Pengasuh PP. Darul Ulum Karangpandan Pasuruan, Alumni PP Darul Ulum Jombang

Hidup itu Anugerah, Maka Bersyukurlah

Satu cara mudah menikmati hidup dan kehidupan adalah dengan menjadikannya sebagai anugerah. Fokus pada apa yang sudah diterima, tidak “julid” pada yang di luar sana, apalagi sampai gelisah kala orang lain mendapat anugerah.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW pernah bersabda begini.

Buku Kiai Said

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ (رواه مسلم)

“Lihatlah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan bentuk rupa) dan janganlah engkau melihat orang yang berada di atasmu (dalam hal tersebut) karena hal itu akan menjadikanmu tidak meremehkan nikmat Allah”.

Mengutip kata bijak para bijak. Sudah di gunung, kau rindukan pantai. Setibanya di pantai, kau inginkan gunung. Saat kemarau, kau tanya kapan hujan dan saat hujan, kau tanyakan kapan kemarau.

Sudah tenang di rumah, ingin pergi. Begitu pergi, kau inginkan rumah. Saat bujangan mengeluh mencari istri dan saat sudah punya istri mengeluhkan masalah dengan istri.

Saat belum punya anak mengeluh dan ketika sudah dapat anak mengeluh masalah anak, pekerjaan, penghasilan. Mengeluh dan terus mengeluh. Itulah manusia yang memang tercipta banyak berkeluh kesah.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Allah swt berfirman:

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (١٩) إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (٢٠) وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (٢١)
Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah dan apabila mendapat kebaikan dia menjadi kikir. [QS Al-Ma’arij : 19-21]

Baca juga:  Kisah Syekh Abu Bakar bin Salim dan Perempuan yang Bernazar

Lantas kapankah manusia mendapat kebahagiaan jika nikmat Allah selalu ia abaikan? Bukankah telah banyak sekali nikmat Allah yang telah diberikan?

Maka sadarilah bahwa “Tak ada manusia yang terlahir sempurna. Jangan kau sesali segala yang telah terjadi. Syukuri apa yang ada. Hidup adalah anugerah. Tetap jalani hidup ini. Melakukan yang terbaik. Tuhan pasti kan menunjukkan Kebesaran dan kuasanya bagi hambanya yang sabar dan tak kenal putus asa” (kutipan lagu grup d’Masiv)

Bersyukur adalah perilaku yang sulit sehingga Allah swt berfirman:

وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
Sedikit dari hamba-Ku yang bersyukur. [QS Saba’ :13]

Namun demikian bukan berarti kita menjadikannya sebagai dalil untuk mengabaikan syukur.

Kewajiban kita berusaha sesuai dengan kemampuan untuk mensyukuri atas semua nikmat-Nya sebagaimana metode yang diajarkan oleh Nabi SAW pada hadits di atas.

Bersyukur tidak harus menunggu kita menjadi raja dan kaya raya seperti Nabi Sulaiman AS.

Lagi-lagi para bijak berkata. “Selembar daun yang kecil tidak mungkin bisa menutupi bumi yang luas ini bahkan sekedar untuk menutupi telapak tangan kita. Namun jika daun kecil ini nempel di mata kita, maka tertutuplah semua belahan bumi yang terbentang luas dengan daun yang sama”.

Selembar daun nan kecil itulah perumpamaan sifat syukur kepada Allah. Jika kita bisa bersyukur maka nikmat yang kecil akan terasa besar dan menjadikan makanan kaki lima serasa menu bintang lima.

Baca juga:  Budaya Sedekah Laut dalam Tinjauan Hadis

Allah swt berfirman:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti adzab-Ku sangat berat.’” [QS Ibrahim : 7]

Adzab atas kekufuran alias tidak mau bersyukur ini digambarkan oleh Nabi SAW :
أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ قِيلَ أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ قَالَ يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“Neraka telah diperlihatkan kepadaku dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita karena mereka kufur.”

Para Sahabat bertanya: “Apakah disebabkan kufurnya mereka kepada Allah?” Rasul menjawab: “(Tidak), mereka kufur kepada suaminya dan mereka kufur kepada kebaikan.

Seandainya seorang suami dari kalian berbuat kebaikan kepada isterinya selama setahun, kemudian isterinya melihat (sedikit) perbuatan jelek pada diri suaminya, maka dia mengatakan, ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan pada dirimu sama sekali.’” [HR Bukhari]

Balasan itu tidak melulu di akhirat, di dunia pun seorang yang kufur nikmat akan merasakannya seperti Qarun yang sombong karena memiliki harta berlimpah dan ia berkata:

“Sesungguhnya aku memiliki banyak harta karena ilmu yang ada padaku.” [QS Al-Qashash : 78] iapun tidak mensyukuri nikmat yang telah diberikan kepadanya. Maka Allah timpakan adzab yang pedih.

Baca juga:  Membatalkan Ibadah Haji Tapi Mendapat Pahala Haji

Allah swt berfirman :

فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ

Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap adzab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).” [QS Al-Qashash : 81].

Maka marilah kita syukuri anugerah nikmat Allah. Setidaknya dengan tiga hal ini.

Pertama, bersyukur dengan perkataan (bil lisan) dengan memperbanyak membaca hamdalah dan menceritakannya kepada orang lain serta menjauhi keluh kesah kepada manusia.

Kedua, bersyukur dengan perilaku (bil arkan) yaitu dengan banyak berbuat ketaatan dan kebaikan.

Dan ketiga, bersyukur dengan hati (bil jinan) yakni dengan meyadari sepenuhnya bahwa hanya Allah semata yang memberikan semua kenikmatan kepadanya, bukan yang lain.

Wallahu A’lam… Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang selalu bersyukur dan mendapatkan tambahan nikmat-Nya. Aamiiin

Buku Tasawuf

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top