Sedang Membaca
Kitab Kuning, Teman Tidur Kiai Afifuddin Muhajir

Kitab Kuning, Teman Tidur Kiai Afifuddin Muhajir

Ahmad Husain Fahasbu

Kiai Said Aqil Siraj, Ketua Umum PBNU, ketika membuka acara tadarus pemikiran Kiai Said pada waktu Ramadan yang lalu di Pesantren al-Tsaqafah berujar bahwa di dunia Pesantren ada dua ilmu keislaman yg cenderung ditinggalkan. Ilmu apakah?

Pertama Ilmu Kalam kedua Usul Fikih. Keduanya, lanjut Kiai Said, memang dipelajari tapi porsinya sangat minim. Porsi keduanya masih kalah dengan porsi pembelajaran ilmu fikih, ilmu nahwu, ilmu saraf dan lain-lain.

Ilmu kalam dan usul fikih sangat penting dalam khazanah Islam. Dengan ilmu kalam kita akan mempelajari Allah, sifat Allah dan lain-lain. Ibarat bangunan, ilmu kalam adalah sebuah pondasinya. Maka, kuatnya bangunan tergantung seberapa kuat sebuah pondasi. Begitupula kuatnya keberislaman seseorang tergantung sejauh mana dia mengenal Allah. Dan itu semua ada dalam ilmu kalam.

Bagaimana dengan usul fikih? Semua orang pasti bersepakat bahwa usul fikih adalah cabang ilmu yang begitu penting. Hal ini disebabkan ia menjadi ilmu untuk memproduksi hukum fikih. Usul fikih adalah proses sementara fikih adalah produk. Wahyu Allah sudah berhenti sementara persoalan terus bermunculan, maka untuk menyelesaikan “ketimpangan ” ini usul fikih menjadi sangat penting.

Lalu Kiai Said menyebut dua tokoh di Indonesia yang dianggapnya sangat mumpuni dalam kajian usul fikih. Pertama adalah Prof. Yudian Wahyudi, Rektor UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Prof Yudian, begitu ia disapa adalah santri Pesantren Tremas yang kemudian melanjutkan studinya ke Barat, Amerika. Di sana, Yudian belajar tentang kajian-kajian Islam secara kritis. Banyak buku fenomenal yang berhasil ditulisnya.

Nama Kedua yang disebut oleh Kiai Said adalah Kiai Afifuddin Muhajir. Ia adalah Wakil pengasuh bidang pengembangan keilmuan di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Sepeninggal Kiai Sahal, Kiai Afif digadang-gadang menjadi rujukan utama dalam bidang usul fikih.

Kemampuan Kiai Afif dalam bidang ini tidak hanya berkutat tentang bagaimana ia mencoba menyerderhanakan kaidah-kaidah usul fikih yang rumit tetapi ia juga memiliki konsistensi dalam menerapkan kaidah yang dipahami dalam mengurai persoalan keagamaan yang bermunculan. Bagi Kiai Afif, usul fikih bukan hanya ilmu hafalan tetapi juga ilmu terapan.

Baca juga:  Melihat Indonesia Melalui Seni

hal ini, yakni menggunakan usul fikih sebagai dasar pengambilan hukum cukup asing bahkan dalam tradisi pesantren. Suatu waktu ketika mengikuti Bahtsul Masail kami menjawab persoalan dengan kaidah usul fikih. Tiba-tiba secara kompak forum menolak jawaban yang kami ajukan itu.

Sebagian pihak mengkhawatirkan jika porsi usul fikih dalam merumuskan hukum Islam begitu besar maka berakibat kepada lemahnya sebuah maraji atau ibaratun nusus (teks dalam kitab kuning). Tapi dalam pandangan kami, kekhawatiran tersebut tidak ditemukan pada sosok penulis kitab Fathul Mujib al-Qarib itu. Kiai Afif disamping ahli dalam bidang usul fikih ia juga kuat dalam ilmu fikih.

keistimewaan ini tidak lahir secara instan. Sejak umur delapan tahun Kiai Afif sudah menjadi santri Sukorejo yang diasuh oleh Kiai As’ad. Ibunya adalah pengajar Alquran di Pondok Pesantren Putri Pesantren Sukorejo pada waktu itu. Ketika usia dua puluh tahun, Kiai Afif sudah mengajar dan memberi pengajian kitab kuning di hadapan para santri.

Belajar, mengajar, membaca, merenung dan berdiskusi adalah aktivitas Kiai Afif muda. Dan itu dilakukannya dengan amat tekun dan istikamah.

Kiai Muhyiddin Khatib pernah bercerita kepada saya bahwa Kiai As’ad hampir tidak pernah melibatkan Kiai Afif dalam hal-hal yang bersifat teknis. Kiai Afif, ujar Kiai Muhyiddin, difokuskan untuk mengajar dan menemani para santri. Padahal Kiai Afif adalah santri yang cukup dekat dengan Kiai As’ad. Dalam titik ini, Kiai As’ad seperti sedang menyiapkan kader ulama yang berkualitas secara keilmuan di masa depan. Dan benar saja, kini Kiai Afifuddin Muhajir benar-benar menjadi sosok yang ilmuan yang dibanggakan.

Baca Juga

Bukti lain bahwa Kiai Afifuddin Muhajir begitu tekun dalam mempelajari kitab kuning adalah kebiasannya menjawab secada sepontan pertanyaan yang diajukan. Menurut santrinya, Dr. Abdul Moqsith Ghazali, ia dan teman-temannya dulu memiliki komunitas diskusi. Banyak hal yang menjadi tema dalam kelompok itu, termasuk mendiskusikan nahwu dan saraf.

Suatu ketika mereka mendiskusikan susunan lafaz “Syai’un Lillah” yang terdapat dalam bacaan Tahlil. Berbagai kitab rujukan dibuka dan dibongkar, diskusi tidak selesai satu dan dua hari, tetapi berhari-hari. Forum pun maukuf, mentok. Akhirnya santri dari pulau Kangenan itu mendatangi Kiai Afif. Dan ketika diajukan, secara sepontan Kiai Afif memberi jawaban bahwa tarkib dari lafaz “Syai’un Lillah” itu keterangannya dijelaskan dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin.

Aneh memang persoalan nahwu dibahas dalam kitab fikih seperti Bughyah. Tapi ini bukti kuat bahwa Kiai Afif begitu tekun dan ulet membaca teks-teks kitab kuning, kata demi kata, pragraf demi pragraf halaman demi halaman dan begitu seterusnya sehingga ribuan judul kitab yang menjadi bacaanya.

Ketika kita sowan ke kediaman Kiai Afif kita akan menyaksikan ribuan judul buku yang ada di ruang tamunya. Tema-temanya bervariasi, mulai akidah, tasawuf, fikih, usul fikih, tafsir, hadis, sirah, filsafat, balaghah bahkan buku-buku sains. Khsusus untuk sains, jika ia ingin memantapkan pemahamannya, tak segan-segan ia berkonsultasi dengan siapapun termasuk Prof. Nadirsyah Hosen, dosen muda di Monash University Australia.

Baca juga:  20 Tahun Pembantaian Guru Ngaji di Banyuwangi (2/2)

Kepada Kiai Afif kita mesti belajar tentang ketekunan membaca, memahami dan mengkontekskan hasil bacaan dengan kehidupan hari ini. Beliau tidak berhenti membaca. Tak sedikit, para santri mendapati beliau tidur berteman kitab kuning.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top