Kanzah al-Ouarbi, Politikus Perempuan Pertama di Maroko

M. Fahruddin Al Mustofa

Perempuan bukan melulu soal kelemahan. Harkat dan martabatnya harus dijunjung tinggi. Perempuan bukan hanya sekadar objek, tapi lakon inti untuk melengkapi setiap lelaki di muka bumi.

Namanya abadi dalam torehan tinta sejarah di Bumi Maghrib ini. Perempuan yang cerdas, berperangai lemah lembut dan sempurna akalnya, mahir dalam hukum tata negara. Istri dari Maulay Idris I (Akbar), raja sekaligus pengasas pertama dinasti Idrisiyyah. Ibunda Maulay Idris II (Azhar) dan nenek moyang dari para raja-raja Idrisiyah. Dialah Kanzah Al-Ouarbi.

Ia adalah putri dari pembesar kabilah Ouarbah bernama Abu Ishaq Muhammad bin Abdul Hamid al-Ouarbi. Menikah dengan Maulay Idris sebagai pererat tali persaudaraan dengan calon penguasa, tak lain adalah Maulay Idris.
Maulay Idris dibaiat oleh para pembesar kabilah Amazigh yang berada di kawasan Jabal Zarhoun. Setelah itu, berdirilah dinasti Idrisiyyah di bawah tampuk kepemimpinannya.

Kabar besar ini terdengar hingga membuat penguasa Abbasiyah yang berada di Baghdad kebakaran jenggot. Khalifah Harun al-Rasyid menganggap sebagai ancaman pemberontakan bagi kerajaannya. Lalu dikirimlah utusan untuk membunuh Sang Penguasa Maghrib. Tak berselang lama, utusan ini berhasil memikat hati sang raja untuk berkhidmat kepadanya.

Pada satu kesempatan, ketika jamuan makan telah siap, mata-mata ini menabur racun pada makanan sang raja hingga tewas. Peristiwa berdarah ini terjadi pada tahun 177 H. Tak lain nama mata-mata itu ialah Abdullah Bin Jarir atau dikenal dengan sebutan As-Sammakh.

Di sini lah peran Kanzah untuk mempertahankan kerajaan yang dibangun suaminya. Bersama abdi setia kerajaan, Rasyid, ia larikan jabang bayinya dari kejaran kaki tangan dinasti Abbasiyah. Selama pelarian sampai lahirnya putra tercintanya, ia mengalami kesusahan dan berbagai rintangan yang datang bertubi-tubi.

Baca Juga:  Inilah Profil Raja Abraha yang Siap Melumat Kakbah

Seiring berjalannya waktu, dengan penuh wibawa dan aura keibuan, ia didik anaknya untuk menjadi pemimpin sejak kecil. Bersama Rasyid, ia perkenalkan anaknya dengan ilmu agama hingga hapal Alquran pada usia 8 tahun. Tak hanya ilmu syariat, ia perkenalkan juga anaknya kepada para pemimpin suku Amazigh untuk belajar bagaimana cara memimpin, berpolitik, dan mencari relasi yang luas.

Tepat ketika umur 11 tahun lebih 8 bulan, Maulay Idris II dibaiat di hadapan para pemimpin kabilah dan masyarakat yang pro kepadanya. Ia pun mulai membuka kota Fes untuk menguatkan kerajaannya.

Jikalau tidak ada Kanzah, maka tidak ada pula dinasti Idrisiyah. Jikalau bukan karena Kanzah, maka takkan ada kota Fes. Bahkan Maroko yang sampai saat ini dapat kita injak tanahnya dan saksikan sebagai saksi bisu perjuangannya. Begitulah perumpaan para sejarawan Barat Islam menggambarkan kegigihan Kanzah Al-Ouarbi dalam membangun, mempertahankan dan merawat cikal bakal kerajaan pertama di Maroko.

Setelah pusat pemerintahan dinasti Idrisiyyah berpindah ke kota Fes. Tampak perubahan yang mencolok di bidang keilmuan, sosial, arsitektur, dan pembangunan skala besar-besaran dalam kota yang terletak di kaki gunung ini.
Seperti halnya kerajaan yang berkuasa lainnya, mulai bermunculan musuh dalam selimut dan para pemberontak yang bernafsu merebut kekuasaan dinasti Idrisiyyah ini.

Dimulainya pembunuhan anggota keluarga kerajaan, mulai dari ayahanda Kanza, Maulay Rasyid hingga puncaknya terbunuhnya anak kesayangannya, Maulay Idris pada tahun 213 H/828 M. Kematian sang raja membuat situasi kerajaan menjadi genting. Hingga membuat Kanzah harus mengambil langkah cepat untuk mempertahankan kerajaannya.

Tak ayal, setelah proses berkabung, Kanzah mengumpulkan cucu-cucu dan keturunannya. Ditunjuklah Abdullah Bin Idris II untuk mengganti tongkat estafet kepemimpinan. Serta menunjuk 8 saudaranya yang lain agar segera mengambil alih kekuasaan di setiap daerah yang telah ditentukan. Hingga setiap kerusuhan yang terjadi di wilayah-wilayah rawan pemberontakan bisa diatasi berkat instruksi politik dan arahan kebijakan Kanzah.

Baca Juga

Kegigihan dan semangat juang untuk mempertahankan kebenaran dan mencegah perpecahan inilah yang membuat nama Kanzah abadi dalam tinta sejarah. Karena sejarah adalah milik mereka yang berani berjuang demi orang lain. Bukan untuk memperkaya diri sendiri.

Ada satu misteri yang belum terpecahkan di kalangan para sejarawan Maroko dan Islam secara umum, tentang tanggal kelahiran Lala (Istilah masyarakat Maroko kepada permaisuri kerajaan dan wanita terpandang) Kanzah, begitu juga kapan kiranya tanggal kematian sang ratu ini.

Dalam catatan sejarawan Mohammed Alaoui Al Bihi dalam bukunya Al-Mar’atul Maghribiyyah Abrat Tarikh mengungkapkan fakta penting perihal masalah di atas. Setelah kematian anaknya pada 213 H, Kanzah menetap di Dar El Farh, istana megah yang terletak di kota Fes. Selain itu, ia juga sering mengunjungi cucu-cucunya yang telah menjadi penguasa di berbagai daerah.

Salah satunya, Daud bin Idris II yang menjadi gubernur provinsi Taza di wilayah pegunungan Ghiyasah. Tapi terjadi satu keraguan sejarah, apakah ketika Kanzah berkunjung ke cucunya ini, telah berdiri Masjid As Souq yang dibangun oleh Daud pada sekitaran 263 H ataukah belum. Karena terdapat satu prasasti bertulisan tangan tentang riwayat Masjid As Souq yang tersimpan rapi dalam perpustakaan Batha di tengah kota tua Fes.

Terkadang sejarah merekam segala sesuatu hingga terperinci, tapi tak lupa, sejarah menyisakan berbagai misteri agar generasi mendatang memiliki keinginan kuat untuk menyingkapkannya. Serta mengambil pelajaran berharga untuk bekal kehidupan berikutnya. Dari Kanzah kita belajar bahwa seorang perempuan memiliki perannya masing-masing, berbahagialah perempuan-perempuan yang berani mengambil perannya demi kemaslahatan umat manusia.

Lihat Komentar (0)

Komentari