Sedang Membaca
Kisah Sufi Ahmad bin Khuzruya
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Kisah Sufi Ahmad bin Khuzruya

Nur Hasan

Ahmad bin Khuzruya adalah seorang terkemuka di kota Balkh, ia dekat dengan tokoh-tokoh sufi seperti Abu Yazid al-Busthami dan Hatim Al-Asham. Ahmad Khazruya juga mempunyai banyak murid yang bisa berjalan di atas air.

Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Tadzkiratul Auliya’ karya Fariduddin Atthar, suatu ketika putri pangeran kota Balkh yang bernama Fathimah. Mengirim utusan kepada Ahmad Khuzruya disertai dengan sebuah pesan. Pesan tersebut berisi “Lamarlah aku kepada ayahku”.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Akan tetapi pesan Fathimah tersebut, tidak mendapat balasan dari Ahmad Khuzruya. Sehingga pada akhirnya, Fathimah kembali mengirim utusan dengan membawa pesan yang isinya, “Ahmad, kusangka engkau lebih berjiwa satria daripada yang sebenarnya. Jadilah seorang pembimbing, janganlah menjadi seorang pembegal”.

Kemudian, Ahmad Khuzruya mengirimkan wakilnya untuk memberi tau akan melamar Fathimah, dan kemudian menghadap ayahnya. Ayah Fathimah yang menginginkan keridaan dari Allah SWT, akhirnya menyerahkan putrinya kepada Ahmad Khuzruya.

Fathimah merupakan sosok sufi perempuan yang menjadi guru para sufi, bahkan juga guru spiritual sang suami yaitu Ahmad Khuzruya.

Ahmad Khazruya merupakan sosok sufi yang sakti, dan telah banyak mengajarkan kebaikan kepada banyak orang. Suatu ketika ada seorang pencuri yang masuk ke dalam rumah Ahmad Khuzruya, sang pencuri yang mau mencuri kebingungan karena setiap sudut rumah yang telah diperiksanya, tidak ada satu pun barang yang bisa diambil.

Baca juga:  Memasuki Dimensi Tasawuf, Melibas Profanitas Duniawi

Ketika sang pencuri hendak pergi meninggalkan rumah Ahmad Khuzruya, karena frustrasi tidak ada yang bisa dirampok. Ahmad khuzruya melihatnya, kemudian memanggil pencuri tersebut. “Wahai anak muda, ambillah ember dan timbalah air dari sumur itu. Kemudian bersucilah dan salat. Jika nanti kaudapatkan sesuatu, akan kuberikan padamu supaya engkau tidak meninggalkan rumah ini dengan tangan kosong”.

Sang pencuri yang masih muda tersebut melakukan apa yang diperintahkan oleh Ahmad Khuzruya. Ketika hari sudah siang, datanglah seorang laki-laki yang membawa emas sebanyak 100 dinar untuk Ahmad Khuzruya. Kemudian Ahmad Khuzruya memberikan emas tersebut kepada pemuda yang mau mencuri tadi.

“Ambillah uang ini sebagai ganjaran salatmu tadi malamm,”ucap Ahmad Khuzruya kepada sang pencuri. Sesaat itu juga, sang pencuri tubuhnya gemetar, menangis, dan berkata, “Aku telah memilih jalan yang salah. Baru satu malam berbakti kepada Allah SWT, sudah sedemikian banyaknya karunia yang dilimpahkan-Nya kepadaku”.

Sang pencuri kemudian bertaubat dan kembali kepada jalan yang benar. Dia tidak mau menerima emas yang diberikan oleh Ahmad Khuzruya, dan pada akhirnya mantan pencuri tersebut menjadi murid Ahmad Khuzruya.

Begitulah dakwah Islam yang dilakukan oleh para ulama yang benar-benar ulama, berdakwah dengan menggunakan hati yang ikhlas. Melakukan dakwah dengan mauidhotul hasanah, bukan dengan menghujat walaupun yang didakwahi adalah pencuri yang mau merampok rumahnya.

Baca juga:  Sabilus Salikin (104): Macam-macam Zikir Tarekat Histiyah (2)

Mereka melakukan amar ma’ruf dengan perbuatan yang ma’ruf, bukan melakukan amar ma’ruf dengan perbuatan yang munkar seperti kekerasan dan lain sebagainya.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Lihat Komentar (2)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top