Sedang Membaca
Teror Peradaban (2): Wabah
Penulis Kolom

Santri Pondok Tremas Pacitan dan Krapyak Yogyakarta. Saat ini sedang menempuh S3 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prodi Studi Islam.

Teror Peradaban (2): Wabah

Whatsapp Image 2021 07 06 At 9.19.04 Pm

Setelah kelaparan, teror serius peradaban adalah wabah. Penyakit menular bisa dengan mudah memporak-porandakan peradaban manusia dalam satu hentakan. Sejak revolusi pertanian sekitar 12.000 tahun lalu, ketika manusia mulai mendomestikasikan hewan dan membuat permukiman permanen, muncul permasalahan baru yang tidak ditemui sebelumnya, yakni ketika manusia masih menjadi pemburu-pengumpul. Problem tersebut berupa penyakit yang datang dari hewan yang didomestikasi, serta kuman akibat dari pemukiman kumuh yang dibuat manusia.

Berkali-kali manusia di planet ini menghadapi berbagai wabah yang datang silih berganti, dengan sebab yang berbeda-beda. Beberapa tragedi mengerikan tentang wabah akan kita ulas singkat di sini. Pertama, Black Death. Dekade 1330, ketika bakteri penumpang kutu Yersinia Pestis mulai menginfeksi manusia yang digigit kutu. Wabah tersebut menyebar dengan cepat ke seluruh Asia, Eropa, dan Afrika Utara. Dilansir dari The Birth of Europe,  total manusia mati karena wabah tersebut antara 75 juta-200 juta orang.

Kedua, epidemi ganas yang melanda Amerika, Australia, dan Kepulauan Pasifik di tahun 1492. Kedatangan penjelajah dari Eropa membawa penyakit menular tanpa disadari oleh keduanya. Kekebalan tubuh penduduk asli tak kuasa menghadapi jenis penyakit baru tersebut. Akibatnya, sebagaimana yang dilaporkan Alfred S. Lopes dalam The Columbian Exchange; Biological and Cultural Consequences of 1492, 90 persen populasi lokal mati karena wabah tersebut.

Ketiga, virus cacar (Smallpox). Bermula ketika orang-orang Spayol membawa 900 budak Afrika ke Meksiko pada 05 Maret 1520, dimana salah satu dari budak tersebut terjangkit virus mematikan. Virus menyebar ke berbagai daerah di Meksiko, dari Maret sampai Desember tercatat sekitar 8 juta orang meninggal, termasuk Kaisar Aztec, Cuitláhuac. Penderitaan orang-orang Meksiko tidak berhenti disitu, selain menghadapi kekejaman kolonialisme, mereka juga diserang wabah-wabah lainnya hingga tahun 1580. Dalam buku The Population of Central Mexico in The Sixteenth Century tercatat bahwa di tahun 1580, penduduk Meksiko hanya tersisa satu juta orang (jumlah penduduk pada Maret 1520 ada 22 juta orang).

Baca juga:  Ahmadiyah, Kekerasan Teologis, dan Utopia Kebebasan Beragama  

Keempat, tahun 1778-1858. Tuberkulosis, sipilis, tipus, dan cacar yang dibawa pendatang Eropa, menginfeksi penduduk lokal Kepulauan Hawai. Diambil dari sumber Guns, Germs, and Steel; The Fates of Human Societies, karya Jared Diamond, akibat dari penyakit menular tersebut, dari setengah juta penduduk Hawai hanya 70 ribu yang selamat.

Data di atas tentunya hanyalah sebagian kecil dari catatan sejarah mengenai serangkaian wabah yang pernah menyerang manusia. Epidemi terus menteror kehidupan manusia dan akan terus ada selagi planet bumi masih ada. Sejak tahun 2019 hingga hari ini, manusia di seluruh dunia menghadapi wabah yang sama, Covid-19. Sampai tulisan dibuat, data global menyebutkan, 167.653.824 manusia terjangkit virus ini, dimana 3.480.657 meninggal.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Perang Melawan Wabah

Rangkaian catatan sejarah di atas menunjukkan bahwa wabah berkali-kali menimpa umat manusia. Tanpa bermaksud menyepelekan, dari kacamata sejarah wabah adalah fenomena biasa nan alami dalam kehidupan. Kami tidak tertarik mendebatkan apakah wabah itu adalah ujian ataukah azab dari Tuhan. Tulisan ini akan mengulas bagaimana manusia dari zaman ke zaman melawan wabah untuk kita jadikan sebagai kaca benggala di masa kini dan mendatang.

Terbatasnya pengetahuan dan teknologi nenek moyang kita, membuat mereka melakukan cara unik untuk membebaskan manusia dari ganasnya wabah. Suku Maya misalnya, mereka beranggapan wabah terjadi karena Dewa Ekspetz, Uzannkak, dan Sojakak terbang dari desa ke desa menebar wabah tersebut. Suku Aztec menganggap bahwa itu akibat ulah Dewa Tezcatlipoca dan Xipetotec. Sementara yang lain punya argumentasi yang mirip dua suku tersebut. Solusinya pun ‘aneh’, mereka menyarankan berdoa bersama, mandi air dingin, melumuri tubuh dengan bitumen, dan mengolesi luka dengan kumbang hitam. Hasilnya, wabah semakin mengganas, mayat begeletakan, dan setengah populasi musnah.

Baca juga:  Teror Peradaban (1): Kelaparan

Sejak revolusi sains, manusia menemukan cara yang lebih jitu dibanding sebelumnya. Kemajuan teknologi dan kedokteran membuat manusia secara tepat dan cermat mengatasi wabah, sehingga wabah di masa kini tidak mengganas jika dibandingkan dengan era-era sebelumnya. Dilansir dari Health and Wealth, SARS di tahun 2002/2003, flu burung pada 2005, flu babi di 2009/2010, dan Ebola pada tahun 2014, berhasil ‘dijinakkan’ berkat penanganan efisien sehingga korban akibat insiden tersebut relatif lebih sedikit. Memang saat ini dunia masih direpotkan dengan AIDS dan Covid-19, namun setidaknya berkat kemajuan pengetahuan dan teknologi, dua virus tersebut tidak seganas Black Death ataupun wabah-wabah di zaman dahulu.

Di konteks kita umat Islam dan bangsa Indonesia, alangkah lebih baik bila kita mempersiapkan diri dari segala teror peradaban, termasuk wabah. Berkaca dari sejarah, penakluk wabah adalah pengetahuan, teknologi, dan tentunya pertolongan Tuhan. Langkah solutif bagi kita adalah dengan mencetak kader-kader yang mumpuni di bidang kesehatan, biaya kesehatan yang terjangkau, teknologi kesehatan yang terbarukan, serta mengkampanyekan pola hidup sehat kepada masyarakat. Itu lebih penting daripada kita disibukkan perdebatan politik, ideologi, agama, dan teori konspirasi tak berdasar.

Kondisi kesehatan rakyat Indonesia cukup mengkhawatirkan, dimana jumlah kematian muda akibat penyakit masih tinggi. Kematian bayi, kandungan lemah, serta kasus keguguran juga cukup mengerikan. Rumah sakit di berbagai daerah selalu penuh, bahkan di beberapa kabupaten, pemasukan daerah terbesar datang dari rumah sakit. Untuk menambah data terkait kebelumberesan kita menangani masalah kesehatan, kita lihat data dari BPS-Statistics Indonesia. Pemuda Indonesia yang jumlah sekitar 64,50 juta (23.86% populasi), 36,72% diantaranya mengalami keluhan kesehatan dengan 5,27% rawat inap. Jika anak muda yang notabene kekebalan tubuhnya lebih kuat harus menderita gangguan kesehatan, bagaimana yang tua? Jika jasad masih rentan, bagaimana membangun peradaban? Yang perlu diingat, hifdzu an-nafsi adalah bagian dari tujuan syariat.

Baca juga:  Wabah, Vaksinasi, dan Pandangan Ulama Nusantara Tempo Dulu
Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top