Sedang Membaca
Living Al-Qur’an dan Pesan Kemanusiaan (2): Masa Khulafaur Rasyidin
Penulis Kolom

Santri Pondok Tremas Pacitan dan Krapyak Yogyakarta. Saat ini sedang menempuh S3 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prodi Studi Islam.

Living Al-Qur’an dan Pesan Kemanusiaan (2): Masa Khulafaur Rasyidin

Whatsapp Image 2020 05 05 At 2.05.43 Am

Pengaplikasian teks Al-Qur’an dalam kehidupan tidak lantas berhenti sekalipun ditinggal wafat Rasulullah SAW. Sebagai pemimpin negara yang juga pemimpin agama, Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib, berupaya agar Al-Qur’an senantiasa hadir dalam kehidupan umat manusia. Seluruh kebijakan yang dikeluarkan oleh para khalifah tersebut, dapat dipastikan tidak bertentangan dengan Al-Qur’an. Mereka memaknai jabatan khalifah sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan kesempatan ambisisus untuk berkuasa.

Di masa Khulafaurrasyidin, eksistensi Al-Qur’an terus digaungkan untuk tujuan kemuliaan. Penghayatan makna Al-Qur’an terus dikampanyekan, agar wajah Islam senantiasa rahmatan lil alamin. Al-Qur’an terus ‘dihidupkan’ untuk meneruskan peradaban mulia yang sudah dibangun oleh Rasulullah.

Dalam tulisan singkat ini, kita mencoba memaknai kedahsyaatan Al-Qur’an dari menggali sejarah tentang ekspansi Islam yang sedikit disalahpahami oleh banyak orang. Di zaman Khulafaur Rasyidin, perluasan wilayah dilakukan sebagai pemaknaan atas perintah untuk mendakwahkan Islam. Ekspansi yang dilakukan umat Islam di kala itu, bukanlah sejenis kolonialisme. Daerah yang ditaklukkan adalah daerah yang di bawah cengkeraman Persia dan Romawi. Dua imperium besar tersebut menguasai daerah jajahan yang sangat luas. Islam datang untuk memerdekakan ketertindasan kaum lemah dari kejinya penjajahan. Islam menjunjung hak asasi manusia dengan menentang dehumanisasi.

Baca juga:  Living Al-Qur'an dan Pesan Kemanusiaan (6): Tragedi 10 November

Pasukan muslim yang berhasil merebut suatu wilayah dari kekuasaan dua imperium tersebut, tidak lantas menjadikan wilayah tersebut sebagai daerah jajahan Islam. Alih-alih menjadikan mereka budak dan mengeruk kekayaan wilayah tersebut, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para pemenang, untuk memaksa mereka masuk Islam pun tidaklah dilakukan oleh pasukan muslim. Para sahabat nabi ini paham, bahwa Islam harus dipeluk dengan ketulusan, tanpa paksaan, tanpa penindasan, dan tanpa kepalsuan. Tak hanya sebatas itu, pasukan muslim juga tidak mengusik adat setempat, dan memaksakan ideologi mereka pada daerah taklukkan. Mereka sadar akan dawuh Tuhan dalam surat Hud ayat 118, yang intinya manusia memang diciptakan berbeda. Aplikasi dari surat Ali-Imran ayat 64 pun tidak serta merta dilakukan tanpa strategi, apalagi dengan melukai kemanusiaan dan membenarkan penindasan bertopeng agama, seperti yang sering kita jumpai dewasa ini.

Dalam politik pemerintahan, para Khulafaur Rasyidin membuat undang-undang yang berlandaskan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Beberapa contoh: sistem perdagangan dijalankan dengan prinsip kejujuran, sesuai perintah Allah dalam surat An-Nisa ayat 161-164. Pemerataan ekonomi digalakkan untuk memutus jarak antara kaum ‘borjuis’ dan ‘proletar’. Negara menjamin keseimbangan hidup warganya. Bahkan di masa kepemimpinan Sayyidina Abu Bakar pernah memerangi kaum yang menolak membayar zakat. Selain dianggap melanggar syariat Islam, penolakan membayar zakat adalah awal dari sebuah dehumanisasi. Jika dibiarkan, harta hanya akan berputar di kalangan tertentu, yang pada akhirnya berujung pada feodalisme juga kriminalitas.

Baca juga:  Jokpin dan Agus Noor: Tentang Karya Sastra yang Lahir Saat Pandemi

Banner Aloya Ramadan

‘Mengabadikan’ Al-Qur’an

Al-Qur’an sebagai kitab yang dijanjikan keabadian dan keasliannya oleh Allah. Melalui tangan para sahabat, Allah ‘membuktikan’ janji-Nya. Kodifikasi Al-Qur’an merupakan langkah berani yang dilakukan oleh Khulafaur Rasyidin, karena tidak pernah ada di zaman Rasulullah. Pembukuan Al-Qur’an adalah upaya manusia untuk menjaga eksistensi Al-Qur’an agar tetap abadi. Wafatnya para penghafal Al-Qur’an dalam hurubu ar-riddah menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi Umar bin Khattab akan ‘hilangnya’ kalam suci tersebut. Umar pun mengusulkan dilakukannya pembukuan Al-Qur’an dengan penuh selektif. Harapannya adalah agar Al-Qur’an terus hidup sepanjang zaman, dapat dibaca, dikaji, dipahami, dihayati, dan diaplikasikan oleh umat Islam sepanjang zaman. Cita-cita terbesar para Khulafaur Rasyidin adalah bagaimana Al-Qur’an tetap hidup di dalam sanubari umat Islam, menerangi dan menemani setiap langkah perjuangan umat Islam.

Al-Qur’an begitu hidup di era tersebut, seluruh asas kehidupan umat Islam didasarkan pada Al-Qur’an dan Al-Hadits. Regulasi-regulasi yang dibuat pemerintah diilhami oleh ajaran keduanya Pemaknaan atas Al-Qur’an yang tidak tekstualis, membuat Khulafaur Rasyidin tidak terjebak pada dhahir teks dan menafikan maqashid syariah. Para khalifah ini mengajarkan kepada kita, bahwa Al-Qur’an tidak hanya dimengerti sebagai deretan huruf dalam kata dan kalimat. Al-Qur’an harus ‘dihidupkan’ pada realitas kehidupan dan praksisnya, dengan didasari pada kesadaran transendental.

Baca juga:  Kita (Sebetulnya) Bisa dan Mampu Berbahasa Indonesia dengan Baik, Cuma Malas Saja

Dari sini kita belajar, bahwa agama dan realitas sosial tidak bisa dipisahkan. Kita tidak bisa menghindar dari dinamika sosial, dengan menjadi penyendiri yang bersembunyi di pojok-pojok sejarah. Mempelajari agama tidak lantas apatis terhadap realitas. Para sahabat nabi telah mengajarkan keseimbangan, menjadi muslim harus ikut serta mewarnai kehidupan. Jika semua muslim acuh tak acuh dari masalah ‘duniawiyah’, lantas relakah kita jika dunia ini dikelola oleh orang-orang jahat? Al-Qur’an yang abadi ini harus terus kita hidupkan di tengah tantangan zaman yang terus berkembang. Keikutsertaan kita dalam peran realitas yang dinamik dengan kesadaran Qur’ani membukakan mata hati kita, untuk menapaki tangga ontologi memasuki dataran metafisika dan memperoleh pencerahan. Dengan Al-Qur’an harusnya kita mampu bersaing di kancah global, tanpa perlu terseret arus modernisasi yang bergelimang mitos dan takhayul. Wallahu A’lam.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top