Sedang Membaca
Inilah Kitab Pertama dalam Sejarah Islam
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Inilah Kitab Pertama dalam Sejarah Islam

Kholili Kholil

Pria itu mabuk berat. Untuk berjalan sempoyongan saja dia tak sanggup. Sebagaimana kata para bijak bestari, mabuk selalu mendatangkan malapetaka. Dan memang benar, hangover membuat pria itu mencari perempuan untuk melanjutkan “mabuknya”. Singkat cerita bertemulah dia dengan perempuan yang diinginkan. Siapa?

Sumayah. Sumayah adalah istri Ubayd. Namun pemabuk itu tak peduli, dia mengencaninya hingga mengandung seorang anak yang diberi nama Ziyad.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Kisah yang diriwayatkan adz-Dzahabi dalam Mizanul I’tidal di atas adalah kisah Abu Sufyan, ayah Khalifah Muawiyah. Kisah ini sendiri sangat sulit untuk diverifikasi kebenarannya.

Namun yang jelas anak itu, Ziyad, mengalami masa kecil yang cukup menyakitkan karena tidak diketahui asal-usulnya. Sebagaimana sudah maklum, orang Arab sangat mendewakan silsilah. Maka ketika Ziyad tidak diberi embel-embel ibnu atau bin (artinya: putra dari .. ) Ziyad mengalami bully-an kawan sebayanya.

Akhirnya anak itu diberi nama lengkap Ziyad bin Abihi, secara harfiyah berarti Ziyad anak bapaknya. Karena inilah dia sangat termotivasi untuk meneliti silsilahnya.

Maka ketika Ibnu Nadim dalam katalog bukunya al-Fihrist (The Catalogue) mengatakan bahwa Ziyad memiliki buku tarikh, para sejarawan menduga kuat bahwa buku itu menjelaskan tentang silsilah. Dan memang setelah buku itu ditulis, kisah tentang Abu Sufyan yang bercinta dengan ibu Ziyad, Sumayah, tersebar luas. Muawiyah bin Abu Sufyan, khalifah saat itu, merasa terpanggil untuk menjamu saudara tirinya ini.

Baca juga:  Nabi Muhammad: Lagu dan Cerita

Syahdan, buku Ziyad itu menjadi buku tarikh pertama dalam sejarah Islam. Namun sayang buku itu hilang dan sama sekali tidak ada informasi tentang isinya. Para sejarawan hanya menduga bahwa isinya tentang genealogi.

Namun Daghfal bin Hanzhalah telah lama menjadi rujukan orang Arab tentang silsilah. Hanya dengan menyebut kakeknya, seseorang akan bisa ditebak oleh Daghfal: dari suku, klan, atau kabilah apa dia berasal.

Ketika Muawiyah kagum akan pengetahuan nasabnya ini, Daghfal dengan sedikit angkuh sekaligus merendah menjawab, “Itu semua berkat lisan yang sering bertanya dan hati yang berpikir.”

Baca juga:

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Namun bukan genealogi atau nasablah yang menjadi tema bukunya. Justru kisah tentang majlis pemuka Arab dan beberapa folklore yang menjadi fokusnya dalam bukunya. Namun sayang buku ini hilang entah ke mana. Beruntung kumpulan risalah berjudul Tuhfah Bahiyyah pernah menginformasikan karangan Daghfal ini dan mengutip sedikit ceritanya. Sehingga bisa ditetapkan bahwa bukunya merupakan buku tarikh kedua dan ta’rikh adabi (sejarah sastrawi) pertama.

Daghfal sendiri adalah guru Hasan Basri dan Ibnu Sirin. Namanya tercantum sebagai perawi dalam Sahih Bukhari. Yaqut Hamawi dalam Mu’jamul Udaba’ menyebutkan bahwa Daghfal ikut berperang melawan Khawarij saat Perang Daulab berlangsung. Dan ia termasuk orang yang gugur tenggelam dalam sungai Dijil.

Baca juga:  Mencari Historiografi Islam Indonesia yang Mandiri

Sementara Ibnu Abbas adalah sahabat Nabi saw yang masih junior. Ketika kecil Nabi pernah berdoa, “Ya Allah pintarkanlah ia dalam agama dan berilah ia ilmu takwil.” Dus, beliau menjadi penafsir hebat dan menjadi rujukan sahabat lain yang lebih senior dalam agama.

Adalah Ibnu Sa’d dalam thabaqat-nya yang memberi kita informasi bahwa beliau memiliki majelis khusus tentang sejarah. Saat kuliah-kuliah itu beliau berikan kepada murid-muridnya, salah satunya mencatat sembunyi-sembunyi dan membukukannya. Namun sangat sedikit sekali informasi tentang buku tarikh beliau. Ibnu Nadim pun tidak memiliki informasi tentang buku ini.

Namun jika Ibnu Sa’d benar, maka buku Ibnu Abbas ini menjadi buku tarikh Islam ketiga. Namun sayang buku-buku itu hilang. Buku tarikh, atau sejarah, yang dikarang di masa selanjutnya sedikit beruntung karena masih tersimpan naskah-naskahnya di perpustakaan-perpustakaan seperti tarikh Ubayd bin Syariyah yang buku tarikhnya menjadi buku tarikh Islam tertua yang masih ada.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top