Ada Kiai Muda di Balik Munas NU

Kholili Kholil

Selain kiai-kiai yang sudah masyhur, seperti Kiai Miftahul Akhyar, Kiai Subhan, Kiai Said, Kiai Masdar, Kiai Afifuddin Muhajir, Gus Ghofur, bahtsul masail di Munas NU yang mengahsilkan “pergantian kata kafir menjadi non-muslim” tersebut diikuti juga oleh kiai muda yang belum terlalu mengemuka di media. Kiai yang saya maksud adalah Hamim Hudlori. Siapa dia?

Lelaki yang berbadan tinggi dan tegap itu baru berumur 36 tahun, tinggal di kampung bernama Gondang Legi, Malang, Jawa Timur.

Gus Hamim, begitu orang-orang memanggilnya, datang ke Munas NU untuk mewakili Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM NU) Jawa Timur. Belum lama ini, dia memang dipercaya ikut mendinamisir majlis intelektual kaum santri itu. Di LBM PWNU Jatim itu, Gus Hamim memegang bagian maudhu’i (tematik), bagian yang memang berisi persoalan-persoalan khusus, dan juga kontemporer.

Sebelum aktif di forum bahtsul masail kancah Nasional, Gus Hamim sangat aktif dalam berbagai forum bahtsul masail di kancah regional seperti Forum Musyarah Pondok Pesantren (FMPP) Jawa-Madura dan lain-lain.

Baca juga:

Dengan pengalamannya mengajar di berbagai pondok pesantren, menjadi perumus di forum Bahtsul Masail yang diisi oleh santri-santri “kelas satu”, tentu tugas di LBM bukan hal yang asing. Di kalangan mubahitsin (aktivis bahtsul masail), dia dikenal sebagai pakar “Bab Mu’amalah”, yakni bagian fikih yang berkaitan ekonomi, transaksi, bank, dan sebagainya. Bayangkan, umur belum 40 tahun, sudah dinilai pakar oleh para senior, di bagian yang tidak terlalu (ya, bab muamalah) populer di kalangan pesantren.

Saking ahlinya dalam bidang ini (Mahaguru di bab muamalah adalah Kiai Ma’ruf Amin), Gus Hamim sampai diamanati “mendalili” bank wakaf yang baru-baru ini banyak berkembang di pondok pesantren.

Baca Juga:  Kisah Gus Baha: Nasab, Perkawinan hingga Karir Intelektual

Tidak hanya kitab-kitab klasik, karya fikih kontemporer pun sangat rutin beliau baca. Dialah yang memperkenalkan saya dengan Abdullah bin Bayyah, salah seorang pakar “maqasid syariah”, sekitar lima tahun lalu. Ketika itu beliau meminjamkan karya Bin Bayyah yang cukup populer, Tanbihul Maraji’ (Pengingat Rujukan-Rujukan) dan Fiqhul Aqalliyat (Fikih Minoritas).

Yang menakjubkan (bagi orang pesantren tentu saja biasa) Gus Hamim ini tidak sekolah. Dia bukan lulus universitas A, institut B, kampus C, itu yang sering dinilai punya keunggulan di bidang metodologi atau kritisismenya. bukan Juga tak pernah mengenyam pendidikan Timur Tengah yang referensinya bergudang-gudang.

Saya nguping-nguping, beberapa dosen di Maroko dan Malaysia berkawan karib dengannya dan semuanya mengakui penguasaan beliau akan konsep fikih klasik dalam persoalan mu’amalah. Bahkan sebagai wujud nashihah, kawan-kawan beliau yang menjadi pengajar di Timur Tengah itu sering mengirimkan kitab-kitab yang jarang ditemui di Indonesia untuk beliau baca. Beberapa dari kitab ini sering saya pinjam.

Di samping fikih, beliau juga rutin mengkaji ushul fiqh. Salah satu guru beliau dalam bidang ini adalah Kiai Azizi Hasbullah dari Blitar. Kiai Azizi adalah salah seorang pakar ushul fiqh yang tersohor hingga mancanegara. Kiai Azizi adalah salah satu dewan pakar di LBM PBNU.

Berkat pergumulannya dengan Kiai Azizi, Gus Hamim seringkali mampu memecahkan masalah-masalah melalui istinbath langsung secara manhaji dalam forum-forum Bahtsul Masail tingkat wilayah.

Baca Juga

Di samping menekuni ilmu-ilmu lahir, beliau juga sempat mendapatkan ilmu batin dari seorang kiai tersohor yang tidak dapat penulis sebut namanya. Ketika masih muda, beliau pernah mengajar di sebuah pesantren di pesisir yang dulu pesantren ini sangat tersohor di Nusantara. Meskipun masih muda, namun beliau ketika itu sudah diamanati mengajar di kelas para senior. Sehingga ketika ada forum Bahtsul Masail, segera saja beliau dipasrahi untuk menangani hal itu.

Baca Juga:  Al-Mawazinul Khamsah: Polemik Fatwa Terjemah Khutbah Jumat Himpunan Raden Natadilaga Cikampek (1940)

Lembar demi lembar, jilid demi jilid. Beliau terus mencari ta’bir yang beliau tuju namun tetap tidak ketemu. Hingga di suatu sore setelah jamaah asar beliau dipanggil kiai pondok tersebut. Sang kiai tiba-tiba memerintahkan Kiai Hamim agar membuka sebuah kitab yang tak terlalu tebal.

Penasaran dengan perintah sang kiai, Kiai Hamim sehabis jamaah langsung menuju perpustakaan dan mengambil tempat favoritnya di bagian pojok. Lalu beliau membuka kitab yang dimaksud kiai tadi.

Bak disambar petir, Kiai Hamim kaget bukan kepalang. Referensi bahtsul masail yang beliau cari selama berhari-hari ternyata ada di kitab itu. Dan anehnya, menurut Kiai Hamim, kiai tadi tidak tahu forum mahtsul masail yang sedang beliau hadapi.

Akhirnya, di malam saya ngaji kitab Kanzur Raghibin kepada beliau, ada pesan begini: “Mujahadah itu juga penting, agar ketika ilmu lahir (zahir) tidak sanggup mengatasi, maka ilmu batin yang akan turun tangan.”

Itu sekilas potret alumni pesantren tradisional, alim di bidangnya, menjiwai di akhlaknya.

Lihat Komentar (0)

Komentari