Kenangan pada Alquran, dari Tan Malaka hingga Pram

Bandung Mawardi

Pada 1919, terbit buku autobiografi garapan Amiroeddin berjudul Amiroeddin. Semula, buku itu berbahasa Jawa. Edisi terjemahan ke bahasa “Melajoe” berhuruf Latin dikerjakan oleh BJ Visscher, R Sasrasoegonda, dan M Abdullah. Buku diterbitkan oleh G Kolf & Co, Batavia. Kita bisa menganggap buku autobiografi itu termasuk pemula di tanah jajahan, mendahului buku Kenang-Kenangan Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat, Balai Poestaka, 1936.

Sejak lahir dan bertumbuh menjadi remaja, Amiroeddin sering berpindah di sekian desa dan kota di Jawa, menuruti kepindahan dinas sang bapak. Pengalaman hidup di pelbagai tempat menghasilkan percampuran kesan dan kenangan berkaitan sekolah, belajar mengaji Alquran, permainan, makanan, busana, dan bahasa.

Pada saat tinggal di Purworejo, Amiroeddin sudah berusia 11 tahun. Ia mengenang rutinitas di tahun 1876. Sang bapak ingin Amiroeddin pintar dan beriman.

Ia menulis: “Pada poekoel lima pagi-pagi disoeroehnja akoe membatja Koer’an sampai poekoel enam, dan pada poekoel toedjoeh akoe masoek sekolah Belanda, dan habis makan siang akoe memboeat pekerdjaan sekolah, dan habis itoe poela disoeroehnja akoe menoelis hoeroef Belanda dan Djawa, dalam boekoe, soedah itoe disoeroehnja akoe mengadji sampai poekoel setengah enam, dan apabila lampoe soedah dipasang, disoeroehnja membatja kitab bahasa Belanda dengan koeat soeara, kemoedian berganti poela membatja Koer’an sampai poekoel delapan.”

Keinginan bapak menjadikan anak itu insan beriman dan modern dijalankan dengan urutan kejadian dan jadwal ketat. Amiroeddin sering sedih dan lelah.

Di kalangan Islam, kemajuan di akhir abad XIX ditanggapi dengan impian-impian muluk. Bocah-bocah diusahakan mengikuti sekolah bentukan kolonial agar berilmu tinggi dan memiliki ijazah untuk bekerja. Impian diraih tanpa melupakan adat Jawa dan iman.

Baca Juga:  Humor Gus Dur tentang ABRI dan PKI

Pada waktu bersamaan, bocah mesti sanggup membentuk identitas diri dalam saling pengaruh Barat, Islam, dan Jawa. Amiroeddin mengalami masa terberat dalam pembelajaran tapi menuai hasil.

Pada usia 24 tahun dengan segala ilmu, Amiroeddin berhasil menjadi pegawai pemerintah di Jogjakarta. Kebiasaan mengaji Alquran turut membentuk pandangan hidup dan menguatkan Amiroeddin tetap memeluk Islam meski bekerja bagi pemerintah kolonial dan gandrung modernitas.

Pada masa dan tempat berbeda, Tan Malaka (1897-1949) mengingat masa bocah bertumbuh dengan kebiasaan mengaji Alquran. Di buku ampuh berjudul Madilog, Tan Malaka mengaku: “Masih ketjil saja sudah bisa tafsirkan Alquran.”

Tan memang lahir dan tumbuh di keluarga taat. Ketekunan belajar Alquran itu mempengaruhi pemikiran dan laku hidup sebagai penggerak politik kebangsaan. Tan Malaka saat bocah tampak cerdas.

Ia mengenang: “Tapi terdjemahan Alquran dalam bahasa Belanda dulu beberapa kali saja tamatkan, serta semua buku dan diktat almarhum Snouck Hurgronje tentang Islam sudah saja batja.” Tan Malaka serius belajar agama dan menilai diri dalam pengalaman beragama.

Pesona bahasa Arab dalam Alquran memicu pujian dan pemuliaan. Tan Malaka biasa menangis jika mendengar sang ibu bercerita tentang Muhammad.

Tan Malaka semakin mengerti Islam. Konsekuensi menekuni Islam: “Bahasa Arab sampai sekarang saja anggap sempurna, kaja, merdu, djitu, dan mulia.”

Masa bocah berarti masa mengaji Alquran dan membentuk diri sebagai insan beriman dan berilmu untuk mengubah nasib negeri jajahan. Pengalaman Tan Malaka itu tak sekeras dan seketat Amiroeddin. Mengaji Alquran jadi kehendak dan membahagiakan.

Baca Juga:  Mengumpat dan Melaknat menurut Imam Ghazali

Sepanjang hidup, Tan Malaka tetap mengakui Alquran adalah “sumber jang hidup.” Pengalaman itu sering diabaikan para pembenci Tan Malaka. Pada masa sekarang, orang atau ormas bercap Islam tetap saja menganggap Tan Malaka itu komunis, berarti pula ateis.

Baca Juga

Biografi pengarang kondang bernama Pramoedya Ananta Toer juga memuat urusan belajar atau mengaji Alquran. Pengakuan dan kenangan itu terdapat di buku berjudul Nyanyi Sunyi Seorang Bisu.

Dulu, para orang tua di Jawa memiliki kebiasaan menanam ketuban di tanah disertai surat bertuliskan huruf Jawa dan Arab. Konon, tradisi itu bermaksud agar bocah kelak mengerti adat Jawa dan beragama secara lurus. Kebiasaan itu berlaku di keluarga Pram.

Tahun demi tahun berlalu, Pram malah mengenang tugas menanam tuban para adik tak sesuai harapan. Secuil ejekan: “Ternyata tak ada di antara mereka pernah menulis surat dalam tulisan Jawa ataupun Arab. Menulis surat dalam huruf Latin pun banyak dengan mesin ketik.” Orang Jawa berhak memiliki impian muluk dengan mengadakan tradisi aneh meski dituduh Pram itu omong kosong.

Baca Juga:  Manuskrip Surat Pangeran Abu Hayat untuk Sultan Ternate

Kenangan agak mengandung marah mengarah ke cara belajar Alquran. Pada zaman kemajuan, tata cara belajar masih sering aneh. Pram mengingat: “… untuk dapat pandai mengaji Alquran anak-anak dianjurkan minum air abu kertas kitab suci. Aku pernah lakukan itu. Tetap tidak pandai mengaji. Dan orang yang memberi nasihat semacam itu sama sekali tidak merasa bertanggungjawab kalau nasihatnya tidak terbukti. Ia pun tak merasa perlu untuk minta maaf. Bahkan merasa diri keliru atau bersalah pun tidak. Mereka belum mengerti artinya tanggung jawab.”

Pengalaman saat bocah berperngaruh pada Pram saat tumbuh menjadi dewasa dan pengarang kondang. Pram tak bisa mengaji AlQuran dan tampak tak berminat mengerjakan studi Islam seperti Tan Malaka. Zaman telah berubah. Arah keilmuan dan ideologi pun menentukan pilihan Pram tekun menguak sejarah Nusantara meski agak kerepotan jika menjelaskan Islam.

Pengalaman masa bocah dan Alquran membentuk tiga pribadi berbeda, sejak akhir abad XIX sampai abad XXI. Amiroeddin jarang dikenali publik pembaca sejarah, sastra, dan politik di Indonesia. Tan Malaka tentu memiliki nama besar meski sempat ditepikan dan dihinakan pada masa Orde Baru. Pram selalu saja jadi idaman para kaum muda saat belajar sejarah melalui teks-teks sastra.

Tiga tokoh itu mengenang masa lalu, menuliskan dan berpesan pada kita tentang perbedaan tata cara belajar Alquran dan dalih-dalih menjadi insan di zaman modern. Begitu.

Lihat Komentar (0)

Komentari