Sedang Membaca
Living Al-Qur’an dan Pesan Kemanusiaan (5): Gerakan Dakwah Wali Songo di Indonesia
Penulis Kolom

Santri Pondok Tremas Pacitan dan Krapyak Yogyakarta. Saat ini sedang menempuh S3 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prodi Studi Islam.

Living Al-Qur’an dan Pesan Kemanusiaan (5): Gerakan Dakwah Wali Songo di Indonesia

Whatsapp Image 2020 05 05 At 2.38.19 Am

Dalam tulisan ini, kita belajar ke negeri kita sendiri, Nusantara. Sebuah bangsa yang dimana agama disebarkan tanpa anarkisme dan gencatan senjata, mungkin satu-satunya dalam sejarah. Islam sebagai agama yang di kemudian hari menjadi agama mayoritas di Nusantara, mulanya disebarkan oleh beberapa ulama dengan strategi jitu. Sebuah metode dakwah yang berprinsip pada al-mukhafadzah ‘alal qadimi as-shalih, wal akhdhu bi al-jadidi al-aslah, unsur-unsur budaya lokal yang beragam yang dianggap tidak bertentangan dengan sendi-sendi tauhid, di serap ke dalam dakwah Islam.

Al-Qur’an dihidupkan di relung hati hati masyarakat melalui berbagai ritual keagamaan yang telah dimodifikasi. Asimilasi sosiokultural-religius  yang telah dilakukan para da’i generasi Wali Songo membuat bangsa Nusantara memiliki ciri unik, dimana praktek keagamaan dijalankan tanpa kehilangan kultur dan budaya.

Gerakan dakwah Wali Songo menunjuk pada usaha-usaha penyebaran Islam dengan cara santun, melalui falsafah mau’idzatu al-hasanah, wa mujadalatu billati hiya al-ahsan, metode dakwah Wali Songo amat ramah,dan mengedepankan tutur bahasa yang indah.Dakwah Wali Songo peduli terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Ajaran Al-Qur’an dikemas dan dikaitkan dengan pemahaman masyarakat atau Al-Qur’an ‘dibumikan’ dengan menyesuaikan pada adat adat dan kepercayaan penduduk setempat melalui proses akulturasi, asimilasi, dan sinkretisasi. Strategi ini membutuhkan waktu yang lama, namun menghasilkan daya guna yang luar biasa. Secara berangsur-angsur masyarakat melepas kepercayaan lama, untuk kemudian mengilhami ajaran Al-Qur’an secara sukarela.

Diterimanya Islam oleh masyarakat pribumi Nusantara, secara bertahap membuat Al-Qur’an terintegrasi dengan tradisi, norma, dan falsafah hidup penduduk lokal. Beragam upaya dilakukan para wali untuk menghidupkan Al-Qur’an di tengah kehidupan masyarakat yang memiliki tradisi yang mapan. Akulturasi budaya lokal dan ajaran Al-Qur’an bersinergi dalam beberapa ritual keagamaan yang dikemas secara baru. Beberapa contoh hasil akulturasi tersebut masih kita jumpai hari ini, seperti tahlilan. Ritual keagamaan masyarakat Jawa sebagai akibat pengaruh dari asimilasi budaya Champa untuk memperingati kematian. Tradisi ini tidak dihilangkan oleh Wali Songo, namun justru dijadikan wasilah untuk living Al-Qur’an di tengah masyarakat. Bacaan tahlil diambil dari beberapa ayat Al-Qur’an. Dengan demikian Al-Qur’an hidup dalam bingkai tradisi yang syarat akan persatuan. Dimana tahlil melibatkan banyak orang, yang dimungkinkan terjadinya sillaturrahmi elemen masyarakat. Kita tahu, komunikasi merupakan syarat mutlak untuk persatuan sebuah bangsa.

Baca juga:  Living Al-Qur'an dan Pesan Kemanusiaan (1): Masa Rasulullah SAW

Beberapa tradisi lain juga bisa kita jumpai dewasa ini seperti; Rabu Wekasan, tabarukan ke makam wali, Grebek Syuro, Megengan, Saparan, Rejeban, Maleman, Riyayan, Syawalan, Sela, dan Sedekah Haji. Budaya-budaya berasal dari tradisi keagamaan Kapitayan, Hindu, Buddha, dan Tantrayana, seperti: Tumpengan, Nyadran, Tingkeban, Brokohan, Puput userm Tedhak Siten, Sesaji, Tolak Balak, Ruwatan, Bersih Deso, dll. Menunjuk pada sinkretisasi dan asimilasi sosial keagamaan yang berjalin berkelindan dengan ajaran Islam, dalam rangka pembumian Islam dan ‘menghidupkan’ Al-Qur’an dalam setiap gerak budaya masyarakat Nusantara.

Banner Aloya Ramadan

Al-Qur’an dan ‘Proyek’ Kemanusiaan

Wali Songo bukanlah tokoh agamawan yang hanya peduli pada kepentingan akhirat, dan menafikan segala riuh rendah duniawi. Mereka bukan sekelompok manusia yang hanya berdiam diri asyik masyuk bercinta dengan Tuhannya dalam kesendirian. Sekalipun kesunyian dibutuhkan untuk menajamkan nurani, namun kehidupan sosial tak boleh dihindari. Wali Songo sadar, agar Islam menarik banyak masa, ia harus mampu menjawab problematika realitas. Agama bukan sebatas peribadatan, lebih jauh dari itu, agama harus menyatu dalam praksis kehidupan. Beberapa upaya Wali Songo dalam membentuk tatanan sosial yang bermartabat, adalah dengan memasukkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam tatanan nilai dan sistem budaya masyarakat. Adapun secara teknis adalah sebagai berikut:

  1. Sunan Ampel, selain melalui pernikahan dan pendidikan, Kanjeng Sunan Ampel juga mendakwahkan Islam melalui jalur politik. Kedudukannya sebagai waliyul amri memberinya kesempatan untuk membuat undang-undang negara yang bersumber dari nilai-nilai Al-Qur’an, yang menjunjung tinggi keadilan dan kemanusiaan.
  2. Sunan Bonang, fokus dakwahnya adalah menggarap kesenian dan kebudayaan. Sunan Bonang mengajar suluk, membuat gamelan, dan menggubah irama musik. Dari kesenian tersebut, ruh Al-Qur’an dimasukkan dalam bait-bait lagu yang dibawakan. Estetika Al-Qur’an terlihat nyata.
  3. Sunan Giri, sebagai raja sekaligus pandhito ratu, ia ‘memanfaatkan’ kekuasaan dan jalur niaga sebagai wasilah untuk menyebarkan dakwah Islam. Bidang pendidikan juga digarap olehnya. Selain pesantren, Sunan Giri juga mengembangkan sistem pendidikan yang terbuka, dengan menciptakan berbagai jenis permainan anak, seperti Jelungan, Jamuran,
  4. Sunan Drajat, ia adalah agamawan pejuang kemanusiaan. Sunan Drajat mendidik masyarakat untuk menghayati ajaran Al-Qur’an yang menuntut umat Islam untuk memiliki kepedulian terhadap fakir miskin, mengutamakan kesejahteraan umat, memiliki empati, etos kerja keras, kedermawanan, pengentasan kemiskinan, solidaritas sosial, dan gotong royong.
  5. Sunan Kalijaga, tokoh satu ini dikenal dengan jangkauan dakwah yang sangat luas. Selain seni dan budaya, Kanjeng Sunan Kalijaga juga berperan dalam berbagai lingkup kehidupan sosial, seperti, politik, perekonomian, pendidikan, fashion, pertanian, dan lain-lain. Tak mengherankan, nama Sunan Kalijaga begitu populer dan harum, ia dianggap sebagai wali pelindung tanah Jawa.
  6. Sunan Kudus, jalur penegasan syariat adalah bagian dari strategi dakwahnya. Sunan Kudus adalah sosok yang ahli di bidang hukum. Pun begitu, syariat tidak serta merta ditegakkan dengan cara yang kaku. Terbukti ia mengganti kerbau sebagai hewan kurban, menggantikan sapi yang dikultuskan oleh masyarakat sekitar.
  7. Sunan Gunung Jati, strategi dakwah Sunan Gunung Jati adalah memperkuat hubungan politis dengan tokoh-tokoh berpengaruh. Selain itu, ia juga dikenal dengan wali yang jadug. Hingga hari ini bisa kita jumpai pertunjukan-pertunjukan yang menampilkan kesaktian dengan bekal mantra dari Al-Qur’an.
  8. Sunan Muria, sebagaimana ayahnya Sunan Kalijaga, Sunan Muria juga menggarap bidang kesenian untuk membumikan Al-Qur’an. Ia menciptakan berbagai jenis tembang yang berisi nasehat-nasehat dan ajaran tauhid.
  9. Sunan Gresik, merupakan tokoh senior para wali. Sunan Gresik membuka pesantren untuk menciptakan kader-kader Qur’ani yang siap sedia menjadi pelopor pencerahan.
Baca juga:  Ucapan Natal dalam Pandangan Gus Dur

Demikianlah, secara sukarela masyarakat Nusantara berbondong-bondong masuk Islam, karena kecerdasan Wali Songo dalam memaknai nilai-nilai Al-Qur’an. Wallahu A’lam

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
1
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top