi yang paling jenaka dari ulasan Gus Dur soal masalah Mesir itu adalah ketika beliau menceritakan betapa sulitnya pengurusan perijinan di negeri para raja tersebut hingga membutuhkan 57 tanda tangan tersendiri untuk sebuah perijinan saja.

Selain keempat kolom Gus Dur di Tempo tersebut masih ada beberapa lagi yang lain yang juga sama mengulas soal Mesir. Akan tetapi, di kolom-kolom lain tersebut Gus Dur hanya sekilas membahas soal Mesir. Seperti hanya menyuplik soal kondisi demokrasi Mesir, saat Gus Dur menuliskan soal Demokrasi di kolomnya.

Kemudian, dari sekian ulasan Gus Dur tentang Mesir tersebut menggambarkan betapa dalamnya pengetahuan beliau soal situasi politik negeri para raja tersebut lengkap dengan detail-detail profil presidennya.

Barangkali, kedalaman pemahaman Gus Dur soal Mesir tersebut banyak dipengaruhi oleh pengalamannya langsung ketika beliau sedang kuliah di Mesir. Gus Dur selain rajin berdiskusi dengan banyak orang di Mesir, beliau juga pembaca buku yang rakus. Hal ini tentu yang menjadikan Gus Dur semakin peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi, termasuk soal Mesir.

Baca juga:  Humor Gus Dur: Megawati dan Gus Dur Keturunan Raden Fatah

Maka kemudian tak heran, ketika sudah pulang ke Tanah Air, beliau masih menuliskan secara khusus soal Mesir di media massa yang bergengsi saat itu, Tempo. Alfatihah!

 

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top