Sedang Membaca
Sains, Puisi, Visi Kehidupan
Penulis Kolom

Menempuh Studi di Jurusan Fisika Universitas Sebelas Maret Surakarta sejak 2014. Menulis Buku Manifesto Cinta (2017) dan Bola Fisika (2018).

Sains, Puisi, Visi Kehidupan

Sains, Puisi, Visi Kehidupan

Semesta terus melahirkan pertanyaan. Penyangsian atas berbagai realitas adalah kesadaran manusia bahwa tiap denyut kehidupan tiada lain adalah upaya untuk mengerti, memahami, dan menafsirkannya. Alam semesta terus mengabarkan gejala pada tataran kosmik dalam bentuk dialog maupun percakapan intim kepada manusia. Pesan, simbol, hingga semiotika dengan berbagai kejutannya menjadi maujud percakapan itu dalam proses kesadaran akan hadirnya ilmu pengetahuan.

Sains lahir bekerja pada dua wilayah percakapan: bertanya dan menjawab. Terhadap segala peristiwa alam semesta, sains terus melakukan kedua upaya itu untuk membuka tabir dari realitas yang ada. Kita teringat sebuah karya dari astronom perempuan Amerika Serikat, Ann Druyan, Kosmos: Aneka Ragam Dunia (Gramedia Pustaka Utama, 2020). Di buku yang juga merupakan sekuel dari salah satu karya suaminya, Carl Sagan berjudul Kosmos, Ann Druyan menulis: Sebelum ada sains, kita tak punya cara untuk menguji cerita kita terhadap realitas.

Realitas mengandaikan terus disangsikan. Sains mengidentikkan dirinya dengan keberadaan cara atau lebih dikenal sebagai metode. Metode itu terus diuji sampai berkembang ke arah lengkap dan sempurna. Kendati hadirnya juga tak menyajikan kebenaran mutlak. Pada kenyataannya, sains kemudian tidak menjadi sekadar kumpulan data dan fakta dengan situasi kerumitan-kerumitannya. Mengacu perkataan Carl Sagan, ia tidak lain adalah sebuah cara berpikir. Ini penting untuk direnungi lebih lanjut.

Baca juga:  Menyimak Salafi di Channel Youtube

Tatkala menyimak tulisan akademisi Institut Teknologi Bandung, Prewana W Premadi di Harian Kompas (13/11/2021), agaknya ia ingin menekankan hal itu. Esainya berjudul Mengurangi Kesenjangan antara Kemajuan Sains dan Pendidikan Sains memaparkan kondisi dan upaya alternatif dalam menjawab kesenjangan dalam dinamika sains dan teknologi. Ia berangkat dengan sedikit kerasaan pada tilikan di bangsa Indonesia saat ini. Bahwa dengan merebaknya teknologi maju dalam kehidupan, terkadang tak dibarengi kesadaran kolektif akan pemahaman terhadap sains itu sendiri.

Gagasan alternatif diungkapkan berupa pembentukan fasilitator pendidikan sains yang  bertugas untuk menyiapkan bahan pendidikan untuk umum dan sekolah, bahkan juga membantu guru untuk proses pembelajaran di kelas. Jelasnya, fasilitator pendidikan sains itu juga berperan sebagai komunikator sains yang mengintegrasikan berita sains terkini dengan pembelajaran sains untuk publik. Upaya pengarusutamaan sains dalam publik tersebut mengacu perhatian pada peranan institusi sains yang membuat divisi khusus untuk fasilitator tersebut.

Puisi Semesta

Dorongan untuk pengarusutamaan sains dalam masyarakat tersebut tentunya perlu dijadikan gayung bersambut oleh banyak kalangan. Baik itu lembaga penelitian, akademisi, kelompok pakar, kalangan pendidik, hingga pemerintah dalam menyikapi berbagai perubahan sosial dalam perkembangan zaman. Sains menjadi sebuah kesadaran kolektif masyarakat sebagai salah satu modal dalam mengarungi kehidupan sehari-hari. Sebab, hari-hari tiap orang tak akan terlepas akan peristiwa penting yang mengharuskan diri untuk memahami gejala yang ada.

Baca juga:  Visi Pendidikan Islam

Sains akan menghadirkan imajinasi terhadap sisi keindahan yang dimunculkan sebagai dampak kehadirannya sebagai cara berpikir. Ia juga berperan dalam wilayah praksis, bagaimana seseorang menjalankan laku kehidupan didasarkan pada hasil kreasi berpikir ilmiah. Teringat ungkapan salah seorang saintis, Richard Dawkins lewat sebuah karyanya, The Magic of Reality: Sihir Realitas (2021) tentang sihir puitis. Ia lebih menekankan penggunaan frasa itu ketimbang dua frasa lain: sihir supranatural dan sihir panggung.

Bahwasannya dalam ingatan banyak orang memahami peristiwa alam kerap melahirkan mitos, baik itu terkait dengan roh jahat, tukang sihir, kutukan, dan mantra. Dawkins menunjukkan argumennya bahwa pemaknaan sihir puitis itu sebagai keindahan yang mestinya disadari tiap diri kita. Ia menekankan, ada penjelasan alami berupa penjelasan-penjelasan yang bisa dipahami, diuji, dan dipercaya. Sains terus mencoba untuk mendobrak segala hal belum terpahami dengan pembuktian masuk akal..

Visi Kehidupan

Hanya saja, mesti dipahami juga bahwa sains tak bisa berdiri dan bekerja sendiri dalam mengarungi kompleksitas peradaban zaman saat ini. Ia mesti mau menjalin dengan lingkup lain dalam upaya  untuk mengejahwantahkan visi kehidupan bersama. Ilmu pengetahuan yang terus diuji dengan pendekatan baik itu pemodelan, uji laboratorium, dan sederet koreksi untuk mengetahui kekokohan metode dalam mandat bagaimana menjadikan manusia terus bermartabat.

Baca juga:  Ijtihad, Taklid, dan Paradoks dalam Beragama

Pada akhirnya, manusia sebagai salah satu subjek dalam kehidupan ini menjadi sadar akan berbagai hal di dalamnya untuk jalin-menjalin berbagai dimensi maupun hubungan yang harmonis dan damai, baik itu kepada Sang Pencipta, sesama manusia, dan alam semesta. Jangan sampai kemajuan ilmu pengetahuan dengan progresivitas yang menghasilkan teknologi menjadi benalu yang memecah belah antara satu dengan lainnya.

Jalan panjang sains membutuhkan komitmen, kerendahan hati, dan keberanian kolektif dari tiap individu. Itu tak lain adalah kemauan untuk terus menyangsikan segala hal dalam upaya pendayagunaan akalbudi. Manusia bertanggung jawab penuh dalam hal ini dengan berbagai peran dan andilnya, baik kaitannya dengan profesi, lembaga, maupun kedudukannya dalam struktur masyarakat. Tiap orang punya porsi tersendiri untuk membangun kesadaran sains sebagai kebutuhan dalam menjalankan kehidupan di hari-hari saat ini dan untuk masa depan.[]

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top