Sedang Membaca
3 Humor Gus yang Berbuah Serangan Balik

Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Hamzah Sahal
Penulis Kolom

Founder alif.id. Belajar di sejumlah pesantren serta aktif di Rabithah Ma'ahid Islamiyah PBNU.

3 Humor Gus yang Berbuah Serangan Balik

Humor, guyon, atau joke tidak selalu mengundang pendengarnya tertawa terkekeh-kekeh. Sebaliknya, ia dapat memantik suasana menjadi dingin, tersinggung, marah, dicekal, dan jika menghadapi penguasa yang tiran, pelontar humor bisa dipenjarakan, seperti yang pernah dialami Warkop misalnya.

Gus Dur, sebagai tokoh nasional cum pelontar humor nomor wahid, juga pernah mengalami betapa humor juga terasa pahit bagi dirinya. Ya, mungkin Gus Dur sendiri tak mengira humornya akan berbuah “serangan balik” yang memilukan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Contoh pertama humor Gus Dur yang bikin saya mengelus dada adalah kisah Saleh Abdullah berjudul “Kisah Gus Dur Diturunkan Paksa dari Mobil oleh Dedengkot HMI“. Dalam kisah itu, mula-mula Eki dan Gus Dur ngobrol cair dan akrab, duduk berdampingan di dalam mobil.

“Setelah mobil bergerak, mereka berdua mulai ngobrol soal musik klasik. Seperti anak Jakarta, mereka pakai ‘lu-gue’. Senang rasanya dengar GD pakai ‘lu-gue’ ketika ngobrol. Langka. Mungkin gak banyak yang pernah dengar. Konon, ketika jadi presiden, ke sohib sejak kecilnya di Matraman, Marsilam Simanjuntak, GD juga suka ber-lu-gue dengan Marsilam,” tulis Saleh menggambarkan suasana keakraban keduanya.

Namun, tiba-tiba suasana obrolan berubah menjadi seperti “ring tinju”. Keduanya saling “pukul”. Entah apa yang disampaikan Gus Dur hingga memancing Eki menunjukkan senioritasnya, padahal hanya lebih tua setahun: “lu tau apa sih, Gus? Lu masih pake celana pendek kan, ketika itu.”

Baca juga:  Dua Humor Legendaris BJ Habibie dan Santri Madura

Saleh Abdullah, aktivis senior itu, tidak menceritakan detail omongan Gus Dur. Namun, balasan Gus Dur untuk Eki ditulis begitu gamblang, sampai kita yang membacanya merasakan betapa ketus balasan Gus Dur atas serang Eki.

“Biar gue masih remaja, tapi gue tinggal di Jakarta pusat. Nggak kaya lu di Ujung Kulon, betemen sama badak.” Maksud Gus Dur dari ledekan itu adalah Eki Syachrudin yang lahir di Pendglang, Banten, jauh dari beradaban, di sana adanya badak, berbeda dengan dirinya yang besar di Jakarta, pusat peradaban. Memang ada unsur hunor, tapi terasa ketus.

Gus Dur mungkin remeh saja melontarkan humornya itu, tapi itu terasa pahit sekali bagi Eki, yang diejak temannya badak.

“Serangan balik” dilancarkan: Gus Dur yang numpang diturunkan paksa oleh empunya mobil. Tragis.

Contoh kedua humor Gus Dur berbuah serangan balik ini sangat populer, yaitu saat Gus Dur bilang DPR itu seperti taman kanak-kanak.

Bagi rakyat yang sering kali muak dengan DPR, perumpamaan Gus Dur itu hiburan kelas tinggi, cerdas, berani, dan tepat. Namun bagi DPR yang merasa dewasa, terhormat, humor itu adalah hinaan tak terperi. Dan akhirnya, kita tahu semua, DPR menyerang Gus Dur hingga terpojok.

Baca juga:  Ihwal Propaganda Kebencian Seputar Pemakaman Mbah Maimoen

Contoh humor ketiga ini cukup spekulatif, ini sepertinya hanya humornya Gus Mus saja, agar persepsi publik bahwa Gus Dur dan pamannya, Pak Yusuf Hasyim “berantem” menjadi luntur. “Gak ada apa-apa kok antara Gus Dur dan Pak Ud,” begitu kira-kira poin Gus Mus.

Berikut ini dialog antara yang saya cuplik dari tulisan berjudul Gus Dur vs Yusuf Hasyim:

“Suatu ketika, Gus Dur bersama pamannya pergi bersama-sama dalam suatu kendaraan. Gus Dur menyetir kendaraan dan Pak Ud duduk di sampingnya. Waktu itu keduanya terlihat sangat akrab. Bahkan keduanya, kerap bercanda dalam perjalanan. Ya, biasalah layaknya paman dan keponakan.

Tiba-tiba, KH. Yusuf Hasyim mengomentari jalan aspal yang retak-retak. “Mbok pakai beton saja, biar tidak cepat rusak,” kata Yusuf Hasyim sambil menolehkan kepalanya kepada Gus Dur.

Gus Dur, karena saking seriusnya menyetir mobil, tidak menangkap jelas maksud pembicaraan pamannya itu. Sambil lalu, Gus Dur menjawab komentar pamannya itu. “Itu kira-kira akan menghabiskan berapa beton (beton dalam bahasa Jawa adalah biji nangka)?” timpal Gus Dur tanpa merasa bersalah.

Keruan saja Pak Ud marah besar atas komentar yang tidak serius itu. Sejak itulah mereka berselisih paham, mengenai apa saja.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top