Sedang Membaca
Hari Pahlawan dan Suwuk Para Kiai
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Hari Pahlawan dan Suwuk Para Kiai

Rohmad Arkam

Membincang Hari Pahlawan, bagi kita bangsa Indonesia merupakan suatau hal yang tidak asing lagi, hari dimana diperingati dari sebuah peristiwa bersejarah pertempuran hebat antara tentara Indonesia dengan tentara sekutu yang diboncengi NICA.

Konon pertempuran ini, salah satunya dilatarbelakangi kematian Jendral Mallaby, sehingga Jendral EC Mansergh sebagi pengganti Mallby, mengeluarkan ultimatum kepada pasukan Indonesia di Surabaya untuk menyerahkan senjata tanpa syarat, sehingga pecahlah pertempuran 10 November 1945 karena pihak Indonesia tidak menghiraukan ultimatum tersebut.

Para tokoh masyarakat seperti bung Tomo dan para kiai (KH. Hasyim Asy’ari) dengan fatwa resolusi jihatnya, memberi pelecut menggerakkan semangat perlawanan pemuda-pemuda Surabaya untuk melawan tentara sekutu, kendati hanya bermodal bambu runcing tapi sedikitpun tidak menciutkan nyali mereka menghadapi moncong senapan musuh mereka.

Hanya bambu runcing, Indonesia mampu melawan penjajah. Padahal hanya Bambu yang terbuat dari bahan baku bambu yang diruncingkan, memang terasa aneh bagi yang tidak memahami. Dibalik pembuatan bambu runcing terdapat peran penting seorang kiyai yang mungkin jarang sekali dikenal pada jajaran para revosiner pejuang tanah air. Melalui sebuah ritual suwuk (pembacan doa), bambu runcing mempunyai kekutan yang sangat dahsyat. Sehingga tak heran jika waktu perang 10 November 1945, pasukan NICA kewalahan menghadapi serangan para pejuang yang hanya bermodal bambu runcing.

Baca juga:  Tongklek, Dakwah Sunan Bonang di Bulan Ramadan

di Jawa Tengah tepatnya Parakan Temanggung ada KH Subchi, dikenal sebagai tokoh sentral suwuk bambu runcingnya. Sedangkan pada pertempuran 10 November di Surabaya, salah satu kiyai yang berperan dalam memberikan suwuk (doa) ratusan ribu bambu runcing sebelum dikirim ke Surabaya adalah KH Mansyur, pendiri Pondok Pesantren Al Fattah Kalipucang, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar.

Selain bambu runcing yang mendapat perlakuan suwuk, sebelum menuju medan laga para prajurit kemerdekaan juga mendapat perlakuan yang sama. Mbah Makruf Kedunglo Kediri, sebagaimana riwayat yang masyhur dikalangan santri, sebelum berangkat bertempur pada 10 November 1945 para tentara dan santri yang ikut berjuang diberi sepirit suwuk oleh Mbah Makruf dengan harapan mereka kebal dengan berbagai senjata.

Cara beliau nyuwuk pasukan tergolong unik, setelah semua dibariskan, beliau menyuruh mereka agar minum air jeding dekat Masjid. Selanjutnya beliau berdoa yang diamini oleh pasukan pejuang.

Di antara doanya: Allahumma salimna minal bom wal bunduq, wal bedil wal martil, wa uddada hayatina”. Doa beliau yang kedengarannya nyeleneh ternyata sangat manjur. Terbukti pada semua tentara yang sudah beliau suwuk kebal aneka senjata.

Baca Juga
Agamaku dan Bedug

Konon, Kiai Bisri Mustofa (ayah Kiai Mustofa Bisri) Rembang, pernah dikejar-kejar penjajah Jepang. Beliau kemudian lari ke Kedunglo Kediri minta perlindungan kepada Mbah Makruf. Kemudian Mbah Makruf mengijazahkan sebuah suwuk, setelah diamalkan beliau selamat dari incaran pasukan Jepang. Berkat jasa mbah Makuf, beliaupun lalu mewasiatkan kepada anak cucunya agar terus mengamalkan suwuk pemberian Mbah Makruf itu.

Baca juga:  Khudirin

Secara historis, budaya suwuk (doa) yang dijadikan media berjuang para kiyai pada masa kemedekaan tidak lahir begitu saja di Nusantara. Ketika zaman Walisanga, salah seorang anggotanya, Maulana Ishaq yang berasal dari Samarkand, Rusia Selatan adalah seorang ahli pengobatan. Salah satu metode pengobatan yang dilakukan Maulana Ishaq adalah dengan suwuk (doa) dan Metode ini dijadikan salah satu alternatif dakwah Maulana Ishaq pada zaman itu.

Jadi tidak mengherankan jika para kiai Nusantara sebagai penerus perjuangan Walisanga menggunakan sepirit suwuk dibalik kekuatan para pejuang kemerdekaan Indonesia untuk mengusir penjajah dari bumi Nusantara ini.

Lihat Komentar (0)

Komentari