Sedang Membaca
Film Korea, Pujian Jawa di Musala, dan Pesan Kematian
Khoniq Nur Afiah
Penulis Kolom

Nyantri di Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak. Tertarik dengan Isu-isu pesantren dan milenial. Instagram @khoniqn

Film Korea, Pujian Jawa di Musala, dan Pesan Kematian

Images 3 B14b157c2015c17c06dd78fed4d2a675 600x400

Belum lama ini saya mencoba menonton sebuah film yang sudah lama bersemayam di laptop tua. Sebuah film Korea rekomendasi dari seorang teman yang sangat up date dengan dunia perfilman dan gemar dalam menonton film. Film Korea tahun 2017 yang disutradarai oleh Kim Yong-hwa ini bertajuk Along with Gods: Two Worlds.

Film tersebut berhasil saya tonton dengan hati yang tidak biasa-biasa saja. Cukup tercuri perhatiannya dengan menonton film ini, makanya saya bilang hati saya tidak biasa-biasa saja saat menontonnya.

Iya, saya benar-benar tercuri perhatiannya dengan film ini. Film ini memang tidak masuk dalam kategori film action yang bunuh-bunuhan atau perang-perangan, tapi saya merinding melihatnya. Secara garis besar film ini bercerita tentang proses hisab amal perilaku seorang petugas pemadam kebakaran. Ia gugur saat sedang bertugas memadamkan kebakaran di sebuah gedung yang beringkat tinggi.

Proses hisab yang dikisahkan dalam film ini terdapat tujuh tahap, dan proses tersebut dilewati dengan berbagai rintangan oleh Kim Jo-hong sebagai tokoh utama.

Pada dasarnya Kim Jo-hong adalah orang yang baik. Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa seseorang hidup didunia tidak pernah luput dari kesalahan, begitu juga dengan Kim-Jo-hong. Sehingga, setiap perilaku Kim Jo-hong dalam proses persidangan atau hisab tersebut tetap harus dipertanggung jawabkan. 

Menonton film ini rasanya seperti melihat replika akhirat kelak, tetapi tentunya tidak semudah itu dibayangkan. Perihal bagaimana bentuk kehidupan akhirat kelak hanyalah Allah Swt yang tau. Karena hal tersebut juga bagian dari keimanan terhadap hari akhir.

Ketakutan saya tidak hanya berhenti setelah menonoton film. Efek rumah saya cukup dekat dengan langgar atau musala, penegeras suara pun cukup nyaring terdengar dari rumah. Langgar di desa saya memang masih melestarikan kearifan lokal yang ada. Iya, kearifan lokal seperti pujen jawa yang biasanya dilantunkan setelah adzan dikumandangkan. 

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Pujian atau Pujen yang berarti pujian-pujian kepada Allah dan Rasul ini tidak lain memiliki muatan pesan positif di dalamnya. Pujen biasanya menggunakan kalimat selawat dan beberapa lirik dengan bahasa jawa dan sangat bervariasi. Kali ini, pujen yang saya dengar memang sudah tidak asing di telinga, sebab sejak kecil sering mendengarnya.

Berikut beberapa bait lirik dari pujen jawa yang saya dengar  dari musla saat itu :

Eling-eling siro menungsa jaler estri enom tuo, enom
Saben dino podo elingo kapan-kapan nompo timbalan
Timbalane kang moho suci gelem ra gelam bakale mati, bakale mati
Disalini panganggon putih yen wes budal ora biso muleh
Tumpakane kereto jowo roda papat rupo manungsa
Jujukane omah tuo tanpa bantal tanpa klasa
Omahe ora ono lawange turu dewe ora ono kancane
Ditutupi anjang-anjang diurugi disiram kembang 

Pujen di atas adalah penggalan dari beberapa lirik yang ada. Secara garis besar pujen di atas memiliki pesan kepada para pendengarnya untuk mengingat kematian. Lirik-lirinya pun menjelaskan bahwa setiap orang pasti akan dipanggil Allah (meninggalkan dunia).

Selain itu, dalam salah satu lirik tersebut juga menceritakan seorang yang meninggal dunia akan diantar kepemakaman menggunakan kereta Jawa yang memiliki roda berupa manusia dan ditempatkan di sebuah tempat yang tidak ada jendela dan pintunya (liang lahat).  

Dua hal diatas: film dan pujen dari musala adalah hal yang benar-benar saya renungi. Hal tersebut merupakan bagian dari pepeling kita semua untuk mengingat kematian. Anjuran tentang mengingat kematian juga telah dijelaskan dalam kitab Muhtarol Hadist karya Ahmad al-Hasyimi. Pada bab khomsun wa “isyruna yang mana ada hadist yang menjelaskan mengenai mengingat kematian.

Hadis yang dalam kitab tersebut adalah hadis riwayat Imam Bukhori, bahwasanya hidup itu bagaikan mengembara (sebentar). Sehingga, jangan sampai jika kita ingin berbuat baik lalu ditunda-tunda. Jika ingin berbuat baik di pagi hari maka segerakanlah, tidak perlu menunggu sore hari dan sebaliknya. Jika ingin berbuat baik di sore hari maka segerakanlah, tidak perlu menunggu hingga pagi hari. Karena kita perlu menikmati kesehatan kita dengan melakukan kebaikan sebelum kesakitan, dan menikmati hidup ini dengan penuh kebaikan sebelum ajal menjemputnya. 

Sebab kita semua juga tidak pernah tau sebenarnya kapan ajal akan menjemput. Sehingga kesempatan yang kita miliki harus digunakan dengan sebaik-baiknya Menunda kebaikan adalah bukanlah hal yang tepat untuk kita lakukan, sebab kesempatan belum tentu akan datang dua kali

Film Along with God dan Pujen Jawa menjadi pepelin dan ruang refleksi untuk kembali semangat menyegerakan kebaikan. Tulisan refleksi ini juga semoga menjadi pemicu semangat kita semua untuk melakukan kebaikan dan memberi kemanfaatan untuk semua. Semoga kita semua selalu di beri kesehatan untuk selalu memetik hikmah dari berbagai hal. serta senantiasa selalu diberi petunjuk untuk melakukan kebaikan, dan semangat menjadi yang lebih baik. Sekian. Selamat Idul Fitri 1441 H. Wa’llahu a’lam bi showwab

Baca juga:  Belajar dari Film Iran (3): Son of Maryam, Kisah Persahabatan Aktivis Masjid dan Pendeta
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top