Avatar
Penulis Kolom

Penulis adalah Pengajar di UIN Raden Intan Lampung.

Membudayakan Sikap Kritis di Dunia Pendidikan

8 Bentuk Cara Memvariasikan Gaya Mengajar Guru Di Kelas

Sikap kritis sangat diperlukan dalam konteks pendidikan karena berkaitan dengan perkembangan potensi peserta didik. Sebagai guru sudah semestinya memberi ruang untuk siswa agar lebih kritis dengan pendidikan mereka termasuk soal ilmu pengetahuan serta aturan-aturan pendidikan yang mungkin hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu dan terkadang merugikan pihak lain.

Guru tak hanya transfer of knowledge, tetapi juga bertanggung jawab dalam pengembangan sikap dan budaya. Kekuasaan dan potensi guru menjadi salah satu syarat untuk mencapai keberhasilan pendidikan. Guru adalah pemegang kunci utama dalam meningkatkan kognisi disamping pembinaan mental dan karakter peserta didik.

Namun faktanya, tak semua guru mampu menciptakan budaya kritis di kalangan siswa. Padahal mereka memiliki potensi untuk bersikap kritis terhadap problematika pendidikan dewasa ini. Alih-alih siswa kritis, malahan dijobloskan kedalam ruang BK dengan pasal “membangkang pada guru”. Sangat disayangkan, tindakan ini dapat mematikan nalar dan membunuh karakter siswa.

Fenomena ini sering ditemukan di dunia pendidikan, baik pendidikan umum maupun pendidikan pesantren, budaya kritis kurang diasah dan kurang diperhatikan, bahkan budaya ini dipandang sebelah mata. Bagaimana tidak, bersikap kritis malah dianggap pendosa dan tak punya etika.

Jika bicara dalam konteks pendidikan pesantren, maka pendidikan ini identik dengan ajaran agama yang tak luput dari dogma-dogma. Doktrin menjadi santapan sehari-sehari oleh kaum santri. Sikap kritis dan kebebasan berpendapat menjadi hal yang tabu dan tak penting untuk diwarisi.

Doktrin menjadi pembatas bagi santri saat menuangkan idenya. Pendidikan ini kurang memberi ruang untuk dialog dan diskusi yang seimbang antara siswa dan guru. Mereka tidak dibiasakan untuk bersikap kritis termasuk soal perdebatan atas produk pemikiran masa lalu. Padahal zaman telah berubah, relevansi kebijakan dan pemikiran perlu dipertanyakan.

Baca juga:  Tantangan Kiai dan Pemerintah dalam Menghadapi Kekerasan Seksual

Ketidakkuasaan siswa dalam bersikap kritis sehingga menjadikan pikiran mandeg alias “buntu berpikir” atas doktrin yang ditelan mentah oleh kaum santri, misalnya “pendapat guru adalah keputusan final”, “ulama masa lalu lebih baik dari santri hari ini”, “guru paling dekat kepada Tuhan”, sehingga dianggap paling dekat dengan kebenaran yang tak bisa diganggu gugat.

Fakta-fakta ini dapat ditemukan di pelbagai pendidikan umum terutama pendidikan pesantren di Indonesia. Kekuasaan sepenuhnya berpusat pada guru yang membuat siswa tidak berkembang dengan baik. Kreativitas siswa tidak terasah akibat doktrin yang terlalu didengung-dengungkan.

Belum lagi siswa yang tak terima pendapat guru malah dianggap tak punya sopan santun bahkan dihakimi sebagai “calon penghuni neraka”. Sehingga mereka ketakutan dan memilih untuk diam daripada bungkam atas kebijakan pendidikan dan ilmu pengetahuan, atas dasar itu pula mereka menjadi tertutup dan sulit mengambil keputusan.

Pembatasan sikap kritis ini dapat membunuh kreativitas siswa. Mereka kesulitan untuk menumbuhkembangkan potensi serta karakter yang diharapkan. Menurut Muzamil, doktrin-doktrin seperti diatas tidak akan mengarah pada perkembangan siswa dalam hal understanding dan construction of the knowledge. Bahkan mereka akan mudah terprovokasi oleh agenda-agenda kepentingan politik praktis yang suatu saat menemui mereka.

Tidak semua siswa mampu melangkah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Jika perguruan tinggi adalah tempat mengasah nalar dan tempat membudayakan sikap kritis. Banyak siswa yang putus sekolah dengan berbagai faktor dan alasan, sebagian siswa hanya sanggup di Sekolah Dasar, sebahagian hanya sampai di tingkat SMP, dan tidak sedikit hanya sanggup bersekolah di tingkat SMA.

Baca juga:  Warkop, Warkopi, dan Sekitar Humor

Oleh sebab itu, guru sebagai pemeran utama pendidikan memiliki peran penting dalam memperhatikan problematika ini dari semua jenjang pendidikan mulai tingkat yang paling bawah sampai tingkat yang paling tinggi berusaha untuk membudayakan kebebasan sikap kritis ini. Dengan begitu siswa akan terlatih mengasah pola pikir dan memberi argumentasi serta menanyakan hal apapun yang terlintas dipikirannya.

Jika sikap kritis ini terus diasah dan dirawat akan menciptakan sebuah budaya baru di dunia pendidikan yang dapat mendukung perkembangan pribadi siswa sehingga sadar terhadap keputusan-keputusannya dan bertanggung jawab sepenuhnya atas dirinya tanpa terombang-ambing oleh keraguan dan ketakutan.

Peserta didik juga akan mampu keluar dari keterkungkungan produk masa lalu, yang mungkin terlalu legalistik-formalistik yang hanya berorientasi pada doktrin tanpa memperhatikan kondisi dan situasi. Karena saat ini, siswa memiliki tantangan yang berbeda, problematika yang berbeda, potensi yang berbeda, karena perubahan zaman yang semakin canggih dan modern.

Dalam hal ini pula, Menteri Nadiem Anwar Makarim menggaungkan dan menawarkan kurikulum dan metode baru dalam proses belajar mengajar yang ia sebut dengan “Merdeka Belajar”. Metode ini mengutamakan kebebasan berpikir dan berpendapat dengan menggantikan metode lama.

Selama ini proses belajar mengajar terlalu fokus pada satu arah yang berpusat kepada guru dan banyak menghabiskan jam pelajaran didalam kelas. Namun kali ini, proses pembelajaran diimplementasikan diluar kelas (outing class) dengan memberi ruang diskusi agar siswa lebih proaktif menggali potensinya. Metode ini dimaksudkan agar peserta didik dapat mengaktualisasikan dirinya dengan lingkungannya.

Baca juga:  Mengantisipasi Serangan Balik Islam Politik

Kemerdekaan berpikir ini harus didahului oleh guru sebelum mengajarkannya kepada siswa. Guru berusaha mengubah paradigma termasuk metode ceramah yang diterapkan selama ini. Tawaran ini sangat mendukung pada pembentukan karakter siswa yang mandiri, berani, beradab, sopan, cerdas, dan berkompetensi yang siap menghadapi tantangan realitas kehidupan masa kini.

Oleh karenanya, sudah saatnya guru membuka ruang dialog dan diskusi tanpa harus mengeksploitasi wacana-wacana doktrin demi kepentingan tertentu. Siswa diberi kesempatan untuk mengerahkan segala potensinya dengan beragam cara salah satunya adalah membudayakan sikap kritis di dunia pendidikan.

Sebagai penutup, meminjam bahasanya Michel Foucault, pengetahuan (knowledge) dan kekuasaan (power) sangatlah berkaitan erat. Bentuk dominasi modern kedua hal ini termanifestasi dalam bentuk yang tak terlihat terutama wacana-wacana dan doktrin-doktrin yang banyak digaungkan oleh guru sebagai instrumennya demi kepentingan dan kekuasaan semata. Oleh sebab itu, guru-lah yang menjadi titik tolak ukurnya.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top