5 Buku Induk Ihwal Sejarah Islam

Kholili Kholil
Waktu dalam sejarah

Tarikh Islam adalah salah satu fragmen sejarah yang selalu menarik dibahas. Bukan saja karena ia menjadi peradaban maju di masanya, namun juga karena ia meninggalkan banyak warisan yang bisa dijadikan teladan oleh generasi selanjutnya, termasuk warisan berdarah-darah juga.

Maka mempelajari sejarah Islam, bagi umat Islam khususnya, seakan sudah menjadi kewajiban. Bahkan Al-Kafiyaji dalam ikhtisarnya mengatakan hukum mempelajari tarikh adalah fardhu kifayah. As-Sakhawi bahkan sampai membuat buku dengan judul yang cukup ekstrem: Al-I’lan bit Tawbikh li man Dzamma al-Tarikh (deklarasi cacian bagi orang yang menghina sejarah).

Nah, berangkat dari hal ini berikut penulis rangkum lima kitab tarikh yang harus dibaca. Atau kalau malas minimal dimiliki sudah cukup. Kitab ini berasal dari genre penulisan yang berbeda-beda.

Tarikh Islam Umum: Al-Bidayah wa al-Nihayah karya Ibnu Katsir

Buku ini adalah buku sejarah Islam secara umum dan merupakan referensi primer. Buku ini sendiri cukup tebal. Ada yang mencetaknya menjadi lima belas jilid. Ada pula yang menjadikannya dua puluh satu jilid.

Namun Ibnu Katsir adalah sarjana ortodoks—beliau murid Ibnu Taymiyah dan Adz-Dzahabi. Bagi sebagian kalangan hal ini bisa menjadi nilai kurang.

Namun Ibnu Katsir hidup setelah ath-Thabari (pengarang Tarikh ath-Thabari) dan Ibn Atsir (pengarang al-Kamil), sehingga buku Ibn Katsir ini secara otomatis lebih lengkap dibanding keduanya.

Baca juga:

Baca juga:  Kemajuan Sains dan Kekisruhan Politik Dinasti Abbasiyah

Biografi: Wafayat al-A’yan karya Ibnu Khalikan

“Saya tidak menyebutkan para Sahabat dan Tabi’in kecuali segelintir orang yang berpengaruh,” tulis Ibn Khalikan, “Begitu juga para khalifah tidak saya tulis biografinya karena mencukupkan dengan karangan-karangan yang sudah ada.” Bagi sebagian orang hal ini mungkin nilai minus dari buku ini, tapi bagi sebagian lainnya ini menjadi nilai plus karena membuat buku ini tidak terlalu “tebal” (delapan jilid). Buku ini sendiri ditulis dengan informasi yang cukup lengkap disertai dengan urutan alfabetik sehingga memudahkan pencarian.

Bacaan alternatif tentang biografi para tokoh Islam selain buku ini adalah Siyar A’lam Nubala’ miliki Adz-Dzahabi dan Al-Wafi karya Ash-Shafadi. Keduanya hampir tiga puluh jilid. Khusus untuk Siyar A’lam Nubala’, Adz-Dzahabi dikenal kurang obyektif. Hal ini bisa dibuktikan saat beliau mengulas biografi, taruhlah sebagai contoh, mufassir besar Fakhruddin Ar-Razi. Beliau sedikit kurang obyektif untuk ukuran buku biografi dengan mengkritik Ar-Razi habis-habisan.

Genealogi: Al-Ansab karya as-Sam’ani
Genealogi nisbat (nisbat bisa diartikan secara bebas sebagai marga) adalah salah satu cabang penting untuk mempelajari tarikh Islam.

Dengan nisbat asal-usul, leluhur, suku, kota asal, tempat tinggal, atau pekerjaan seseorang bisa diketahui. Misal Muhammad bin Idris diberi nisbat Asy-Syafi’i karena berasal dari kakeknya, seorang pemuka Quraish bernama Syafi’. Atau Abu Hamid Muhammad bin Muhammad dipanggil dengan Al-Ghazali (penenun) karena ayahnya bekerja sebagai tukang tenun. Begitu juga dengan nama-nama lain.

Baca juga:  Tips Nyaleg ala Kitab Alfiyah Ibnu Malik

Maka ilmu genealogi menjadi cukup penting untuk mencari informasi tentang tokoh-tokoh. Kitab Abu Sa’d As-Sam’ani ini adalah salah satu yang terlengkap dalam bidangnya. Menariknya, sebagaimana dicatat oleh As-Suyuthi dalam At-Tahaduts, meskipun Abu Sa’d menulis nisbat para tokoh hingga tiga belas jilid, Abu Sa’d sendiri tidak tahu kenapa keluarganya bermarga As-Sam’ani.

Di antara karya lain dalam bidang ini yang cukup masyhur adalah Ansabul Asyraf karya al-Baladzuri dan Ansabul ‘Arab karya Ibnu Hazm.

Geografi: Mu’jamul Buldan karya Yaqut Al-Hamawi

Kitab yang dicetak sebesar tujuh jilid ini dikarang pada sekitar tahun 1220 M. Kitab ini merupakan ensiklopedia nama-nama daerah yang saat itu dijangkau oleh orang-orang muslim. Di dalamnya banyak berisi biografi tokoh yang berasal dari kota tersebut atau bagaimana kota tersebut dieja.

Baca Juga

Terkadang juga Yaqut menambahkan keterangan bahwa kota itu disebut dalam sebuah syair yang masyhur. Di dalamnya juga banyak informasi mengenai ukuran-ukuran jarak seperti farsakh, mil, barid, dan lain-lain.

Buku geografi lain yang cukup masyhur adalah al-Buldan milik al-Ya’qubi atau al-Masalik wal Mamalik milik Ibnu Khurdadzbih. Ada pula Masalikul Abshar fi Mamalikil Amshar karya al-‘Umari.

Baca juga:  Ikan Asin, Terasi, Epidemi di Hijaz

Buku setebal dua puluh tujuh jilid ini tidak membahas geografi secara khusus, namun di jilid-jilid awal cukup banyak informasi mengenai geografi. Dalam beberapa kesempatan, Kiai Maemun Zubair menyampaikan kota-kota yang mungkin tidak pernah didengar oleh para santri. Saya menduga, rujukannya adalah Mu’jamul Buldan ini.

Tarikh sastra: Mu’jamul Udaba’ karya Yaqut al-Hamawi (1179-1229 M)
Buku tujuh jilid ini berisi tentang biografi para sastrawan lengkap beserta beberapa syair masyhurnya. Namun editor (muhaqqiq) berkata ada cukup banyak kesalahan informasi dalam buku ini, sehingga sebagai alternatif penulis mengajukan beberapa buku sejenis.

Adalah kitab Al-Aghani karya Abul Faraj Al-Ashfihani, yang dimaksudkan untuk merevisi kesalahan-kesalahan Mu’jamul Udaba’. Al-Aghani adalah sebuah ensiklopedia sastra Arab yang besar. Di dalamnya memuat banyak biografi penyair dan kisah-kisahnya yang lucu, indah, cerdik, atau bahkan mengerikan.

Mu’jamul Udaba’ dicetak dalam dua puluh lima jilid cukup tebal. Namun ada catatan dari para ulama puritan. Mereka tidak menyarankan membacanya karena banyak berisi anekdot, khamriyat (mengandung minuman keras), serta nyanyian-nyanyian, beberapa ulama puritan melarang membacanya.

Selain dua buku di atas, ada karya lain yang lebih “kecil” yakni Yatimatud Dahri karya ats-Tsa’alibi. Sama seperti al-Aghani, buku ini berisi tentang informasi dari para penyair serta sastrawan terkemuka di masa itu.

Demikianlah lima buku sejarah yang harus dimiliki. Anda tertarik yang mana?

Lihat Komentar (0)

Komentari