Sedang Membaca
Jejak Gus Dur di Maroko: Riwayat Pencarian Sebuah Kitab
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Jejak Gus Dur di Maroko: Riwayat Pencarian Sebuah Kitab

Alvian Iqbal Zahasfan

Siapa yang tidak kenal Gus Dur, sosok yang hobinya membaca, membaca, dan membaca. Tak disangka ia pernah ke Maroko entah kapan itu. Sepertinya waktu beliau masih muda atau saat beliau masih belajar di Mesir atau di Bagdad. Wallahu A’lam. Sementara menurut NU Online, Gus Dur ke Maroko tahun 1979.

Jauh-jauh ia ke negeri terbenamnya matahari untuk membaca buku-buku yang ada di perpustakaan kampus tertua di dunia, yaitu Al-Qarawiyin di kota Fes.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Tidak hanya buku yang ia baca, tapi juga manuskrip-manuskrip yang ada di perpustakaan tersebut. Di antaranya manuskrip berbahasa Arab karya Ibnu Rusd yang berjudul “Talkhis Akhlaq Aristo” atau “Akhlak ila Nikomakhos”.

Saya tidak tahu apakah ia sengaja ke Maroko untuk membaca langsung manuskrip tunggal tersebut atau hanya kebetulan saja. Asumsi kuat saya bukan kebetulan tapi diniatkan.

Terjemah dari Ibrani ke Arab (Foto: penulis)

Manuskrip Buku

Kitab ini asalnya karya Aristo tentang etika yang ditulis untuk anaknya yang bernama Nekomakhos/Nekomakhiya. Kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab secara harafiah oleh Ishaq bin Hunain (Dinasti Abbasiyah) pada Abad ke-3 H/8 M (W. 298 H) yang di-tahqiq (disunting) oleh Prof. Abdurrahman Badawi.

Lalu datanglah Ibnu Rusd (Abad ke-6 H/12 M) menerjemahkan kembali dan meringkasnya dalam bahasa Arab dengan judul “Talkhis Akhlaq Aristo” pada 26 Mei tahun 1177 M/572 H. Sayangnya manuskrip Asli Arabnya telah hilang kecuali beberapa lembar saja yang tersimpan di Perpustakaan Al-Qarawiyin Fes.

Kemudian kitab Ibnu Rusd tersebut diterjemahkan pada tahun 1321 M dari bahasa Arab ke Bahasa Ibrani oleh Samuel ben Juda de Marseille kelahiran Prancis Selatan 1294 M (Abad ke-7 H/13M) yang ditahqiq oleh L.V. Berman.

Penyunting kitab Akhlak Nikomakhos ini adalah Prof. Dr. Ahmad Syahlan. Ia menyunting dari bahasa Ibrani ke bahasa Arab dengan merujuk sekurang-kurangnya kepada lima naskah pendahulunya: Pertama, naskah Ibrani yang diterbitkan oleh Berman.

Kedua, naskah Arab yang diterbitkan oleh Prof. Abdurrahman Badawi dari karya Ishaq bin Hunain. Ketiga, dari terjemahan Arab oleh Ahmad Luthfi Assayyid (1924 M). Keempat, naskah terjemahan Perancis oleh Tricot. Kelima, naskah Yunani plus Inggris oleh J. Bywater (1894 M).

Meskipun sudah merujuk kepada lima naskah di atas, agar bernilai ilmiah, di akhir penyuntingan Prof. Ahmad Syahlan (Guru saya di Darul Hadis Rabat) membandingkan hasil terjemahan dan suntingannya yang dari bahasa Ibrani ke Arab dengan naskah Yunani bersama peneliti Brazil, Allan Neves yang tinggal di Marakes.

Isi Buku

Buku keren ini memuat 10 makalah (Bab):

1. Tentang Kebajikan, level-levelnya dan Perbuatan Insani. Di bawahnya ada 12 pembahasan.

2. Keutamaan yang muncul dari kebiasaan. Di bawahnya ada 8 pembahasan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

3. Perbuatan yang dikehendaki dan tidak. Di bawahnya ada 14 pembahasan.

4. Keutamaan dalam harta (kedermawanan). Di bawahnya ada 14 pasal.

5. Karakter Keadilan dan Kedzaliman. Di bawahnya ada 14 pasal.

6. Hijrah menuju Keutamaan Rasio “Kaidah yang lurus”. Di bawahnya ada 12 Pasal.

7. Sifat Rendahan, Tak Punya Malu, Sifat Ke-buas-an. Di bawahnya ada 14 pasal.

8. Mahabbah (Cinta). Di bawahnya ada 15 pasal.

9. Ragam pertemanan. Di bawahnya ada 11 pasal.

10. Pengantar teori-teori kenikmatan. Di bawahnya ada 9 Pasal.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Buku ini setebal 525 hal.

Edisi terbaru, 2018, dalam bahasa Arab (foto: penulis)

Gus Dur Menangis

Kalau melihat Gus Dur tertawa itu sudah biasa. Nah, ini Gus Dur menangis saat membaca manuskrip kitab “Talkhis Akhlak Aristo” karya Ibnu Rusd. Rupanya Gus Dur terpesona dengan isi buku yang mana mengajarkan tentang etika. Sambil menangis Gus Dur berkata, “Andaikan saya tidak baca buku itu saya bakal jadi teroris.”

Sanad Cerita

Cerita ini saya dapatkan dari guruku tercinta Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, ia mendapatkannya dari Dubes Maroko, Yth. Bapak Tosari Wijaya, ia mendapatkan langsung dari Gus Dur saat ikut mengantar acara pertunangan/pernikahan Mbak Yenni. Kebetulan setelah momen itu Pak Tosari akan bertugas menjadi Dubes di Maroko 2010 M.

Cerita ini diabadikan oleh Gurundaku Kiai Ali Mustafa Yaqub di bukunya “Cerita dari Maroko” Bab I. No. 17. Terima kasih guru.

 

Tanger 30/11/2019

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top